
🌾🌾🌾🌾🌾
.
.
Empat hari sudah berlalu.
Varo dan Ana masih berada di kota B. Hari-hari di mana hanya ada mereka berdua walaupun terkadang Varo pergi keluar untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda gara-gara ada kesalahan antara rekan bisnis mereka. Padahal seharusnya dua hari saja pekerjaan tersebut sudah beres.
Saat ini keduanya lagi berada di dalam kamar hotel, rencananya malam ini Varo akan membawa istrinya pergi makan malam di luar karena selama berada di sana, boleh dikatakan jika istrinya itu hanya terkurung di dalam kamar hotel saja, ketakutan jika ada yang menyakiti istrinya membuat Varo melarang sang istri pergi sendirian walaupun Ana sudah meyakinkan tidak akan terjadi apa-apa pada dirinya.
"Bagaimana, apa sudah siap? Jika sudah, kita akan berangkat sekarang?" tanya Varo sambil mencium aroma dari rambut istrinya yang lagi duduk di depan meja rias. Wanita muda itu baru saja selesai mengeringkan rambutnya.
Sebetulnya Ana sudah mandi dari dua jam yang lalu. Bila saja Varo tidak meminta jatah karena dari malam pertama mereka belum ada melakukan hubungan suami-istri lagi. Sebab Varo takut inti istrinya belum sembuh. Alhasil sore ini mereka kembali lagi melakukan penyatuan.
"Sebentar lagi, ini semua gara-gara dirimu." sungut Ana sambil mendorong dada Varo agar menjauh tidak mengangu dirinya. Jika terus dibiarkan, bisa-bisa mereka tidak jadi berangkat.
Cup!
"Maaf, aku tidak bisa menahannya lagi," ucap Varo memberikan ciuman lebih dulu sebelum menjauh karena Ana akan menyisir rambutnya. Lalu dia berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Sambil menunggu sang istri, Varo bermain ponsel.
Sedangkan Ana tidak menghiraukan lagi ucapan Varo. Dia hanya cepat-cepat menyelesaikan menyisir rambut dan sedikit memakai listip agar bibirnya tidak terlihat pucat.
"Sudah, ayo kita berangkat sekarang!" Ana berdiri dan mendekati suaminya.
"Baiklah, ayo!" Varo berdiri sambil menyimpan ponselnya. Setelah mengambil kunci mobil, dan dompet, pemuda itu mengengam tangan sang istri untuk pergi dari sana. Malam ini Varo membawa mobilnya sendiri, karena hanya ingin bersama istrinya saja. Sedangkan Sekertaris Arsad dia suruh mencari hiburan sendiri.
Selama dalam perjalanan menuju ke Restoran mewah yang sudah dipesankan oleh Sekertaris Arsad, merek saling bercerita dan bergurau. Tidak ada beban yang keduanya rasakan, karena untuk saat ini mereka hanya ingin hidup tenang. Setelah pulang dari bulan madu entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
__ADS_1
Begitu sampai Varo turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil, karena walau hanya hal sederhana Varo ingin Ana merasa nyaman saat berada di sisinya.
"Ayo!" kata Varo sambil mengulurkan tangganya. Tentunya Ana akan menerimanya dengan senang hati. Wanita itu benar-benar merasa bahagia, walaupun sudah tiga hari terkurung di dalam hotel dan seperti wanita simpanan. Suami Ceo nya selalu memperlakukan Ana penuh cinta.
"Awas, pelan-pelan saja." Varo mengingatkan seperti Ana kecil. Ana hanya tersenyum sambil mengeratkan rangkulan tangannya pada lengan sang suami.
"Apa kita memesan di ruang privat?" tanya Ana karena mereka melewati lantai satu begitu saja dan berjalan naik menuju lantai atas.
"Eum, iya. Di sana pemandangannya sangat bagus." jawab Varo yang sudah mencari tahu tempat terbagus dan romantis di kota B.
"Terima kasih" Ana tersenyum pada Varo yang juga tersenyum pada dirinya. Rasanya dunia hanya milik mereka berdua dan yang lain hanya mengontrak. Tanpa keduanya sadari jika ada seseorang yang melihat mereka masuk ke Restoran tersebut.
"Wah, ini sangat indah!" seru Ana begitu mereka tiba di tempat yang sudah disiapkan. Tempat tersebut berada di lantai dua dan berhadapan dengan Laut.
"Apa kau menyukainya?" tanya Varo kembali lagi memeluk istrinya yang sudah duduk.
"Sangat, tempatnya sangat indah. Aku menyukainya."
"Benarkah?" Ana melihat keatas untuk menatap muka suaminya yang setengah menunduk karena posisi Ana jauh lebih pendek darinya.
Cup!
"Benar!" jawab Varo sudah berhasil mengecup bibir Ana walaupun hanya sekilas. Setelah itu dia melepaskan pelukannya dan ikut duduk di sebelah tempat istrinya. "Mari kita habiskan waktu bulan madu kita di kota ini, karena setelah kembali kita tidak bisa bebas seperti ini, sampai nenek memberi restu nya."
"Eum, iya." Ana hanya tersenyum. Tidak lama setelahnya datang dua orang pelayan mengantar makanan untuk mereka berdua. Lalu pelayan tersebut menghidangkan dengan rapi dan pergi lagi dari sana.
"Ayo kita makan malam dulu, selagi masih hangat. Setelah ini kita jalan-jalan di taman yang kita lewati tadi." kata Varo sudah memiliki banyak persiapan untuk menghabiskan waktu berdua. Ana hanya mengiyakan karena memang sudah waktunya mereka makan malam.
Tiga puluh menit kemudian mereka sudah pergi meningalkan tempat tersebut. Tujuan selanjutnya adalah Taman Ibu kota yang ramai dikunjungi warga setempat.
__ADS_1
Melihat Varo dan Ana sudah keluar dari Restoran tersebut wanita yang melihat saat mereka masuk mengikuti mengunakan mobilnya. Secara diam-diam wanita itu mengikuti mobil Varo dari belakang.
"Brengsek!" umpat kasar wanita itu sambil memukul setir mobilnya sendiri. "Jadi karena sudah memiliki kekasih Varo tidak mau mengangkat telepon dariku." ucapnya lagi menahan kesal. Wanita itu adalah Eca yang tidak sengaja bertemu dengan Varo beberapa hari yang lalu. Mereka sudah bertukar nomor ponsel. Namun, sialnya Varo tidak pernah mau mengangkat telepon dari Eca walaupun sekedar membalas pesan darinya saja.
Sementara itu di dalam mobilnya sambil menyetir mobilnya Varo terus mengengam tangan sang istri mengunakan tangan yang satunya. Sesekali dia mengecup dan mengelus tangan Ana. Wanita itu memang biarkan karena semenjak mereka menikah Varo menjadi Ceo bucin akut, bukan ceo galak lagi.
"Apa tidak apa-apa parkir mobil di sini?" tannya Ana karena saat ini mereka berdua sudah turun dari mobil.
"Tentu saja tidak apa-apa. Ayo kita masuk ke dalam." Varo menarik lembut tangan istrinya. "Sepertinya tempat ini lebih indah daripada Taman di kota kita," kata Varo merangkul bahu Ana sambil berjalan di jalan setapak yang ada di Taman tersebut. Tangan satunya ia masukan ke dalam saku celananya.
"Iya, ini sangat indah daripada tempat kita." Ana membenarkan sambil menikmati sejuknya angin malam yang mulai berhembus semiliran. Mereka berdua terus berkeliling sampai menemukan tempat yang cocok untuk mereka bersantai.
"Sayang, sepertinya di sebelah sana lebih indah." kata Varo menunjuk bangku yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri saat ini. Lalu pasangan suami istri itu pun menuju ke sana. Berharap bisa menikmati kebersamaan mereka. Namun, baru saja mereka berdua duduk, seseorang datang memangil nama Varo.
"Varo... kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini." ucap Cea dengan senyum sumbrigah nya.
"Eca!" seru Varo terkejut karena tidak menyangka bisa bertemu dengan mantan kekasihnya saat masih SMA. "Sedang apa Kau di sini?"
Eca tersenyum lebih dulu sebelum menjawab sambil matanya memperhatikan gadis yang dirangkul oleh Varo. "Inikan Taman, jelas saja aku lagi bersantai." jawabnya tersenyum puas karena berhasil mengagalkan Varo pacaran. Ia tidak tahu saja jika Varo bukan bersama pacarnya, akan tetapi bersama istrinya.
*BERSAMBUNG*...
.
.
.
Sambil menunggu bbg Varo update. Yuk mampir baca novel sahabat Mak Author juga.
__ADS_1
Terima kasih😘💕