Cleaning Servis Milik CEO

Cleaning Servis Milik CEO
Kejujuran Varo.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


.


.


"Apa! Varo junior?" Ana semakin menangis setelah mengetahui jika di dalam rahimnya sudah ada Varo junior, yang berarti dia tengah hamil anak pertama mereka.


Cup!


"Huem benar, sekarang kau tengah mengandung anak kita," Varo memberikan kecupan di perut Ana yang masih rata. "Jagan banyak pikiran, tidak ada yang terjadi diantara aku dan Izora." mendengar suaminya menyebut nama Izora mantan tunangannya Ana langsung mengeratkan genggaman tangannya yang di satukan oleh Varo dengan tangan dirinya.


Saat mereka masih berbicara, pintu ruangan tersebut di buka oleh pengawal, karena Dokter Rosita dan perawat sudah datang untuk memeriksa keadaan Ana. Sebab tadi Varo memencet tombol yang ada pada dinding kamar. Sebagai alat bantu para pasien yang membutuhkan bantuan dari team medis. Tidak perlu harus berlari keluar lebih dulu.


"Dokter," seru Varo sambil menggeser tubuhnya keatas, karena ingin memberi ruang pada Dokter Rosita yang mau memeriksa keadaan istrinya.


"Selamat siang, Nona. Maaf kita periksa dulu ya," ucap si dokter ramah.


"Iya Dok, silahkan." jawab Ana masih dengan suara lemahnya.


Lalu Dokter Rosita dan perawat yang mengikutinya mulai melakukan pemeriksaan kecil. Setelah menyimpan alatnya kembali. Dia pun berkata.


"Sekarang keadaan Nona lumayan baik, daripada tadi. Tapi tetap akan dirawat inap sampai keadaannya benar-benar pulih seperti semula." jelas Dokter Rosita dengan detil.


"Tapi bagaimana dengan keadaan calon anak kami, Dok?" tanya Varo yang juga mengkhawatirkan keadaan calon anak mereka.


"Untuk lebih jelasnya, setengah jam lagi kita akan membawa Nona Ana ke ruang pemeriksaan kandungan, karena Saya tidak ingin salah memberikan informasi."


"Oh," sahut Varo mengangguk karena apa yang dokter katakan benar juga. Apalagi ini adalah anak pertama mereka, dengan keadaan Ana yang pingsan sampai waktu hampir setengah hari sudah pasti anak mereka juga kena imbasnya.

__ADS_1


"Sekarang Nona makan dulu, biar perutnya tidak kosong. Tapi tidak boleh langsung banyak, karena takutnya lambungnya sakit lagi." ucap Dokter Rosita yang sudah sangat paham seperti apa kondisi Ana bila asam lambungnya lagi kambuh seperti saat ini.


"Iya Dok, terima kasih!" meskipun ada suaminya, Ana masih menjawab perkataan si dokter.


"Sayang, tempat tidurnya aku naikan sedikit ya, agar makanya bisa lebih nyaman," kata Varo kembali mendekati istrinya.


"Sus, tolong naikan ranjangnya," sebelum Varo melakukannya. Dokter Rosita sudah memerintahkan suster yang bertugas bersama dirinya.


"Bagaimana Nona Muda? Apa seperti ini sudah nyaman?" tanya si perawat.


Untuk beberapa saat Ana terdiam mendengar perawat menyebutnya nona muda.


"I--iya, sudah cukup!" jawabnya tergagap.


Varo yang mengerti hanya tersenyum kecil. Sambil tangannya merengkuh Ana untuk ia peluk dengan benar, karena tadi dia memeluk tubuh istrinya dalam keadaan baring.


"Dokter Rosita, suster, terima kasih! Saya akan menyuapi istri Saya dengan makanan yang sudah dibawakan dari rumah. Nanti jika sudah waktunya untuk periksa, datang lagi saja." kata Varo yang sengaja menekankan kata istri. Agar Ana tahu jika dia benar-benar sangat mencintai sang istri. Sekarang neneknya sudah mengetahui pernikahan mereka, sudah saatnya Alvaro mengumumkan pada masyarakat bahwa Ana adalah istrinya.


"Terima kasih!" Alvaro kembali mengucapkan kata terima kasih.


Setelah kepergian Dokter Rosita dan perawat. Pintu ruangan kembali lagi di tutup rapat. Tidak akan ada yang bisa masuk ke sana karena Varo menempatkan pengawal khusus.


"Sayang, ayo makan dulu, biar aku suapi." ucap Varo melepaskan pelukannya karena Ana mendorong minta di lepaskan. Tadi dia diam karena ada orang lain, sekarang hanya tinggal mereka berdua.


"Lepaskan aku!" sentak Ana yang kembali menangis, memikirkan Varo kembali bersama Izora.


"Tidak, aku tidak akan melepas mu, sebelum kau mau mendengarkan penjelasanku lebih dulu," Varo tetap menahan kedua tangan Ana yang minta dilepaskan. Namun, tidak dia turuti.


"Ana, sayang tolong beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya, hanya sebentar! Aku mohon, jangan seperti ini. Ingat ada anak kita didalam sini." Varo kembali menempel tangan mereka di atas perut Ana. Sama seperti tadi, ketika Ana masih dalam posisi baring.

__ADS_1


"Aku minta maaf, sudah membuatmu kecewa. Tapi percayalah, ini tidak akan terjadi lagi. Aku benar-benar terpaksa menemani Izora karena orang tuanya baru saja kembali dari luar negeri," melihat Ana mulai tenang setelah menyentuh perutnya yang masih rata. Alvaro langsung saja bercerita pada pokok permasalahannya.


Cup!


"Aku sangat mencintaimu, benar-benar sangat mencintaimu. Jadi tolong percayalah," setelah mencium kening istrinya. Alvaro duduk di sebelah Ana dengan kaki menjuntai ke bawah. "Sebelum aku selesai bercerita, jangan menyelanya. Agar tidak terjadi salah paham, oke?"


"Eum!" Ana mengangguk kecil. Dia memang harus mendengar perjelasan dari suaminya lebih dulu. Tidak boleh main ponis saja, mana tahu suaminya memang lagi terpaksa.


Alvaro tersenyum karena Ana mau memberinya kesempatan. Lalu sambil memeluk istrinya, pemuda tersebut mulai bercerita dari awal kedatangan Izora ke perusahaan. Bahkan Alvaro juga bercerita dan sekalian meminta maaf pada Ana. Tentang bibirnya yang dicium paksa oleh mantan tunangannya.


Tidak ada cerita yang ia lewatkan, karena dari awal menikah Varo sudah berjanji tidak akan pernah membohongi Ana. Terbukti hari ini, tentang dia yang berciuman pun di ceritakan juga.


Hanya saja Ana tidak mengatakan bahwa dia melihat sendiri saat Alvaro berciuman bersama Izora. Tapi satu hal yang jelas, suaminya tidak berbohong.


"Jika saja dia tidak mengancam akan bunuh diri. Maka aku juga tidak akan peduli pada dia." ucap Varo melonggarkan pelukannya. "Jangan menangis, kau harus sehat demi dirimu sendiri dan juga calon anak kita." kata Varo menyapu lembut sisa air mata istrinya.


"Maaf, maafkan aku," ucapannya kembali meminta maaf. Melihat keadaan istrinya Varo benar-benar menyesal telah menolong Izora, dan mengabaikan Ana dari kemarin siang. Sehingga istrinya tidak makan dan berakhir harus dirawat di rumah sakit.


"Ma--ma---mafkan aku juga, sudah marah padamu tanpa mau mendengarkan penjelasannya lebih dulu,"


"Tidak, kau berhak marah karena aku adalah suamimu." Varo berhenti sejenak, lalu dia berkata. "Oya, nenek sudah mengetahui pernikahan kita. Tadi saat kau pingsan dia juga berada di sana."


"Apa, lalu bagaimana? Apa dia menyuruh kita untuk berpisah?" seru Ana menatap Varo tidak sabaran menunggu jawaban suaminya.


"Aku belum bertemu dengannya, nanti saja setelah keadaan mu lebih baik, aku akan pulang ke rumah utama. Untuk saat ini pasti nenek menyidang ayah dan ibu."


"Itu berarti paman mu sudah melakukan sesuatu?" tanya Ana sudah tahu kalau paman Varo ingin menghancurkan suaminya.


"Iya, tapi sekarang lagi di urus oleh Sekertaris Arsad." Varo turun dari atas ranjang dan pergi kearah meja, ia ambil sedikit bubur kedalam piring yang sudah disiapkan segala sesuatunya oleh Rani. Lalu Varo bawa mendekati Ana dan mulai menyuapi istrinya yang saat ini tidak marah lagi.

__ADS_1


*BERSAMBUNG*...


__ADS_2