
🌾🌾🌾🌾🌾
.
.
"Kenapa sampai separah itu? tanya Ana tidak habis pikir. Haruskah gara-gara pernikahan mereka Varo harus meninggalkan perusahaan yang selama ini dia emban pada pundaknya sendiri.
"Nanti bila sudah saatnya, aku akan menceritakan padamu. Untuk saat ini, tolong percayalah, karena hanya itu yang aku butuhkan." Varo sedikit tersenyum seraya menyentuh tangan calon istrinya.
"Eum, aku percaya padamu! Mari kita berjuang bersama." sahut Ana ikut menyatukan jari-jari tangan mereka berdua. Seperti apa yang Varo lakukan padanya.
"Terima kasih! Aku berjanji, semua ini tidak akan lama. Setelah waktunya tiba, maka kita akan tinggal bersama. O'ya setelah kita menikah kau pindah saja dari sini. Aku sudah menyiapkan rumah untuk keluarga kecil kita nanti." tutur pemuda itu yang lupa memberi tahu kalau dia juga memiliki rumah sendiri selain rumah keluarga Ravindra.
"Hah, tidak! Biarkan aku tinggal disini. Setidaknya sampai kita memberi tahu nenekmu." tolak Ana dengan cepat. Bukannya tidak ada alasan dia menolaknya. Gadis itu tidak ingin, bila sampai dinilai hanya sebagia wanita simpanan saja, apabila tinggal dirumah suaminya. Sebab hubungan keduanya, masih dirahasiakan.
"Tapi--- An,, aku mengkhawatirkan dirimu bila tinggal disini sendirian." ungkap Varo karena memang hal itu yang dia khawatirkan. Takut, kalau tiba-tiba neneknya tahu. Lalu menyuruh seseorang buat menyakiti Ana.
"Tidak ada yang akan menyakiti aku. Tenanglah! Aku sudah biasa hidup sendiri." jawab gadis itu dengan senyuman untuk menyakinkan calon suaminya bahwa semua akan baik-baik saja.
"Oke, jika itu keputusan mu, aku menurut saja. Tapi Senin pagi kau akan ikut bersamaku ke kota B. Kemungkinan, kita akan berda disana selama satu Minggu." jelas pemuda itu yang sudah tidak sabar untuk berangkat ke sana.
"Iya, kalau begitu aku akan menyiapkan barang-barang yang aku butuhkan." Ana yang tidak memiliki sanak saudara atau teman dekat, ingin menyerahkan hidupnya pada pria yang mengaku menyukai dirinya.
Meskipun dia sendiri belum seperti apa untuk kedepannya nanti. Akankah dia dan Varo tetap bersama. Tidak hanya masalah harta mereka yang berbeda jauh. Namun, juga sebelum ini Varo pernah mencintai gadis lain, selain dirinya.
"Tidak usah membawa barang apapun. Cukup bawa tubuhmu saja, karena semua keperluanmu sudah disiapkan oleh Sekertaris pribadi ku." Cegahnya lagi, karena Varo tidak ingin membuat Ana repot.
Pria itu bertekad, ingin membahagiakan Ana, bukan merepotkan nya. Walaupun Varo mengetahui ada keraguan dihati Ana tentang perasaannya. Intinya mereka berdua sedang berjuang bersama.
"Tapi---"
Cup ...,
"Tidak ada tapi-tapian! Cukup dengarkan saja perkataan ku." sela Varo sudah menyambar bibir ranum calon istrinya. Lalu setelah itu dia kembali lagi berkata.
"Sekarang aku mau pulang dulu, takut ada yang curiga karena sampai jam segini aku belum sampai kerumah. Kau istirahat yang cukup. Mungkin besok aku tidak akan ke sini. Bila butuh sesuatu, kau telepon saja." ucap pemuda itu sambil melihat jam pada pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam.
__ADS_1
"I--iya, pulanglah kalau begitu." cicit Ana masih merasa berdebar-debar di dalam hatinya karena mendapatkan serangan tiba-tiba.
"Tidak usah kaget, setelah kita menikah. Maka kau akan terbiasa." kata Varo tergelak melihat pipi calon istrinya langsung memerah karena malu. Wajar sajalah dia malu, bagaimanapun Ana belum pernah berpacaran.
Namun, meskipun begitu. Melihat Varo berdiri, Ana pun ikut berdiri dari sofa. Lalu berjalan menuju pintu keluar untuk mengantarkan kepergian calon suaminya. Hanya satu malam lagi, status tersebut akan berubah, karena mereka akan menikah di hari Minggu.
Cup ...,
"Aku pulang dulu! Sebelum tidur, periksa semua pintu." ucap Varo mengecup tangan Ana. Entah mengapa, semenjak dia mengungkapkan perasaannya. Varo tidak tahan bila tidak mencium gadis polos tersebut. Apalagi dia tahu kalau dirinya, adalah yang pertama bagi calon istri kecilnya itu.
"Iya, kamu juga hati-hati!" kata Ana masih merasakan panas dikedua pipinya.
"Hem!" jawab Varo hanya berdehem disertai anggukan kepalanya. Setelah itupun dia kembali masuk kedalam mobilnya. Untuk saat ini dia harus bisa menyembunyikan hubungan mereka. Makanya dia harus cepat-cepat pulang, agar si nenek tuanya tidak curiga.
"Apakah aku sangup tinggal terpisah dengannya?" tanya Varo setelah mulai menjalankan kendaraan mewahnya.
"Sekarang saja, aku berat untuk berjauhan. Apalagi nanti, setelah dia utuh menjadi milikku." kembali bergumam.
"Tapi semua ini demi kebaikan kami berdua. Benar kata ibu, Ana hanya gadis polos. Belum tentu dia akan setangguh ibu memperjuangkan cinta mereka." sepanjang perjalanan dari rumah Ana sampai ke kediaman keluarga Ravindra. Waktunya hanya Varo habiskan untuk memikirkan Ana.
Hampir tiga puluh menit. Dia pun sudah tiba di garasi tempat dia menyimpan mobilnya. Lalu dia berjalan keluar dari sana.
Namun, saat dia melewati ruang tamu. Disana hampir semua keluarganya sedang berkumpul, karena ada tamu. Yaitu kedua orang tua Izora dan juga nenek dari mantan tunangannya itu.
"Ini dia orangnya!" ucap Rosa begitu melihat kedatangan Varo.
"Sayang--- Kemarilah, Nak. Ada yang ingin kami bicarakan." pangil Rosa pada cucu kebanggaannya agar duduk bersama mereka. Entah rencana apa lagi yang sedang wanita tua itu rencanakan.
Berhubung ada tamu dan kebetulan Varo bukanlah cucu yang durhaka. Dia menurut saja, lalu memilih untuk duduk di sofa singel. Baru setelahnya dia bertanya.
"Ada apa?" memang dia menurut saat disuruh untuk duduk. Namun, dia menampilkan wajah tidak bersahabat. Sebetulnya, tidak perlu bertanya lagi, karena Varo sudah tahu pasti ada hubungannya dengan Izora.
"Tidak perlu buru-buru! Apa kau tidak ingin menyapa nenek dan kedua orang tua tunangan mu." kata Rosa memberi kode agar cucunya itu berlaku sopan pada tamunya.
"Nenek, aku tegaskan sekali lagi. Aku dan Izora tidak memiliki hubungan apa-apa. Dia bukanlah tunangan ku." sentak Varo merasa kesal begitu mendengar perkataan sang nenek.
Bukannya dia menyapa atau menyalaminya. Akan tetapi Varo langsung emosi mendengar kata tunangan. Padahal sudah jelas pertunangan tersebut sudah dibatalkan.
__ADS_1
"Nak, kami tahu kalau dirimu kecewa pada Izora. Namun, ketahuilah dia terpaksa melakukannya." tutur Meri, nenek Izora.
"Ck, dari dulu juga seperti itu. Sekarang aku dan cucu Anda tidak memiliki hubungan apapun. Jadi berhentilah bicara omong kosong dihadapan Saya." Varo tersenyum mengejek.
Mungkin bila dia belum bertemu dengan Ana, gadis Clening servis yang sekarang sudah menjadi miliknya. Varo akan diam saja saat Izora mempermainkan hubungan mereka. Akan tetapi sekarang semuanya sudah berubah.
Satu-satunya wanita yang akan dia perjuangkan adalah Ana Rehana. Bukan Izora Lamia mantan tunangannya lagi.
"Varo--- Kau jangan seperti ini. Dengarkan apa yang akan disampaikan oleh orang tua Izora." melihat Varo seperti itu. Rosa pun tak tinggal diam, karena acara pertemuan malam ini adalah rencana dia dan Meri.
"Apa yang ingin kalian katakan. Jika hanya meminta aku meneruskan pertunangan yang sudah putus, maka maaf, aku tidak bisa!" tegas pemuda itu hendak berdiri dari tempatnya.
Akan tetapi ucapan dari laki-laki yang pernah hampir menjadi calon mertuanya membuat dia duduk kembali.
"Varo--- Jika kau membatalkan pertunangan dengan putriku karena ada gadis lain yang mengoda mu. Maka jangan salahkan, bila Om menyakitinya." ancam pria itu tidak terima bila pernikahan Varo dan putrinya dibatalkan.
Saat kedua orang tua Varo mengembalikan cinci tunangan dan memutuskan hubungan tersebut. Mereka belum berani berkata apa-apa, karena mengetahui kalau letak kesalahannya ada pada Izora sendiri.
Mendapatkan ancaman tersebut Varo kembali tersenyum mengejek. Lalu diapun menjawab dengan ancaman pula.
"Lakukanlah jika Anda bisa. Maka jangan salahkan Saya juga, bila menarik semua saham Ravindra Company dari perusahaan Anda."
"Varo, apa maksudmu! Kau tidak bisa sembarangan menarik saham Revindra tanpa persetujuan dari nenek," bentak Rosa yang tidak menyangka kalau rencanya akan kacau seperti saat ini.
"Ha ... ha ... Jika nenek bisa menghentikannya, maka lakukanlah! Kalau nenek lupa, sampai saat ini aku masih menjadi Presdir Ravindra Company. Semuanya berjalan atas perintah ku. Jadi aku peringatkan, jangan pernah mengancam ku."
Malas untuk berdebat. Varo langsung berdiri dan meningalkan tempat tersebut. Menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas.
*BERSAMBUNG* ...
.
.
.
Izin promo lagi ya, Kak.
__ADS_1
yuk mampir juga di novel sahabat Mak author.