
πΎπΎπΎπΎπΎ
.
.
Setelah memarkirkan mobilnya Alvaro mengikuti secara diam-diam gadis yang sudah membuat dia melupakan janji berkumpul dengan kedua sahabatnya. Dia terus memasuki taman yang terlihat ramai apabila di malam hari karena taman ini berada ti tengah-tengah pusat ibu kota.
"Mau kemana dia? Kenapa sudah sejauh ini belum juga berhenti?" Varo mengerutuk seperti gadis itu yang meminta dia untuk mengikuti dari belakang.
Ana yang tidak sadar ada yang mengikuti terus saja berjalan dengan membawa berbagai macam jenis makan dan minuman di tangan kanannya. Bukan hanya malam ini dia berkunjung ke taman tersebut, tapi dalam satu Minggu dia bisa datang ke sana sampai dua atau tiga kali. Setiap tidak bisa tidur Ana akan pergi ke sana untuk menghilangkan suntuk dan melepas rindu pada kedua orang tuanya.
Dulu saat kedua orang tuanya masih hidup. Keluarga mereka selalu pergi jalan-jalan ke taman atau tempat lainnya untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Namun, semua itu hanya tinggal kenangan. Sekarang Ana hanya mampu pergi ke taman kota yang tidak perlu mengeluarkan ongkos banyak. Cukup membeli berbagai macam makanan yang dia sukai saja.
Tiba di tepi danau buatan. Ana langsung masuk ke sebuah pondok kecil yang terbuat dari bambu. Lalu gadis tersebut mengeluarkan beberapa minuman yang di bawanya tadi.
Sedangkan Varo hanya diam saja tidak jauh dari sana. Dia bingung ingin mendekat tapi mereka bukanlah teman. Jangankan berteman, saling kenal saja tidak.
"Kenapa aku malah mengikuti dia? Seperti tidak memiliki kerjaan saja." mengaruk kepalanya walaupun tidak gatal.
Tttdddd...
HP di dalam saku Varo kembali lagi bergetar. Sudah dari tadi benda itu berbunyi. Hanya saja dia sengaja tidak mau mengangkat nya, karena takut kehilangan jejak mengikuti Ana.
π± Alvaro : "Hem ... kenapa?" tanya Varo dengan entengnya.
__ADS_1
π± Arga : "Kau dimana? Kenapa sudah lebih dari setengah jam belum juga sampai?"
π± Alvaro : "Aku--- lagi di suatu tempat. Tadi saat dalam perjalanan, aku mendadak ada tugas penting yang harus aku selesaikan malam ini juga." jawab Varo dengan suara kecil. Takut gadis yang dia ikuti secara diam-diam akan mendengar suaranya.
π± Arga : "Pekerjaan apa? Tumben sekali, bukannya katamu tadi siang tidak memiliki pekerjaan?" Arga tidak percaya begitu saja karena Varo sendiri yang mengatakan tidak memiliki pekerjaan. Bahkan yang membuat usul mencari hiburan adalah Varo dan Rizki.
π± Alvaro : "Yang namanya pekerjaan, ya pekerjaan. Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang karena ini pekerjaan rahasia. Sudah jangan banyak bertanya, Kau seperti nenek ku saja." ucap Varo memutuskan sambungan begitu saja, karena dia mendengar Ana sedang berbicara entah dengan siapa yang dia ketahui gadis tersebut hanya duduk sendiri.
"Dia berbicara dengan siapa? Apa ada orang yang tidak bisa aku lihat?" Varo yang penasaran kembali berjalan mendekati tempat Ana dengan langkah yang sangat pelan.
"Ibu ... ayah, Ana merindukan kalian berdua." ucap gadis itu sambil pandangan matanya melihat keatas langit yang terlihat sangat cerah karena begitu banyak bintang yang bertaburan.
"Merindukan ibunya kenapa malah datang kemari? Aneh sekali." ujar Varo yang tidak sadar antara jarak dia dan Ana hanya tinggal beberapa meter saja. Untung nya gadis itu terlalu hanyut dengan perasaannya jadi tidak sadar ada orang lain di belakangnya.
"Ibu, ayah. Ana sangat merindukan kalian berdua. Kenapa kalian meninggalkan Ana sendirian?" saat mengucapkan kata-kata terakhirnya. Ana tidak mampu menahan air matanya lagi.
Tidak memiliki teman dekat membuat Ana hanya curhat dengan kesunyian malam yang di anggap oleh nya kedua orang tuanya selalu ada menemani kemanapun dia pergi.
Sementara itu Varo yang masih setia mendengar curhat Ana pada angin malam, hanya diam sambil pikiran kemana-mana. Sedikit banyaknya dia mulai paham bahwa gadis itu sedang curhat kepada orang tuanya yang sudah tiada.
"Hick ... hick ... Ana kangen kalian berdua." kembali lagi menangis.
"Aneh sekali jauh-jauh datang kesini hanya untuk menangis." Varo yang sudah tidak tahan menjadi pendengar yang seperti bayangan hitam menampakkan dirinya.
Mendengar suara bariton dari belakang tubuhnya pun Ana langsung saja berdiri dan membalikan badannya secepat kilat, karena dia mengira itu adalah suara orang jahat. Namum, begitu berbalik.
__ADS_1
Deg...
Deg...
Pandangan mata mereka langsung bertemu dengan jantung sama-sama berdebar. Tidak hanya Ana yang merasa kaget, tapi Varo juga kaget karena tiba-tiba saja Ana berbalik badan dan menyisakan jarak begitu dekat antara mereka berdua.
Bau harum dari tubuh Ana kembali lagi tercium oleh Varo. Apalagi hembusan angin malam seolah-olah dengan sengaja meniup rambut gadis itu kearah wajahnya.
"Tu--tuan mu--muda! Tuan muda ke--kenapa ada di sini?" ucap Ana tergagap antara gugup dan merasa kurang yakin kalau laki-laki yang berada sangat dekat dengannya adalah si tuan muda.
"Hem ... Kau kenapa seperti baru melihat hantu?" tanya Varo sengaja karena dia tahu kalau gadis tersebut merasa gugup sama seperti dirinya.
"A--ak, aku bukan habis melihat hantu. Tapi mungkin sedang bermimpi." jawab Ana dengan jujur. Sebab dia memang mengira kalau saat ini sedang bermimpi.
"Mimpi?" ulang Varo menyergit sampai satu alisnya keatas. Bagaimana mungkin setelah sekian lama mengoceh sendiri, sekarang Ana malah mengira sedang bermimpi.
"Iya mimpi. Tuan muda kenapa mengikuti Saya sampai kedalam mimpi?" saat bertanya Ana mengeser tubuhnya sedikit mundur. Meskipun hanya dalam mimpi Ana harus tahu batasan nya. Pikir gadis tersebut yang sadar siapa dirinya.
Jawaban Ana ternyata malah menjadi senjata buat pemuda itu menjahili Ana. "Memangnya kenapa bila aku ikut kedalam mimpi mu?" tanya Varo dengan mode seserius mungkin.
"Tidak apa-apa sih. Hanya saja ini bukan jam kerja Saya. Jadi Tuan muda tidak perlu repot-repot melihat pekerjaan Saya. Kembalilah ke dunia nyata Anda Tuan. Saya masih ingin berada di alam mimpi yang seperti nyata buat Saya." usir Ana agar sang bos pergi dari sana.
"Benar-benar gadis yang aneh. Bagaimana mungkin dia mengira ini adalah mimpi. Tapi kenapa aku merasa senang untuk menjahilinya ya?"
Di dalam hatinya Varo tergelak karena baru bertemu gadis aneh seperti Ana. Jelas-jelas ini nyata malah dikiranya sedang berada di alam mimpi.
__ADS_1
"Karena kita bertemu di alam mimpi, apa aku boleh tahu siapa namamu?" tanya Varo menahan diri agar tidak tertawa.
"Nama Saya ... Ana Rehana Tuan."