
πΎπΎπΎπΎπΎ
.
.
Sudah empat hari, Ana menjabat pekerjaan barunya sebagai Clening Servis khusus dalam ruangan CEO. Semenjak dia dipindah tugaskan secara mendadak. Teman-teman yang membencinya semakin banyak.
Untuk sampai pada tahap pekerjaan yang dia miliki sekarang, benar-benar harus memiliki peringkat bagus, jujur dan sudah bekerja di perusahaan tersebut lebih dari satu tahun. Tidak asal-asalan seperti dirinya. Hanya gadis kecil yang belum banyak memiliki pengalaman. kerja disana pun baru kurang lebih empat bulan.
Namun, meskipun banyak yang membencinya. Ana tidak ambil pusing, karena sudah biasa dibenci tanpa ada sebab dan alasan.
Selama empat hari itu pula Ana berusaha menghindari Artha. Sesuai permintaan Varo waktu itu. Ana mematuhi perintah dari Varo bukan karena dia menyukai pria tersebut. Akan tetapi karena dia memang ingin menjauhi Artha.
Sebetulnya Artha adalah pemuda yang baik. Hanya saja kedua orang tuanya sangat serakah. Bila tidak ada yang menjadi korban dari kekejaman Bibi dan pamannya tersebut. Varo juga tidak mungkin melarang Ana dekat-dekat dengan adik sepupunya.
Cek ...lek...
Pintu ruangan Varo dibuka oleh pemiliknya sendiri. Ana yang sedang membersihkan ruangan tersebut. Sontak melihat kearah pintu masuk.
"Selamat pagi, Tuan muda!" sapa Ana dengan ramah karena pada dasarnya dia memang gadis yang ramah.
"Pagi juga! An, wajah mu kenapa pucat sekali?" menjawab sambil berjalan mendekati meja yang sedang gadis itu bersihkan dan berdiri disampingnya.
"Saya juga tidak tahu, Tuan muda. Tolong Anda duduknya di atas sofa saja, karena meja kerja Anda belum Saya bersihkan." kata Ana sambil meneruskan pekerjaannya.
Bukan salah Ana yang bekerjanya lambat. Akan tetapi Varo saja datangnya terlalu pagi. Semenjak Ana yang bertugas membersihkan ruangannya. Pemuda itu malah berangkat lebih pagi dari biasanya. Sekarang Varo tidak pernah lagi yang namanya sarapan bersama keluarga besarnya. Dia akan sarapan bila sudah tiba di kantor. Sekertaris pribadinya yang akan membeli sarapan sebelum berangkat ke perusahaan.
Ana memang hanya menjabat sebagai tenaga kebersihan. Namun, pekerjaannya sudah seperti seketaris. Tidak hanya membersikan ruangan bos dan membuat kopi saja. Tapi saat Varo sarapan ataupun makan siang. Gadis itu selalu menemani sang CEO. Aneh memang, tapi yang namanya bos, bebas memerintahkan seperti apa mau nya.
Selama gadis itu bekerja. Varo selalu memperhatikan nya. Entah bagaimana perasaannya pada Ana, karena dia sendiri juga belum tahu, yang jelas Varo sangat suka bila berada di dekatnya.
Hubungan dia dan tunangannya juga baik-baik saja, sama seperti biasanya. Mereka masih saling menghubungi satu sama lain. Rencananya pernikahan keduanya akan dipercepat atas permintaan Nyonya Rosa, neneknya Varo.
"Sudah selesai. Anda sudah boleh pindah." suara Ana menyadarkan Varo dari lamunannya. Pria itu tidak menjawab tapi dia menganggukkan kepalanya.
"Ana, diam ditempat mu!" perintah Varo berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Ana. Lalu setelah berada dihadapan gadis tersebut dia menempelkan punggung tangannya pada kening Ana.
__ADS_1
"Aku sudah menduganya." ucap Varo setelah menurunkan tangannya kembali.
"Menduga apa?"
"Aiissh! Kau ini bodoh atau bagaimana? Apa dirimu tidak bisa merasakan kalau sedang demam?" menatap Ana tidak habis pikir.
"Saya tidak merasakan apapun."
"Jangan banyak bicara! Ayo duduklah. Apa kau sudah sarapan?" tanya Varo setelah mendudukkan gadis itu pada sofa yang dia duduki tadi.
"Sudah! Saya sudah sarapan." biar merasa bingung Ana hanya menurut saat tangannya ditarik menunju sofa.
Mendengar Ana sudah sarapan. Varo berjalan kearah meja yang berbeda didalam ruangan tersebut. Untuk mengambil parasetamol yang tersedia disana. Lalu dia mengambil air putih dan disodorkan pada gadis itu.
"Ini minumlah! Kau sedang demam. Setelah sekertaris ku datang. Kau boleh pulang, biar dia yang mengantar mu." berbicara sudah seperti siapa saja. Seakan-akan hubungan keduanya sedekat itu.
Sebelum menjawab nya. Ana mengambil obat tersebut dan meminumnya lebih dulu.
"Saya tidak apa-apa."
"Badan mu panas sekali. Jangan membantah ku. Aku adalah bos mu. Tidak mau menurut, maka aku akan memecat mu hari ini juga." memberi ancaman karena tahu Ana pasti akan menuruti perintah nya.
"Mau pulang, atau mau ku pecat?" tidak mau menjawab pertanyaan Ana. Dia hanya kekeh pada ucapannya.
"Agh, sudahlah Saya akan pulang. Tapi Saya tidak mau diantar oleh sekertaris Anda."
"Lalu kau mau pulang naik apa?"
"Saya akan naik kendaraan umum. Lagian rumah Saya tidak jauh dari sini." mana mungkin gadis itu mau diantar oleh sekertaris Varo, yang ada Ana akan dianggap sudah menggoda sang bos. Sehingga mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Hem, Baiklah! Yang penting pulang dan istirahat." baru mengerti kenapa Ana menolak. Varo pun tidak memaksa lagi.
"Sebelum pulang, istirahat disini saja. Tidak usah kembali keruang istirahat mu. Aku akan memeriksa pekerjaan ku dulu." kata Varo ingin ke meja kerjanya.
"Tunggu! Em ... maaf Tuan muda. Apa boleh Saya pulang sekarang? Saya ingin istirahat di rumah saja." ucap Ana yang sedang mencari cara untuk pergi dari sana, karena dia tidak mau ada orang yang melihatnya istrirahat dalam ruangan CEO nya.
"Apa kau tidak apa-apa pulang sekarang?" kembali lagi menempelkan punggung tangannya. Untuk merasakan panasnya sudah turun atau belum. Padahal mana mungkin bisa turun secepat itu, karena obatnya baru saja tiba didalam perut gadis itu.
__ADS_1
"Masih panas!" katanya setelah selesai memeriksa suhu tubuh Ana.
"Iya, memang masih panas. Tapi percayalah Saya tidak apa-apa pulang sekarang."
"Pulanglah bila memang tidak apa-apa. Naik taksi saja. Biar aku yang membayar nya. Nanti sore aku akan ke rumah mu." ucap Varo yang tidak memiliki alasan untuk memaksa Ana agar istirahat didalam ruangannya.
"Baik, terima kasih, Tuan muda. Saya pulang dulu. Soal uang taksi, besok saja tidak usah sekarang. Anda juga tidak perlu datang kerumah." dengan terburu-buru gadis itu langsung keluar dari ruangan Presdir. Takut bila terus berada disana, Varo malah memaksa akan berkunjung ke rumahnya.
"Aduh aku sangat lelah!" ucap Ana setelah memasuki lift karyawan.
"Tuan muda ternyata tidak semenakutkan seperti yang orang-orang katakan. Jika menurutku dia sangat baik. Semoga saja kebaikannya ini, tidak membuat ku salah mengartikan." Ana menarik nafas dalam-dalam agar bisa membuatnya sadar perbedaan setatus diantara mereka.
"Aku tidak boleh bermimpi terlalu tinggi. Nanti bila terjatuh, aku sendiri yang merasakan sakit." seru Ana mencoba untuk melupakan perasaan yang dia miliki. Baginya bisa berdekatan dengan Varo sudah suatu keberuntungan.
***
Sedangkan di dalam ruangan Presdir. Setelah kepergian Ana. "Ck, gadis ini." gumam pemuda itu menuju meja kerjanya. Sekarang dia ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya, karena nanti, setelah pulang dari kantor. Varo akan melihat Ana dirumahnya.
*BERSAMBUNG*...
.
.
.
Hayo, bbg Varo mau ngapain tuh kerumah Ana? Bila penasaran sama ceritanya. Ikuti terus kisah mereka, ya!!!
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya. π€
Like.
Vote.
Subscribe.
Hadiah dan bintang limanya.
__ADS_1
Terima kasih.ππ