
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
.
.
"Bagaimana ini, Dok, sampai sekarang istri Saya belum juga sadar?" tanya Kenzo setelah Dokter Rosita kembali memeriksa keadaan Ana.
"Kita akan langsung memindahkan Nona Ana ke ruang VIP lebih dulu saja, soalnya bila nunggu dia sadar karena kita akan melakukan pemeriksaan USG pada bayi kalian. Takutnya nona lama sadarnya." putus Dokter Rosita yang sudah menduga juga jika Ana akan lama baru siuman.
"Apa Anda juga tidak tahu kapan istri Saya basa sadar?" Alvaro kembali bertanya karena sudah lebih dari satu jam, istrinya belum juga menunjukan akan siuman.
"Tidak, Saya juga belum tahu Tuan Muda, karena kasus seperti Nona Ana sangat jarang terjadi. Adapun ibu hamil pingsan dia akan cepat sadar karena tidak memiliki penyakit asam lambung seperti nona. Sekarang kita pindahkan saja dulu keruangan perawatan intensif. Jika sampai jam tujuh nanti malam, maka kita akan melakukan tindakan lain." tidak ingin mengulur waktu Dokter Rosita langsung saja membantu para perawat dan juga Varo memindahkan Ana ke ruang VIP seperti permintaan keluarga pasiennya.
Saat mereka baru berjalan keluar dari ruangan tersebut. Ternyata di depan pintu ada Izora, maminya dan juga Rosa neneknya. Mereka bertiga sengaja menunggu di luar karena tidak ingin membuat keributan di dala ruangan rawat Ana.
"Varo, berhenti! Kau harus jelaskan siapa gadis ini." cegah Nyonya Rosa menyuruh cucunya berhenti. Namun, Alvaro terus saja berjalan mengikuti perawat mendorong Brankar tempat istrinya baring lemah tidak berdaya.
"Nek, pulanglah! Aku tidak memiliki waktu untuk menjelaskan sekarang. Akan tetapi yang jelas, dia adalah istri ku." jawab Varo sambil terus berjalan dan tidak mendengar makian dari sang nenek.
Untuk saat ini dia tidak perduli apapun, yang penting istrinya sehat begitu pula calon anaknya. Sebab Varo tidak ingin mengambil resiko dari perbuatannya.
Ceklek!
Pintu ruang rawat VIP di buka cukup lebar. Guna mempermudah mereka mendorong ranjang pasien. Setibanya di dalam para suster bertugas merapikan kembali tempat Brankar kosong, lalu di ganti dengan yang ditempati oleh Ana.
"Tuan Muda, Saya akan kembali bekerja. Nanti bila ada sesuatu ataupun Nona Ana sudah sadar, tekan saja tombol ini." ucap Dokter Rosita setelah memeriksa kembali keadaan pasiennya, karena takut telah terjadi sesuatu saat dalam perjalanan waktu mereka memindahkan.
__ADS_1
"Iya, pergilah! Terima kasih, Dok. Nanti Sekertaris pribadi Saya akan mengatur hadiah untuk kalian." kata Alvaro yang sudah mengatakan pada Sekertaris Arsad agar memberikan bonus pada dokter dan perawat yang telah membantu istrinya.
"Itu semua tidak perlu, kami semua sudah mendapat gaji dari pemerintah. Namun, Saya meminta agar Anda cepat menyelesaikan permasalahan dengan keluarga Anda, karena tidak baik bila saat sudah sadar nanti, Nona Ana mendengar pertengkaran kalian." pesan dokter tersebut, karena dia memang seperti itu. Bila ada masalah kendala seperti pada pikiran pasien yang dia tangani.
"Oke, terima kasih, Dok. Saya akan menyelesaikan semuanya." ucap Varo mengiyakan, karena dia memang akan segera mengurus masalah Izora setelah istrinya sadar.
Setelah itu pun Dokter Rosita beserta dua orang perawat bersamanya pergi dari sana. Tinggallah Alvaro dan istrinya saja, karena saat mau kembali ke rumah sakit. Sekertaris Arsad harus kembali ke perusahaan untuk menyelesaikan permasalahan baru saja terjadi, atas perbuatan paman Varo sendiri.
Namun, sebelum itu, ia sudah mengutus kan dua orang pengawal untuk membantu menjaga nona mudanya, karena sudah pasti jika saat ini nyawa Ana lagi terancam keselamatannya. Selama ini baik itu pamannya sendiri, ataupun papinya Izora memang mencari titik kelemahan Varo yang belum bisa juga mereka geser dari Ravindra Company.
Tok!
Tok!
"Masuk!" titah Varo yang mengetahui bahwa yang datang adalah pengawal yang di kirim oleh Sekertaris Arsad.
"Selamat siang Tuan Muda, maaf kami telat datangnya, karena harus kembali dulu ke rumah. Untuk menjemput buat makan siang Anda dan juga semua keperluan yang di butuhkan." ucap pengawal bernama Dika.
"Siap, Tuan." si Dika dan rekannya mulai menata seperti yang dikatakan sang bos. Setelah selesai, ia menghap Varo lagi.
"Kalian berdua tolongl berjaga di luar, sampai kepada istri Saya sembuh. Selain dokter, perawat tidak ada yang boleh datang ke mari. Meskipun nenek sekalipun,"
"Baik Tuan, Anda tidak perlu khawatir, kami akan menjalankan sesuai perintah," jawab mereka serempak. Begitu kedua pengawal tersebut ke luar, Varo hanya duduk sambil menggenggam tangan Ana, sampai-sampai ia ketiduran. Sebab Alvaro memang semalaman tidak bisa tidur.
Pukul setengah tiga sore. Barulah ia terbangun dan melihat istrinya belum juga sadarkan diri.
"Kenapa aku bisa tidur selama ini? Huom!" tanya Varo masih juga menguap, karena dia masih mengantuk. Padahal dia sudah tidur cukup lama.
__ADS_1
"Sayang, apa kau tidak mau bangun?" tanya Alvaro seolah-olah istri dalam keadaan sadar, dan memaksakan diri buat bangun. "Maafkan aku, aku benar-benar menyesal."
Cup!
"Ayo bangunlah! Jangan membuatku takut," kembali lagi mengajak bicara dan memberikan kecupan pada sang istri. "Sekarang nenek sudah mengetahui hubungan kita, itu berarti permasalahan semakin rumit. Aku butuh dirimu untuk bisa menyelesaikan masalah ini," saat Varo masih berbicara, jari-jari tangan Ana mulai bergerak satu-satu. Namun, matanya masih tetap terpejam.
"Sayang, ini aku!" seru Varo berdiri dari kursi untuk menekan tombol seperti yang Dokter Rosita tadi katakan.
"Eum...!" Ana hanya bergumam kecil, dengan tangan memijit kepalanya yang masih terasa pusing.
"Sayang, mana yang sakit? Ini aku sudah ada di sini," tanya Varo semakin khawatir mendengar Ana seperti merintih menahan sakit.
"Ana, ini aku sayang. Coba buka matamu dengan pelan. Lalu katakan bagian mana yang sakit." tidak menyerah dan terus mengucapkan kata sayang, karena dia memang sangat mencinta dan menyayangi Ana.
Mendengar suara Varo yang terus memanggil namanya. Ana pun mulai membuka matanya perlahan. Baru saja membuka matanya, tanpa bisa di bendung lagi. Ana langsung menangis tapi tidak ada suaranya. Hanya air matanya saja yang menetes.
Cup!
"Menagislah!" Alvaro mengecup lama kening istrinya. Lalu ia peluk tubuh sang istri yang bergetar karena menahan tangisnya. "Jangan banyak pikiran, tidak ada yang terjadi antara aku dan Izora." ucap Varo dengan suara lembut. Dia harus menjelaskan pada Ana dengan pelan-pelan. Agar istrinya tidak mengalami shock.
Cup!
"Maafkan aku, sudah membuatmu kecewa." meminta maaf lagi dan memberikan ciuman pada kening istrinya. "Dengarkan aku, aku punya berita bahagia. Sekarang di sini, di dalam sini sudah ada Varo junior." kata pemuda itu menuntun tangan Ana untuk menyentuh perutnya yang masih datar.
"A--apa?" Ana semakin menangis mengetahui bahwa ada Varo junior pada rahimnya.
Ceklek!
__ADS_1
Pintu ruang rawat Ana terbuka lebar oleh dua orang wanita.
*BERSAMBUNG*...