
πΎπΎπΎπΎπΎ
.
.
Setelah kepergian sekertaris wanita itu. Tinggalah Varo dan Ana yang masih sama-sama saling diam. Itupun mereka berdua dengan posisi berdiri. Padahal di belakang keduanya terdapat sofa.
"Hem!" CEO muda tersebut berdehem untuk mengontrol dirinya agar tidak merasa gugup.
"Ana." ucap Varo hanya sebatas menyebutkan nama gadis yang sekarang ada di hadapannya.
"I--iya, Tuan muda. Apakah yang Anda katakan tadi benar? Kalau Saya di pindah tugas, membersih ruangan ini dan membuat kopi untuk, Anda?" Ana mengulangi pertanyaannya. Mana tahu dia berhalusinasi lagi. Pikir gadis itu.
"Tentu saja benar. Apa kau tidak percaya padaku!" kembali lagi duduk di atas sofa. Namun, Varo tidak menawarkan Ana untuk duduk bersama nya.
"Bukan, bukan! Saya ... percaya pada Anda. Tapi kenapa Saya di pindahkan kesini?" senang boleh saja karena bisa dekat dengan pujaan hati. Akan tetapi Ana harus bisa menjaga sikap nya agar tidak seperti wanita murahan.
"Tidak kenapa-kenapa, aku hanya ingin saja memindahkan, mu." Varo menjawab santai. Seakan-akan dia tidak memiliki maksud tertentu.
"Hei ... mau sampai kapan kau berdiri seperti itu." tiba-tiba marah karena Ana hanya berdiri. Padahal dia yang membiarkan gadis itu berdiri dari tadi.
"Agh, Sa--saya---"
"Cepat duduk! Aku tidak mau di bilang menyiksa anak kecil seperti mu." mengatai Ana anak kecil, padahal bila dia melihat kearah gunung kembar gadis yang di bilang anak kecil. Jakun nya sudah naik turun seperti habis meraton.
Ragu-ragu Ana pun duduk di sofa yang berada di seberang Varo. Sekarang Ana baru merasakan kalau oksigen pada tubuhnya mulai mengurang begitu saja. Bagaimana mungkin dia duduk dalam ruangan Presdir seperti tamu penting.
"Ana ... em sebenarnya kau dan Artha ada hubungan apa? Bukan, bukan. Maksudku bagaimana kalian berdua bisa saling kenal?" tanya Varo sedikit tidak nyaman. Bagaimana mungkin dia menanyai hubungan seseorang. Apalagi antara dia dan Ana baru saja bertemu kemarin pagi dan berkenalan tadi malam yang langsung melakukan silahturahmi bibir.
Aaaakkkh Varo mengelengkan kepalanya yang sudah tercemari oleh adengan panas persi dirinya.
__ADS_1
"Kenapa kau diam saja?" bertanya lagi setelah sadar kalau Ana masih berada di hadapannya.
"Bukannya Anda baru saja mengelengkan kepala?"
"Lalu apa hubungannya dengan pertanyaan ku. Bagaimana kalian bisa saling kenal? Tolong jawab dengan jujur. Ini demi kebaikanmu sendiri." seru pria itu memperbaiki cara duduknya biar terlihat lebih serius.
"Bukannya barusan dia menggelengkan kepalanya? Maksudnya mengelengkan kepala buat apa? Aku kira tadi dia ingin mengatakan kalau aku tidak usah menjawab pertanyaan nya. Huh ... untung saja tampan."
Ana mengumpat di dalam hatinya lebih dulu, sebelum menjawab pertanyaan tersebut.
"Saya bisa kenal Tuan Artha gara-gara HP nya ketinggalan di salah satu tempat Saya bekerja dulu." jawab gadis tersebut dengan jujur.
"Ceritakan semuanya." pinta Varo karena dia harus mengetahui semuanya untuk melindungi Ana.
Meskipun merasa aneh dengan permintaan sang CEO. Ana pun menceritakan semua. Tidak ada yang dia sembunyikan, semuanya dia ceritakan, karena menurutnya bukan hal penting juga. Hanya saja dia berpikir mungkin ini termasuk sarat untuk pekerjaan barunya.
"Mulai saat ini tolong kau jauhi dia." ucap Varo menatap kearah Ana yang terlihat langsung terkejut saat mendengar perkataannya.
"Aku tidak bisa mengatakan alasannya. Tapi percayalah, aku melakukan ini karena aku tidak ingin kau dalam bahaya."
Deg...
Deg...
Hanya mendengar ucapan Varo. Jantung Ana yang sudah mulai tenang, kembali lagi berdegup kencang.
"Apa maksudnya tidak ingin aku kenapa-napa? Apa Tuan muda mengkhawatirkan aku?"
Untuk beberapa detik Ana terdiam sebelum kembali berkata.
"Tapi ... Saya tidak melakukan apa-apa terhadap Tuan Artha. Mengapa Saya bisa dalam bahaya?"
__ADS_1
"Dirimu memang tidak melakukan apa-apa. Tapi, orang tuanya akan melakukan sesuatu bila mengetahui kalau anaknya berteman dengan, mu. Turuti saja perkataan, ku. Jauhi Artha, aku bersungguh-sungguh tidak memiliki niat yang lain." tadinya Varo tidak ingin berkata apa penyebabnya. Namun, melihat Ana seperti tidak percaya pada ucapannya. Dia pun terpaksa mengatakan alasannya.
Ana yang baru mengerti arah tujuan kenapa dia bisa dalam bahaya, bila dekat dengan Artha hanya menundukkan pandangan nya.
"Maaf, aku tidak bermaksud apa-apa. Tapi aku hanya tidak ingin mereka menyakiti, mu." ucap Varo meminta maaf, karena takut gadis itu mengira kalau dia sedang mengingatkan status nya.
Ana kembali melihat kearah Varo dan sedikit tersenyum. "Tidak apa-apa. Saya justru merasa senang karena Anda sudah mengingatkan Saya." berhenti sesaat lalu kembali lagi berkata.
"Anda tidak perlu khawatir. Dari dulu Saya juga sudah menjauhinya. Saya tahu perbedaan status diantara kami. Pertemuan tadi pagi hanya kebetulan saja. Terima kasih Anda sudah perduli pada pegawai kecil seperti Saya." ucap Ana dengan tulus.
"Huh ... baguslah kalau seperti itu. Aku tidak bi---"
Tttdddd....
Ttttdddd...
"Sebentar!" Varo langsung mengangkat telepon dari tunangannya.
π± Izora : "Sayang kau sedang apa? Apa masih marah padaku?" terdengar suara perempuan yang Ana yakini adalah tunangan CEO nya.
π± Varo : "Aku sedang ... bekerja. Tidak, aku tidak marah padamu. Hanya saja aku memang lagi sibuk. Apa kau sudah sarapan?" Varo tidak menyebutkan kalau saat ini dia sedang bersama Clening servis di perusahaannya.
Ana yang mendengar percakapan dua sejoli itu, hanya bisa menahan rasa kecewa. Tadi saat Pria itu menyebutkan merasa khawatir padanya. Ana sempat berharap lebih, walaupun hanya sedikit saja, karena dia tahu perbedaan diantara mereka.
π± Varo : "Sayang, sudah dulu, ya. Aku harus bekerja." kata lelaki itu langsung mengakhiri pangilan telepon bersama tunangannya, dan kembali lagi melihat kerah Ana yang hanya diam saja.
"Ana, besok pagi kau tidak perlu mengerjakan tempat yang lain. Cukup bereskan ruangan ku saja. Untuk sekarang tolong buatkan aku kopi." kata Varo tidak sadar kalau gadis itu tengah patah hati.
"Baik Tuan muda. Saya akan pergi sekarang." gadis itu pun langsung saja pergi dari sana, karena dia perlu menenangkan hatinya yang tiba-tiba patah hati.
BERSAMBUNG....
__ADS_1