Cleaning Servis Milik CEO

Cleaning Servis Milik CEO
Menginap Di Rumah Sakit.


__ADS_3

🌾🌾🌾🌾🌾


.


.


"Selamat Sore, Nona. Anda sudah pulang!" sambut pelayan yang mengurus rumah mewah tersebut.


"Iya, selamat Sore juga! Apakah Tuan Varo ada datang kemari tadi siang?" tanya Ana memastikan, walaupun dia sudah tahu jawabannya.


"Tidak ada, Nona. Apa Anda perlu sesuatu?" si pelayan malah balik bertanya.


"Agh, tidak ada! Kalau begitu Saya permisi untuk ke kamar," jawab Ana tersenyum yang dipaksakan. Tidak ingin para pelayan melihatnya menangis, ia pun buru-buru masuk kedalam kamar dan mengunci pintunya.


"Varo, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dari siang kau tidak ada menghubungi ku?" lirih Ana merosot pada pintu yang tertutup rapat.


"Kenapa ponsel mu tidak bisa ku hubungi? Apa yang terjadi padamu?" gadis itu mulai menangis karena sudah dari siang dia menahannya.


"Apakah benar yang dikatakan para karyawan mu, jika kau akan kembali bersama Izora?" Ana terus saja meratapi suaminya yang saat ini lagi duduk di samping ranjang pasien.


Ya, saat ini Varo masih menunggui Izora. Mantan tunangannya. Keluarga Izora sedang tidak ada di dalam negeri, jadi mau tidak mau Varo yang menemaninya. Sebab Sekertaris Arsyad tidak bisa mengantikan dirinya.


Setelah melakukan beberapa kali pemeriksaan. Ternyata Izora sedang mengidap penyakit kanker serviks. Namun, belum parah dan masih bisa diobati.


Jika tidak ada Varo, mungkin tadi siang wanita tersebut sudah mengakhiri hidupnya sendiri, karena tidak bisa menerima bahwa didalam rahimnya lagi mengandung anak seorang pria dewasa yang memiliki keluarga pula.


"Ana, aku harap kau tidak tahu jika aku lagi bersama Izora."


Gumam Varo memijit pelipisnya yang terasa pusing, karena dia lupa membawa ponsel yang tadi ketinggalan di perusahaan, karena tadi siang ia pergi buru-buru sehingga lupa untuk membawa benda canggih tersebut.


Ceklek!

__ADS_1


"Tuan Muda, maaf Saya terlambat," ucap Sekertaris Arsad yang baru kembali dari mengurus masalah perusahaan.


"Iya, tidak apa-apa, sini pinjam ponselmu dulu," Varo menengadahkan tangan untuk menerima ponsel sekertaris nya. Saat ini Varo tidak ingin membahas masalah pekerjaan karena dia begitu mengkhawatirkan istrinya. Namun, Varo juga tidak bisa meninggalkan Izora begitu saja, karena mengancam nyawa wanita itu.


"Ini Tuan," Sekertaris Arsad menyerahkan dengan sopan. Lalu ia duduk mengantikan Varo menjaga Izora. Sedangkan Varo pergi keluar untuk menghubungi Ana. Namun, sudah hampir sepuluh kali ia mencobanya, nomor Ana tetap tidak bisa dihubungi.


"Kenapa bisa tidak aktif sih! Ana ayo angkatlah, aku mohon!" ucap Varo mondar-mandir di Koridor rumah sakit.


"Apa jangan-jangan dia mengetahui kedatangan Izora? seharusnya tidak tahu kan?" Varo bertanya pada dirinya sendiri dengan was-was. Entah apa jadinya bila Ana mengetahui hal tersebut.


Rencananya Varo tidak akan memberi tahu Ana jika malam ini dia menemani Izora di rumah sakit, karena takut Ana marah. Sekitar satu Minggu lalu, mereka berdua sempat bertengkar gara-gara Eca mantan tunangannya. Maka dari itu Varo sangat takut jika Ana mengetahui kebenaran yang terjadi hari ini.


"Tidak mungkin Ana mengetahui kalau aku lagi bersama Izora. Lebih baik aku kirim pesan saja. Nanti saat ponselnya aktif, bisa membacanya." Varo akhirnya memutuskan untuk mengirim pesan saja.


Rencananya besok pagi baru dia pulang ke rumah mereka. Untuk menjelaskan secara langsung.


"Lepaskan!" teriak Izora karena tangannya di pegang oleh Sekertaris Arsad. Wanita itu ingin turun dari ranjang untuk menyusul Varo yang katanya lagi berada di luar ruangan rawat inap nya.


Ceklek!


"Izora tenanglah! Kau lagi sakit," seru Varo sudah mendekat dan kembali ke tempat dia menunggu sejak siang.


"Bagaimana mungkin aku bisa tenang, jika kau lagi mencari cara untuk meningalkan aku sendirian di sini." wanita tersebut kembali menangis histeris.


"Aku tidak akan kemana-mana sampai keluargamu datang," ucap Varo yang mau tidak mau memeluk tubuh Izora.


"Tapi aku ingin kau selalu bersama ku, aku mohon. Jangan tinggalkan aku sendirian. Masalah bayi ini kau tidak perlu khawatir, karena setelah dia lahir aku akan mengantarnya pada Om Dimitri. Ini anaknya juga." kata Izora yang tidak menyembunyikan lagi perbuatannya.


Tadi siang saat hasil pemeriksaan Izora keluar Varo langsung bertanya pada mantan tunangannya. Kenapa bisa memiliki penyakit tersebut, bila Izora tidak bergonta-ganti pasangan. Alhasil, Izora mengakui semuanya. Bahwa salama ini dia sudah sering melakukan hubungan suami-istri bersama Partner kerjanya. Namun, dia hanya berhubungan dengan Tuan Dimitri saja, tidak ada bersetubuh sama pria lain.


"Zora, aku hanya bisa menemanimu sebagai teman, tidak bisa lebih dari itu. Sekarang yang harus kau pikirkan adalah penyakit dan bayi yang kau kandung. Walau bagaimana pun, dia anak mu. Kau harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kau perbuat." Varo merenggangkan pelukannya dan menatap mata Izora dengan rasa kasihan.

__ADS_1


Dia tidak menyangka jika nasip mantan tunangannya akan se menyedihkan seperti saat ini.


"Tapi aku takut bertemu dengan papi ku, dia pasti sangat marah bila mengetahui aku lagi hamil diluar nikah," jawab Izora dengan sendu. Sebetulnya rasa takut pada ayah dan neneknya lah yang membuat Izora meminta agar Varo mau kembali padanya.


Sebelum datang ke perusahaan Varo tadi siang. Dia sudah mengetahui jika dirinya lagi mengandung. Niatnya ingin menjadikan Varo tempat pelarian untuk menutupi kehamilannya. Tapi siapa sangka jika dalam waktu beberapa bulan saja. Varo sudah berubah dan telah memiliki kekasih yang baru.


"Nanti aku yang akan berbicara pada keluargamu, kau tidak perlu khawatir. Sekarang ayo baring dan tidur lagi." Varo kembali membantu agar Izora bisa beristirahat seperti semula.


Akhirnya malam ini, Varo menginap di rumah sakit. Namun, dia tidak sendiri, tapi ada Sekertaris Arsad yang menemaninya.


*


*


Pagi harinya. Di kediaman rumah mewah berlantai dua. Ana lagi menangis di atas ranjang karena tidak tahan menahan pusing di kepalanya. Sudah dari jam setengah enam tadi dia bangun, karena tiba-tiba perutnya bergejolak ingin muntah.


"Nona, ini teh hangatnya di minum dulu. Setelah sarapan kita pergi ke rumah sakit saja untuk periksa. Saya takut Nona kenapa-napa." ucap pelayan yang baru saja datang.


"Tadi Ana memang meneleponnya karena minta dibuatkan teh hangat. Dalam keadaan seperti sekarang, tentu Ana tidak bisa membuatnya sendiri. Untung saja, Ana memiliki nomor ponsel pembantunya. Jadi tinggal telepon saja, tidak perlu turun ke lantai bawah.


" Tapi Saya akan bekerja, Bik." jawab Ana. Dia ingin segera berangkat ke perusahaan agar bisa bertemu dengan suaminya. Ana ingin tahu, kenapa Varo tidak ada menghubunginya dari kemarin siang.


Tanpa ia ketahui, kalau tadi malam Varo sudah menelepon dirinya dan mengirim pesan juga.


"Tidak, Nona jangan bekerja, wajah nona sangat pucat, kita akan berangkat ke rumah sakit." kata si pelayan yang tidak ingin ambil resiko bila Varo mengetahui keadaan istrinya yang sakit tapi dibiarkan berangkat bekerja.


BERSAMBUNG...


.


.

__ADS_1



__ADS_2