Cleaning Servis Milik CEO

Cleaning Servis Milik CEO
Jauhi Ana.


__ADS_3

Dari pagi Alvaro terus bekerja karena saat waktunya pulang, dia mau semua pekerjaannya sudah selesai. Varo berencana pergi kerumah Ana untuk melihat keadaannya.


Gara-gara Ana deman, membuat pemuda itu bekerja tidak tenang. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Jadi Varo masih memiliki waktu bekerja setengah jam kurang lebih.


Tok ...


Tok ...


"Masuk!" ucap Varo tetap tidak mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Kak, ada yang ingin aku tanyakan padamu." kata Artha begitu masuk dan menutup pintunya kembali.


"Katakan!" seru Varo sedikit cuek.


"Apa maksud kakak memindahkan Ana menjadi pegawai Clening Servis dalam ruangan ini?" setelah beberapa hari mencari Ana tidak bertemu. Membuat Artha nekad menemui bagian HRD untuk menanyakan keberadaan sang pujaan hati. Namun, betapa kagetnya dia setelah mengetahui kalau gadis tersebut sudah menjadi pegawai khusus kakak sepupunya.


"Memangnya kenapa?Apa salahnya bila aku memidahkan dia bekerja dalam ruangan ku?" masih tetap menjawab dengan santai, karena Varo merasa tidak ada yang aneh bila memindahkan siapa saja. Meskipun sebenarnya dia memiliki alasan memindahkan Ana kerja bersamanya.


"Kak, aku bukan orang bodoh. Jangan coba-coba kakak mempermainkan Ana. Dia gadis yang baik." seru Artha menahan rasa kesalnya pada sang kakak.


"Aku tidak pernah mengatakan kalau kau bodoh. Sama aku juga tidak pernah mempermainkan siapapun. Jadi jangan asal bicara." Varo menutup laptop dihadapan nya dan menatap Artha yang terlihat sedang menahan kesal padanya.


"Ck, aku yakin kakak ada maksud tertentu memindahkan Ana bekerja disini." tebak Artha yang sangat paham seperti apa sifat kakak sepupunya itu.


"Kau benar! Aku memindahkan Ana karena ingin menjahui mu dari nya."


"Apa maksudnya menjauhi Ana dari ku? Kakak jangan pernah ikut campur urusan pribadi ku." mendengar penjelasan Varo membuat Artha tidak bisa menahan rasa kesalnya lagi.

__ADS_1


Artha ... bila kau perduli pada Ana. Maka jauhi dia. Kau tidak mau kan bila ayah dan ibumu menyakiti dia karena kau bersahabat dengan nya?"


"Apa---" mendengar ucapan kakak sepupunya membuat Artha langsung termangu ditempatnya berdiri.


"Iya, bila kau tidak mau dia menjadi korban keserakahan orang tua mu. Maka jauhi dia mulai dari sekarang." Varo memang tidak pernah berbicara dibelakang Artha seperti apa kelakuan paman dan bibinya.


"Tapi aku hanya ingin berteman dengannya." jawab Artha lemas seketika setelah diingatkan bagaimana kelakuan kedua orang tuanya.


"Apa sebelum mereka menyakiti Eca menanyakan lebih dulu gadis itu sahabat atau kekasih mu? Artha, kau lebih mengenal seperti apa sifat kedua orang tua mu, 'kan. Jadi pikirkanlah baik-baik apa yang aku katakan ini." ucap Varo sambil menepuk pundak sepupunya. Lalu setelah mengambil jas kerja yang disampirkan pada kursi kebesaran Ravindra. Pemuda itu pergi meninggalkan Artha didalam kantor nya.


Sebetulnya meskipun diantara mereka berdua terlihat cuek dan tidak perduli satu sama lain. Namun, keduanya saling menyayangi. Hanya saja mereka tidak pandai menunjukkannya dan cukup mereka berdua saja yang tahu seperti apa perasaannya masing-masing.


Tiba di loby perusahaan. Mobil mewah Varo sudah disiapkan oleh pengawal yang bertugas membawa mobil tersebut keparkiran dan menyiapkannya lagi saat sang presdir ingin pulang ataupun keluar menemui rekan kerjanya.


Braaak ...


Mungkin karena menaiki mobil pribadi, hanya dua belas menit. Varo sudah sampai di depan rumah sederhana milik Ana. Terlihat rumah itu sepi seperti tidak ada orangnya. Namun, jendela depan terbuka belum di kunci. Pertanda kalau Ana ada di dalam rumah tersebut.



"Apa demam nya sangat parah, sehingga tidak bisa menutup jendela nya." ucap Varo turun dari mobil dan berjalan mendekati pintu lalu mengetuknya beberapa kali. Akan tetapi tidak ada sahutan dari dalam.


Tok ...


Tok ...


"Ana, ini aku, Varo! Tolong buka pintunya. Kau baik-baik saja, 'kan?" pangil Varo mulai merasa khawatir.

__ADS_1


"Kenapa tidak ada sahutan? Ana baik-baik saja kan?" bertanya pada dirinya sendiri. Sambil memperhatikan warga sekitar yang terlihat sepi tidak ada orang.


Tok ...


Tok ...


"Ana, apa kau baik-baik saja?" kembali lagi mengetuk pintunya. Tapi tetap tidak ada sahutan seperti sebelumnya.


"Aku tidak boleh hanya diam saja seperti ini. Bagaimana kalau Ana kenapa-napa." ucap Varo langsung saja masuk karena pintunya kebetulan tidak dikunci.


"Tau gak di kunci, sudah dari tadi aku masuk." mengerutuk sambil mencari letak kamar untuk memeriksa keadaan Ana.


Cek ... lek ...


Alvaro membuka pintu kamar yang terletak dekat ruang tamu, ternyata didalam nya kosong tidak ada siapa-siapa. Lalu pria itu pergi menuju kamar satunya lagi yang terletak dekat ruang keluarga. Rumah tersebut memang sederhana tapi memiliki dua kamar tidur, ruang tamu dan ruang keluarga yang tertata sangat rapi.


Kleeeek ...


Begitu pintu tersebut di buka. Varo di buat kaget melihat keadaan Ana.


.


.


.


Hallo kakak semuanya 🤗 Izin promo novel sahabat Mak author ya. Yuk pada mampir dan berikan dukungannya. Terima kasih.😘😘😘

__ADS_1



__ADS_2