Cleaning Servis Milik CEO

Cleaning Servis Milik CEO
Aku juga menyukainya.


__ADS_3

🌾🌾🌾🌾🌾


.


.


"Aku tidak tahu kenapa dia libur dan berapa lama mengambil cutinya." Varo menjawab santai, agar kedua sahabatnya tidak curiga kalau Ana liburan karena ulahnya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Tidak percaya, ya sudah!" pemuda itu berdiri menuju kulkas, untuk mengambil minuman dingin. Meskipun cuaca di luar tidak terlalu panas. Namun, tiba-tiba dia merasakan haus tiada terkira.


"Varo--- Tolong jawab yang jujur! Apa tadi malam kau pergi bersama Ana?" tanya Rizki yang tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.


Deg ...


Tangan Varo berhenti saat akan menjangkau minuman botol didalam lemari pendingin yang berada dalam ruangannya.


"Hem! Kenapa kau bisa bertanya seperti itu? Memangnya aku tidak memiliki pekerjaan lain." berdehem lebih dulu. Agar bisa kembali terlihat santai.


"Jawab yang jujur! Tadi malam, aku tidak sengaja melihat kau lagi bersama dengannya?" tekan Rizki agar Varo mau menjawab jujur.


"Tentu saja aku tidak pergi bersamanya. Ini minumlah! Jika tidak mau minuman ini, cari sendiri di lemari pendingin." mencari cara agar tidak membahas masalah calon istrinya.


"Tapi aku tidak mungkin salah lihat. Itu memang mobilmu." Rizki tidak perduli akan minuman, yang terpenting sekarang adalah masalah gadis yang dia sukai.


"Ki, aku tadi malam pergi makan malam bersama kedua orang tua ku. Bila tidak percaya, telpon dan tanyakan sendiri." Varo memberikan ponselnya yang berada disaku jas kerjanya.


"Agk, yasudah lah! Mungkin aku yang salah lihat." bila Varo sudah berkata seperti itu. Maka tidak mungkin sahabatnya berbohong. Itulah yang Rizki pikirkan.


"Terserah padamu, bila tidak percaya silahkan tanya sendiri. Apa kalian berdua datang hanya untuk menanyakan hal itu?" tanya Varo tersenyum.


Sebetulnya bukan dia tidak mau berbicara jujur kalau dia akan menikahi Ana. Namun, demi menjaga rahasia pernikahannya. Varo terpaksa harus berbohong sampai waktunya sudah tiba.


"Tentu saja karena Ana. Memangnya karena apa lagi. Apa kau tidak sadar jika selama ini dia datang kesini karena pegawai cantik mu itu." yang di Jawab oleh Arga sambil mengejek sahabatnya.


"Dia memang pantas untuk di perjuangkan. Ana berbeda dari gadis lain." sahut Rizki seraya mengambil minuman yang sudah disiapkan oleh Varo.


"Lupakan dia, Ana sudah mau menikah." tidak tahan mendengar pria lain memuji calon istrinya. Varo langsung saja berkata demikian. Lagian dia tidak berbohong tentang hal itu.


Uuhukk...


Uuhukk..

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Rizki yang sedang minum langsung terbatuk-batuk.


Uuhukk ..


"Kau jangan berbohong! Mana mungkin Ana sudah mau menikah," seru Rizki sambil mengelap mulutnya mengunakan tisu.


"Aku tidak sedang berbohong, aku rasa dia mengambil cuti juga karena hal itu. Jadi berhentilah mengejarnya." meskipun tidak mengakui kalau yang akan menjadi suami Ana adalah dirinya. Setidaknya Varo sudah memberitahu kebenaran bahwa gadis yang mereka bicarakan akan menjadi seorang istri.


"Apa! Tapi--- Selama ini, sepertinya dia tidak dekat dengan siapapun. Apa kau tahu kenapa tiba-tiba dia menikah?" Rizki mengusap wajahnya kasar. Tidak bisa percaya begitu saja bahwa gadis yang dia sukai menikah dengan orang lain.


"Mungkin karena dia mencintai laki-laki itu. Dia tidak dekat dengan siapa-siapa karena sedang bekerja. Kalau lagi dirumahnya, mana kita tahu." jawab Varo apa adanya. Kebenaran memang seperti itu kenyataannya. Bila dirumah Ana selalu pergi bersamanya. Meskipun saat itu hubungan mereka hanya sebagai bos dan pegawai.


"Sudahlah! Ikhlaskan saja dia menjadi milik orang lain. Lagian aku sudah berulangkali memperingati mu. Agar mengungkapkan perasaanmu padanya. Tapi kau tidak menurut juga, ya beginilah jadinya." Arga mengelus pundak sang sahabat.


"Iya, mungkin ini memang salah diriku. O'ya Var, apa kau tahu dimana rumahnya?" tanya Rizki melihat kearah Varo yang hanya diam saja.


"Tidak, aku tidak tahu rumahnya di mana. Dalam surat lamarannya, tidak dicantumkan alamat rumahnya." dusta pemuda itu karena tidak mungkin dia memberi alamat rumah Ana.


"Oke, kalau begitu aku mau pergi sekarang." Rizki berdiri dari sofa. Pemuda itu berniat akan mencari tahu alamat Ana. Walaupun gadis itu akan menikah dengan orang lain. Setidaknya dia ingin mengucapkan selamat, atau do'a restu.


"Ki, Rizki! Woi! Ih, ni anak main tinggal semaunya." Arga meneriaki sahabatnya. Namun, suaranya tidak dihiraukan karena Rizki sudah berjalan keluar dari ruangan tersebut.


"Varo, aku pergi dulu. Aku takut Rizki bunuh diri," kata pemuda itu berpamitan untuk menyusul Rizki.


"Maaf, Ki. Aku juga menyukainya. Mungkin bila sudah mengetahui kebenarannya. Kamu akan membenci ku." gumam Varo kembali lagi ke kursi kerjanya. Untuk menyelesaikan pekerjaan sebelum dia pulang kerumah Ana.


Meskipun dia sudah mengetahui. Kalau pernikan dia dan Ana akan banyak mendapatkan rintangan. Varo tetap melanjutkan niat baiknya.


Asik berkutat dengan pekerjaannya. Tidak terasa waktu yang Varo tunggu-tunggu sudah tiba. Yaitu waktu dia pulang bekerja. Pemuda ini sangat disiplin. Dia selalu datang di awal waktu, dan akan pulang paling belakangan.


Meskipun dia sudah bekerja seharian. Tidak ada rasa lelah yang Varo rasakan, karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan calon istrinya.


Braaak ...


Bunyi pintu mobil yang di tutup oleh Varo. Setelah memasang sabuk pengamannya. Dia pun langsung menjalankan kendaraan tersebut menuju ke rumah Ana. Setelah dua puluh menit kemudian. Mobil mewahnya sudah tiba di kediaman calon istrinya.


Para tetangga sekitar rumah Ana. Kebetulan orang-orangnya tidak pernah ikut campur urusan orang lain. Makanya sudah beberapa bulan ini Varo berkunjung ke sana. Tapi semuanya baik-baik saja. Belum pernah mendapatkan teguran ataupun sebagainya.


Tok ...


Tok ...

__ADS_1


Cek ... lek ...


Ana si gadis cantik membuka pintu rumahnya, karena tahu jika yang datang adalah Varo. Tadi sebelum meninggalkan ruangan kerjanya. Varo sudah mengirim pesan, jika dia sudah pulang bekerja.


"Masuklah!" suruh Ana membuka pintunya terbuka lebar. Lalu dia berjalan menuju sofa ruang tamu dan duduk di sana. Diikuti oleh Varo yang juga duduk disebelahnya.


"An, ada yang ingin aku bicarakan padamu." ucap pemuda itu memulai percakapan.


"Iya, katakan saja. Ada apa?" Ana menatap serius karena Varo juga terlihat sangat serius.


"Eum ... begini, setelah kita menikah. Kita belum bisa tinggal bersama, karena aku belum bisa mengatakan pada nenek jika akan menikahi mu." ucap Varo seraya menundukkan kepalanya. Dia merasa tidak enak dengan Ana. Bagaimana mungkin, mereka harus tinggal terpisah.


"Tapi aku berjanji, semua ini tidak akan lama. Percayalah! Beri aku waktu paling lama dua bulan." terang Varo menyentuh tangan si calon istri.


"Kenapa bisa begitu? Apa nenekmu tidak memberikan izin seperti Om dan Tante?" tanya Ana tetap tenang. Meskipun di dalam hatinya, merasa takut bila setelah mereka menikah. Varo bisa saja meninggalkan dirinya, karena setatus mereka yang berbeda.


"Untuk saat ini, iya. Tapi kamu tidak perlu khawatir, bila nenek tetap pada pendiriannya. Maka aku rela meninggalkan perusahaan Ravindra demi dirimu, demi hubungan kita berdua." Varo berkata dengan yakin. Sebab dia tahu, kalau Ana memiliki keraguan terhadapnya.


"Kenapa sampai separah itu?" Ana langsung kaget mendengar Varo yang akan meninggalkan perusahaan. Bila sang nenek tidak bisa menerima dirinya.


Mendengar ucapan Varo. Keraguan Ana pun langsung hilang seketika.


BERSAMBUNG ...


.


.


.


Sambil menunggu bbg Varo, yuk mampir juga di karya sahabat Mak author.



Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya ya πŸ€—.


Like.


Vote.


Komentar.

__ADS_1


Subscriber.


Bintang lima dan hadiah lainnya.😍


__ADS_2