
🌾🌾🌾🌾🌾
.
.
Begitu pintu kamar tersebut terbuka. Alvaro langsung kaget melihat Ana sudah tergeletak di atas lantai arah kamar mandi.
"Ana ... Kau kenapa?" Varo mendekati gadis itu lalu digendong dan dibaringkan di atas ranjang yang berukuran sedang.
Dengan sigap Varo menyelimuti tubuh Ana yang sudah dingin karena entah berapa lama dia tergeletak di atas lantai. Ketika Varo meraba keningnya, ternyata terasa panas sama seperti tadi pagi.
Saat hendak menelepon sekertaris pribadinya untuk membawa dokter. Pria tersebut melihat ada bungkus obat-obatan yang baru diminum satu kali setiap tablet nya. Pada kertas luar nya terdapat ada tulisan dokter. Pertanda bahwa gadis tersebut sudah pergi berobat.
"Jadi dia sudah berobat? Kalau begitu aku harus mengambil air hangat untuk mengompres nya." ucap Varo berdiri dari sisi ranjang untuk pergi ke dapur mengambil air hangat. Bukannya dia tidak mau memanggil dokter, hanya saja bingung karena Ana sudah meminum obat dari dokter juga.
"Rumah yang sangat nyaman."kata Varo ketika sudah berada di dalam dapur. Lalu dia merebus air didalam wadah kecil yang tersimpan rapi dengan peralatan dapur lainnya.
Begitu selesai dan sudah mematikan api kompor. Pemuda tersebut kembali ke kamar Ana dengan tangan membawa bascom beserta air hangatnya. Tiba didalam kamar, Vero mencari handuk kecil didalam kamar mandi dan begitu mendapatkan barang yang dicari, pemuda itu langsung saja mengompres Ana yang belum juga sadar dari pingsannya.
"Ana .. ayo sadarlah! Jangan membuatku khawatir melihat keadaan mu seperti ini." ucap Varo sambil menempelkan handuk kecil tersebut.
__ADS_1
"Huh! Untung saja aku kesini. Jika tidak siapa yang akan menolong mu." mengoceh pada dirinya sendiri karena Varo memang sangat mengkhawatirkan gadis itu.
Sampai satu jam berlalu. Terlihat Ana mulai mengerjabkan matanya dengan perlahan.
"An, kau sudah sadar?" Varo yang sedang mengirim pesan pada ibunya kalau malam ini dia tidak bisa pulang, langsung menyimpan benda tersebut kedalam saku jasnya lagi.
"Tuan muda? Apa Saya sedang bermimpi lagi? Atau ini memang nyata?" lirih Ana saat Varo duduk di sisi nya.
"Ini nyata, bukan mimpi. Tadi aku ingin melihat keadaan mu. Namun, karena tidak ada sahutan dari dalam. Aku langsung masuk saja. Kebetulan pintunya tidak kau kunci." bersikap cuek padahal dia sangat senang melihat Ana sudah sadar.
"Benarkah?" seru Ana sambil menggigat-ingat kejadian tadi sore.
"Agh, iya Saya ingat, tadi kepala Saya sangat pusing. Sehabis minum obat, Saya ingin ke kamar mandi. Tapi saat keluar dari sana Saya merasa pusingnya semakin parah, dan setelah itu Saya tidak ingat apa-apa lagi." gadis itu bercerita masih dengan suara lemah, karena pusing di kepalanya belum sembuh total.
Ana menggelengkan kepalanya karena setelah tadi pagi dia belum makan apapun. "Belum, Saya belum makan." jawab Ana masih tetap bicara pormal meskipun Varo sudah melarang nya.
"Tunggu disini, aku akan membuatkan bubur untuk mu. Setelah makan, kau harus minum obatnya lagi." Varo berdiri lalu sebelum kembali ke dapur dia melepaskan jas kerjanya dulu.
"Tapi, Tuan mud---"
"Diam disini! Atau aku akan membawamu kerumah sakit." sekarang Varo mengerti kenapa gadis itu bisa pingsan. Padahal hanya demam biasa. Itu karena Ana minum obat tapi tidak makan apapun.
__ADS_1
Mendapat ancaman seperti itu tentu saja membuat Ana langsung diam tidak berani membantah. Gadis itu sangat takut pada ruangan rumah sakit, karena dia menyaksikan kedua orang tuanya menghembuskan nafas di dalam ruangan tersebut.
"Tunggulah sebentar, aku tidak akan lama." kata Varo mengelus kepala Ana sebelum pergi dari sana.
"Ada apa ini? A--aku, aku tidak sedang bermimpi 'kan?" Ana yang sakit dibuat lemas mendapatkan perlakuan manis dari sang bos. Laki-laki yang menjadi cinta ilusinya.
"Ana ... tahan! Jangan berharap lebih. Dia sudah menjadi milik orang lain. Entah bagaimana nasibku bila keluarganya mengetahui kalau tuan muda baik kepada ku." sebetulnya menjadi Clening Servis khusus untuk ruangan CEO. Bukanlah pilihan yang tepat bagi nya, karena Ana akan tersiksa sendiri dengan kedekatan mereka.
Meskipun di satu sisi, hatinya sangat senang bisa berdekatan dengan Varo. Namun, disisi lainnya Ana tersiksa menahan hatinya agar tidak melampaui batas. Dia harus sadar ada jarak diantara mereka begitu luas.
Tidak sampai satu jam. Alvaro sudah kembali kekamar sambil membawa bubur dan air minum yang sudah dia siapkan di atas nampan.
"Ini buburnya sudah siap, ayo duduk biar aku suapi. Ini bukan bubur sembarangan, tapi bubur buatan CEO" kata Varo meletakkan nampan tersebut dia atas meja kecil yang ada di sana. Walaupun hanya bubur biasa, tapi dia sangat bangga bisa membuat nya
"Terima kasih, Tuan muda! Tapi biarkan Saya makan sendiri. Saya sudah sembuh." Ana langsung duduk meskipun kepalanya masih pusing.
"Jangan terlalu memaksa, kamu belum sembuh." cegah Varo saat Ana ingin makan sendiri.
"Saya tidak apa-apa. Biar Saya makan bubur nya sendiri." gadis itu berusaha menolak karena tidak ingin semakin jauh dengan perasaan yang dia miliki.
"Diamlah! Biar aku menyuapi mu. Setelah itu baru minum obatnya." seberapa kuat Ana menolak nyatanya pria itu tetap tidak mau menyerah.
__ADS_1
"Tuan kenapa Anda baik sekali pada Saya? Tolong jangan seperti ini, jangan membuat Saya lupa pada batasan kita." Ana yang sudah tidak tahan ingin mengetahui kenapa Varo baik terhadapnya, akhirnya bertanya sambil menagis.