Cleaning Servis Milik CEO

Cleaning Servis Milik CEO
Mengusir Seseorang.


__ADS_3

🌾🌾🌾🌾🌾


.


.


.


Jam setengah sebelas malam. Varo baru tiba di kediaman mewah Ravindra. Terlihat di dalam rumah sudah sepi tidak ada siapa-siapa. Mungkin karena sudah larut malam, jadi semuanya sudah kembali ke kamar mereka masing-masing. Lalu pria itu langsung saja berjalan menuju lantai atas.


Cek... lek....


Suara pintu yang di buka oleh Varo begitu tiba di depan kamarnya. Setelah melepaskan jaket yang di pakainya. Varo pun langsung naik ke atas ranjang lalu mengeluarkan HP miliknya dari dalam saku. Tujuannya adalah ingin melihat hasil curianya malam ini.


Begitu sudah melihatnya. Pria itu langsung tersenyum-senyum sendiri.


"Aaaah ... dia imut sekali!" ucap Varo gemas menatap layar ponselnya.


"Kenapa kau membuatku penasaran, Ana? Sebelumnya aku tidak pernah sepenasaran ini pada seorang gadis?" mengeluh seakan-akan semuanya salah Ana. Padahal gadis tersebut tidak tahu apa-apa.


"Tapi ... apakah kau sudah memiliki kekasih?" bertanya lagi pada poto yang di ambilnya secara diam-diam.


"Agh entahlah! Mau kau sudah memiliki kekasih atau belum, itu semua bukan urusan ku 'kan." ucap Varo melempar benda pipih itu sembarang arah. Dia masih belum paham apa yang sudah terjadi pada dirinya sendiri.


Bila ada orang lain yang melihatnya, maka orang tersebut akan mengira Varo sudah gila. Dia yang bertanya, lalu dia sendiri yang marah.


Tidak lama setelah itu. Alvaro meraih kembali HP yang tadi sudah di lempar. Lalu dia membuka galeri dan melihat poto-poto dia bersama tunangannya.

__ADS_1


"Izora ... tidak lama lagi aku akan menikah dengannya. Apa dia benar-benar akan berhenti dari pekerjaan tersebut?" beberapa menit lalu berbicara pada poto Ana. Bertanya apakah gadis itu sudah memiliki kekasih atau belum.


Tapi belum ada lima menit Varo sudah menganti topik, yaitu tentang calon istrinya yang sekarang sedang berada di luar negeri. Dia bertanya sendiri dan di jawab sendiri juga. Entah apa yang sedang pria itu pikirkan? Sehingga dalam waktu bersamaan dia memikirkan dua orang wanita sekaligus. Atau boleh di katakan Varo seperti mesin yang sedang konslet.


"Huh ... kenapa sekarang aku tidak semangat seperti kemarin-kemarin yang ingin segera menikahi Izora, ya?" dulu bila sudah membahas hubungan dengan tunangannya Varo memang selalu bersemangat. Tapi rasa itu mulai berubah di saat hari ulang tahunnya sang tunangan yang berjanji akan kembali, ternyata malah tidak jadi datang, karena Izora harus menemani seorang pria menghadiri acara penting.


Dari sanalah Varo merasa dirinya tidak berarti apa-apa bagi Izora. Meskipun wanita itu sudah menjelaskan bahwa dia benar-benar tidak bisa datang, karena pria yang dia temani adalah orang sangat berjasa dalam karier nya.


Bila tidak melihat berita di internet. Maka sampai sekarang Varo tidak pernah tahu kalau wanita yang dia cintai sudah berbohong pada nya. Saat acaranya berlangsung Izora beralasan sedang sakit makanya tidak bisa kembali. Namun, setelah Varo menanyakan berita di internet barulah dia mengakuinya.


"Semakin hari, aku semakin tidak mengenal Izora yang aku cintai dulu. Kau tahu betapa aku mencintaimu Izora, apapun akan aku lakukan bila kau mau berhenti dari pekerjaan mu." malam ini bukanlah malam pertama, Varo mengeluh tentang tunangan nya. Hampir setiap malam pria itu mengeluh sambil menatap ponselnya.


"Tapi kau malah memilih mempertahankan pekerjaan itu dari pada kembali dan hidup bersama ku." ucap Varo yang terus saja mengeluh sambil menatap poto Izora. Sampai-sampai dia tidak sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, dan sudah hampir satu jam dia memikirkan hubungan mereka.


"Hubungan apa yang kita jalani saat ini. Bila aku tidak ke sana menemui mu, maka kita tidak akan pernah bertemu. Sudah beberapa bulan ini kita tidak berjumpa, karena aku sengaja ingin mendergar mu meminta aku datang. Tapi kau tidak pernah memintanya sampai hari ini. Sepertinya kau tidak betul-betul mencintai ku?" Varo berhenti sesaat lalu kembali lagi bicara meskipun matanya sudah hampir terpejam.


...****************...


Pagi pun tiba. Ana sudah berangkat kerja seperti biasanya. Pagi ini Ana sedikit terlambat, karena tadi malam dia susah tidur gara-gara memikirkan pertemuannya dengan Varo yang tidak di sangka-sangka.


Bisa melihat Varo dari jarak jauh saja, Ana sudah bahagia. Apalagi bisa duduk bersama sambil menikmati minum dan makanan ringan di bawah sinaran bulan, bintang yang begitu cerah. Tadi malam, mereka berdua sudah seperti sepasang kekasih yang lagi berkencan.


Di dalam mimpi saja Ana tidak berani punya khayalan bisa duduk bersama sang CEO tempatnya mengais rezeki selama beberapa bulan ini. Tapi tadi malam dia tidak hanya bisa duduk berdua. Namun, sudah bersilaturahmi bibir juga. Aaakkh ... memikirkan hal itu membuat Ana mengelengkan kepalanya berulang kali. Agar pikiran mesum di otaknya bisa sirna.


"Ayolah Ana! Bila kau seperti ini terus, bisa-bisa kau di pecat hari ini juga." Ana memukul pelan kapalanya. Lalu kembali lagi meneruskan pekerjaannya. Saat ini gadis itu sedang membersihkan lantai satu, tempat kemarin pagi dia bertemu Varo.


"Aaagggk! Enyahlah dari kepalaku. Aku tidak bisa bekerja bila kau diam di sana." mengoceh karena tidak bisa pokus menyelesaikan pekerjaan yang tinggal sedikit lagi. Sampai-sampai tidak sadar ada orang di belakangnya.

__ADS_1


"Siapa yang kau suruh enyah?" tanya Varo dari belakang tubuh Ana. Dia sengaja berjalan pelan setelah melihat gadis itu memukul kepalanya sendiri.


"Siapa lagi kalau bukan tu---"


Ana tidak melanjutkan lagi ucapannya. Namum, dia langsung menoleh ke belakang. Untuk melihat siapa yang ikut menimpali perkataan nya.


"Tu--tuan mu--muda!" Ana menelan Saliva nya karena hampir saja dia kebablasan membicarakan bos nya yang ternyata ada di sana.


"Kenapa? Setiap kali melihat ku seperti habis melihat hantu saja."


"Bukan melihat hantu. Tapi karena Saya kaget."


"Hem ... aku percaya! Sekarang cepat jawab. Tadi siapa yang Kau suruh enyah? Apa kau sedang menyuruh aku pergi dari sini? Ck, berani sekali Kau." bertanya penuh penekanan seakan dia menjadi tersangka yang di suruh pergi.


"Eh tidak, tidak! Bukan Anda yang Saya suruh enyah. Tapi----"


"Tapi siapa? Di sini hanya ada kita berdua?" melihat Ana kebingungan saat menjawab, membuat Varo semakin senang menindas nya.


"Tapi seseorang yang ada di kepala Saya. Iya benar! Saya sedang mengusir seseorang, karena dia membuat Saya tidak bisa pokus bekerja."


"Benarkah? Siapa dia? Berani sekali membuat karyawan ku tidak pokus bekerja."


"Bukan siapa-siapa. Dia orang yang tidak penting. Saya sudah berhasil mengusirnya sekarang. Jadi Anda silahkan kalau mau masuk kedalam lift." ucap Ana setengah mengusir.


Varo saja yang tidak tahu kalau orang yang di maksud adalah dirinya.


"Kau mengusir ku?" bertanya tidak suka, karena dia masih ingin bersama Ana walaupun sambil berdebat.

__ADS_1


"Ada masalah apa?" tanya seseorang yang baru saja datang.


__ADS_2