
🍂🍂🍂🍂🍂
.
.
"Sekarang Nona sarapan dulu, ya." kata si pelayan yang kembali lagi membawa sarapan untuk nona mudanya. Setelah tadi datang membawa air teh hangat.
"Terima kasih, Bi. Tapi Saya lagi tidak mau apa-apa." jawab Ana dengan suara lemahnya.
"Tadi Nona hanya meminum teh hangat yang dimuntahkan lagi, lalu bagaimana mungkin bisa kenyang," si pelayan yang bernama Rani tersebut tetap menyiapkan makanan di atas meja samping tempat tidur. "Ayo Nona, isi perutnya walaupun hanya sedikit saja. Sebelum kita ke rumah sakit untuk periksa, nona harus sarapan lebih dulu, jika tidak mau makan. Maka dokter juga tidak mau memeriksa keadaan pasiennya." bujuk rayu Rani agar Nona mudanya mau makan.
"Tapi Bi, Saya---"
"Huuek!" belum lagi selesai berbicara, Ana sudah kembali muntah pada tempat yang disediakan oleh Rani agar majikannya itu tidak kelelahan bolak-balik ke kamar mandi.
"Huuek! Huuek!" Ana terus saja muntah dibantu oleh Rani memijit pundaknya yang sudah dibanjiri oleh keringat, sama seperti pelipisnya.
"Ini, sebaiknya Nona minum air putih, tapi yang hangat. Biasanya jika asam lambung bila minum air teh akan bertambah mual." ucap Rani menyerahkan satu gelas berukuran kecil. Sebelum naik ke lantai atas tadi, Rani memang sudah antisipasi membawa termos kecil khusus tempat air panas. Buat jaga-jaga bila nona mudanya kembali muntah.
"Eum. terima kasih Bibi," Ana menerima gelas air yang diberikan oleh pelayannya. Lalu setelah meminum setengah gelas air tersebut. Ana memberikan lagi pada Rani.
"Bibi, sekarang kepalaku pusing sekali. Aku ingin tidur, bisakah tolong tinggalkan aku sendiri dulu. Nanti setelah bangun dari tidur, aku berjanji akan makan walaupun hanya sedikit," ucap Ana dengan suara lemas tidak berdaya. Andai saja sekarang ada Varo. Mungkin ia akan menangis dalam pelukan suaminya.
__ADS_1
"Baiklah, Nona tidur saja. Saya akan menunggu di sofa luar ruangan ini. Jika Anda sudah bangun, panggil saja, ya." kata Rani yang tidak bisa juga memaksa, karena dia hanyalah seorang pelayan. Bukan kuasanya bila harus memaksa, tugas dia cuma menjaga Ana apabila lagi berada di rumah.
Ana yang merasa sudah tidak kuat, hanya mengangguk kecil dan mulai memejamkan matanya.
"Varo... kau sebetulnya lagi ada dimana? Apakah sedang pulang ke rumah utama, atau lagi bersama wanita lain? Aku sangat membutuhkan mu, tolong pulanglah!"
Gumam gadis itu menangis dalam diam. Mungkin karena lagi sakit, jadi pikiran Ana sudah kemana-mana. Dia lagi membayangkan, bagaimana jika saat ini suaminya lagi bersenang-senang bersama wanita lain.
"Tolong jangan membuatku curiga pada dirimu, aku sudah menyerahkan seluruh hidupku padamu, Varo. Kau tahu itu, 'kan? Jujur saja, aku takut kau akan meninggalkan aku seperti yang dikatakan oleh para pegawai dan karyawan mu di perusahaan."
Ucapannya lagi karena semakin mengingat suaminya. Rasa kantuk Ana hilang tiba-tiba. Sampai hampir setengah jam kemudian, barulah ia bisa tertidur sambil memeluk guling yang sering dipakai oleh suaminya. Entah mengapa, mencium ada bau-bau parpum sang suami, perutnya terasa lebih baik, tidak mual lagi.
*
Pria yang memilik nama lengkap Alvaro itu tetap tidak mau menemani Izora lagi apabila keluarganya wanita itu sudah tiba. Dia tidak peduli lagi, baik buruknya yang penting gadis tersebut sudah dengan keluarganya.
Kekhawatiran Varo terhadap istrinya semakin jadi, setelah dia mencoba menghubungi Ana. Tapi telepon istrinya tetap tidak bisa dihubungi. Ingin menelepon para pembantu atau sopir pribadi sang istri, ia tidak memiliki nomornya. Sebab sampai saat ini ponsel Varo masih berada di perusahaan.
Alhasil, dari tadi malam Varo mengunakan ponsel milik Sekertaris pribadinya saja. Jika tidak takut Izora bunuh diri, bila dia pulang. Maka dari kemarin siang Varo sudah pulang untuk meminta maaf pada sang istri yang saat ini nyatanya juga lagi sakit di kediaman mereka.
*
*
__ADS_1
Pukul sepuluh waktu dunia halu, kedua orang Izora beserta neneknya sudah tiba di tanah air. Namun, sebelum pulang Varo masih ikut menemani mantan tunangannya periksa kehamilan dan juga penyakitnya, karena orang tua Izora tidak percaya anak gadisnya hamil diluar nikah dan diponis memiliki penyakit kanker serviks.
"Ba--ba--bagaimana i--ini semua bisa terjadi, Nak? Anak siapa yang kau kandung?" tanya mami Izora terbata-bata. Bagaimana mungkin dia tidak shok mendengar kenyataan pahit tersebut. Apalagi ini, calon menantu yang mereka harapkan sudah mengetahui aib putri semata wayangnya.
Air mata seorang ibu langsung luruh saat anak yang mereka besarkan melakukan kesalahan patal sampai harus mengandung anak pria paruh baya yang seumuran dengan ayahnya sendiri. Lebih mirisnya, ternyata Izora sudah berhubungan seperti suami istri dari awal dia merintis karirnya.
Meskipun sebelum melakukan pemeriksaan ulang, Varo sudah menjelaskan semuanya sama seperti yang diceritakan oleh Izora sendiri, tetap saja keluarga wanita itu tidak bisa menerima begitu saja.
Jerit tangis dari ibu dan nenek Izora memenuhi ruang pemeriksaan. Satu-satunya yang tegar adalah ayah Izora, dia memang tidak menangis. Namun, tangan kekarnya sudah dua kali melayang dipipi putrinya yang terus saja menangis ketakutan dan juga menyesali perbuatannya.
Bila saja Izora tidak gila akan karier, maka saat ini dia sudah duduk nyaman menjadi Nyonya Varo Ravindra, akan tetapi yang namanya penyesalan selalu datang belakangan.
Sekarang Varo sudah tidak ingin menikah dengannya lagi. Bahkan secara terang-terangan Alvaro mengatakan sangat mencintai gadis yang ia pilih untuk menjadi pendamping hidupnya saat ini.
"Mami, Nenek... hu... hu... to--tolong maafkan Izora," tangis Izora terus memohon. Sakit dipipinya sudah tidak dia rasakan lagi, karena telah dikalahkan oleh rasa takut bila dia diusir dan ditinggalkan sendirian pada saat lagi hamil dan memiliki penyakit yang bisa saja membuat nyawanya melayang.
"Dasar anak tidak berguna! Masih berani kau meminta maaf, setelah mencoreng nama baik keluarga kita," hardik lelaki paruh baya, yaitu papi Izora. "Coba saja bila kau tidak memilih pekerjaan mu itu, maka semua ini tidak akan pernah terjadi," cecarnya menggebu-gebu penuh amarah yang tidak tahu harus diluapkan kemana.
"Pi, sudahlah! Semua ini sudah terjadi, sekarang cari dokter terbaik untuk menyembuhkan putri kita," cegah mami Izora karena melihat suaminya hendak memukul putrinya yang sekarang berlindung dibelakang tubuh Varo.
Bila tidak ada mantan tunangannya itu. Mungkin saja Izora akan mati dibunuh ayahnya yang memiliki tempramen pemarah. Itulah alasan Varo mau bertahan menemani Izora, dan bantu menjelaskan keadaan wanita tersebut. Alvaro sudah sangat mengenal mantan calon mertuanya, jadi sudah tahu sifat buruknya bila sedang marah.
*BERSAMBUNG*...
__ADS_1