Cleaning Servis Milik CEO

Cleaning Servis Milik CEO
Pikiran mesum.


__ADS_3

🌾🌾🌾🌾🌾


.


.


"Aaaghkk!" Ana yang tidak bisa menahan gejolak daripada reaksi tubuhnya. Kembali lagi mengeluarkan suara merdunya.


Saat Ana sudah kehabisan pasok oksigen. Varo pun melepas tautan bibir mereka. Seiring berjalannya waktu, Ana yang polos akhirnya bisa membalas ciuman dari Varo suaminya.


Dengan nafas terengah-engah keduanya menempelkan kening mereka. Lalu Varo mencium pelipis sang istri dan memeluknya cukup erat.


Cup!


"Aku mencintaimu," ucap Varo yang baru kali ini mengatakan kata cinta. Biasanya dia hanya menyebut kalau dirinya menyanyagi Ana.


"Nanti malam kita teruskan lagi, sekarang istrihatlah! Aku mau meneriksa pekerjaan sebentar." lanjutnya lagi melepaskan pelukannya karena sedari tadi, sang istri tidak membalas pelukan tersebut.


"Bukannya katamu hari ini tidak ingin bekerja?" tanya Ana yang masih ingat ucapan Varo saat mereka masih berada didalam mobil.


"Memang tidak, aku hanya ingin memeriksa beberapa email saja." Varo menatap bibir sang istri yang sedikit membengkak karena ulah dirinya. Tersenyum, lalu berkata. "Ayo kita pindah ke ranjang, aku akan membawa laptop kesana." ajaknya menarik tangan Ana berdiri dari atas sofa.


"Apa bisa?" tanya Ana asal karena dia begitu malu ketika mendengar Varo mengajaknya naik ke atas ranjang. Padahal bukan untuk berbuat sesuatu.


"Ana... buang jauh-jauh pikiran mesum mu itu! Varo hanya mengajak mu untuk beristirahat,"


Gumam Ana sambil berjalan kearah ranjang king size. Tiba-tiba saja pipinya kembali terasa panas, karena pikirin mesumnya.


Kamar tempat mereka menginap begitu indah, sepertinya bila tidak memiliki pekerjaan. Siapa saja pasti betah berada disana. Apalagi bila pengantin baru seperti mereka berdua.


"Kenapa tidak bisa? Hanya memeriksa lewat laptop." jawab pemuda itu berhenti sesaat lalu bicara lagi.


"Istirahatlah duluan! Aku tidak akan kemana-mana." kata Varo kembali mengulangi perkataannya. Lalu dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi Sekertaris pribadinya.


πŸ“² Varo : "Ar, antarkan laptopnya ke kamar ku!" ucap Varo begitu sambungannya terhubung. Tadi dia lupa jika hanya membawa Ana. Sedangkan barang-barang mereka ditinggal didalam mobil.


πŸ“± Arsad : "Baik Tuan Muda, sebentar lagi Saya memang mau mengantar laptopnya." jawab Arsad yang sedari tadi mau ke kamar tuan mudanya.


Namun, karena takut mengangu si tuan muda. Arsad pun mengurungkan niatnya.


πŸ“² Varo : "Baiklah, aku tunggu," Varo langsung memutuskan sambungan secara sepihak.

__ADS_1


"Kenapa menatapku seperti itu? Bagaimana jika kau jatuh cinta padaku lagi," tanyanya karena melihat Ana masih berdiri di samping ranjang sambil menatapnya tanpa berkedip.


Fiuuuh!


Varo meniup muka sang istri agar mengedipkan matanya. "Ada apa?" Ana tersadar dan bertanya.


Tok!


Tok!


Sebelum Varo menjawab. Pintu kamar hotel itu ada yang mengetuk.


"Tidak ada apa-apa! Duduklah aku mau membuka pintu sebentar." Varo tidak bertanya lagi karena Sekertaris Arsad sudah mengetuk pintu untuk mengantar laptop dan juga koper kedua majikannya.


Ana hanya mengangguk kecil. Baginya orang yang mengetuk pintu tersebut seperti penyelamat untuk dirinya. Rasanya dia belum siap bila harus memberikan mahkotanya saat ini.


Tapi sialnya, saat Varo baru mencumbu. Ana sudah seperti cacing kepanasan. Jadi sebetulnya dia hanya mencoba mengulur waktu. Setidaknya sampai malam, itulah yang dipikirkan oleh gadis tersebut.


Ceklek!


"Ini Tuan Muda! Mereka juga ingin mengantar koper Anda dan nona." ucap Arsad begitu pintunya dibuka.


"Iya, ayo bawa masuk dan letakan saja disana. Nanti biar kami sendiri yang membereskannya." Varo mengeser tubuhnya agar Arsad dan si pegawai hotel bisa masuk untuk mengantarkan barang-barang mereka.


"Oh iya, tidak apa-apa! Letakan saja di samping sofa." jawab Ana.


Lalu Sekertaris Arsad dan si pegawai meletakan sesuai perintah. Setelahnya mereka langsung berpamitan pergi dari ruangan tersebut.


"Jika mau mandi atau berganti pakaian, koper mu sudah ada." Varo membuka koper pakaiannya dan mengambil laptop yang disimpan didalamnya.


"Tidak, nanti saja. Sekarang aku mau menemanimu bekerja." Ana mengeser tubuhnya agar Varo duduk di sana.


"Benarkah, sepertinya aku menjadi lebih semangat." pemuda itu tersenyum dan mendekati sang istri. "Sini, lebih dekat lagi." pinta Varo agar Ana mendekat padanya.


"Huem, iya!" Ana ikut tersenyum dan mengeser tubuhnya. Sesuai permintaan sang suami.


"Bila Kau mengantuk tidur saja, ya. Tidak usah menungguku, karena setelah selesai memeriksa emailnya aku juga akan istirahat." ucap Varo, saat tubuh Ana sudah bersandar pada pundaknya.


"Nanti sore baru kita pergi jalan-jalan. Aku ingin mengajakmu pergi ke pinggir danau yang sangat indah." lanjut Varo sebelum mulai menyalakan laptop untuk memeriksa pekerjaannya.


"Iya, ayo periksalah pekerjaanmu biar aku temani Lagian aku juga belum mengantuk suruh Ana menunjuk pada laptop menggunakan dagunya.

__ADS_1


"Huem, berhubung nyonya Varo yang menyuruh, sekarang aku akan bekerja dulu," tergelak dan mulai memeriksa Email satu persatu.


Meskipun hanya memeriksa ternyata sudah lebih dari satu jam paro belum juga selesai memeriksa semua email tersebut. Ana yang lama-kelamaan mengantuk akhirnya tertidur di samping suaminya.


"katanya tidak mengantuk, tapi baru satu jam saja sudah tidur."cibir Varo seraya memindahkan Ana pada bantal agar gadis itu tidur lebih nyaman.


Cup!


"Tidurlah! Aku masih menyelesaikan pekerjaan ku." memberi kecupan sekilas. Lalu mulai meneruskan pekerjaannya.


Sambil bekerja. Varo melihat kearah istrinya yang tidur dengan nyenyak. Seakan-akan Ana tidak memiliki beban hidup apapun. Padahal begitu banyak cobaan yang dia hadapi.


Hal itu jugalah yang membuat Varo tertarik pada sosok Ana. Gadis yang bisa membuat dia bahagia, walaupun hanya dengan cara sederhana.


Tidak sampai dua puluh menit. Varo sudah selesai memeriksa semua email yang sebetulnya telah diperiksa juga oleh Artha saudara sepupunya.


"Akhirnya selesai juga!" ucap Varo meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Lalu dia bersandar pada bantal sambil menatap Ana dengan lekat.


"Setelah selesai menyelidiki kejahatan yang di lakukan paman dan ayah Izora. Aku akan mencari tahu masalah keluargamu." menarik nafas dalam-dalam, karena sebetulnya saat ini Varo sedang dalam masalah besar. Yaitu masalah sang paman yang sudah menjual saham bagian dirinya pada perusahaan asing dan Varo baru mengetahuinya lima hari lalu.



"Tapi saat ini tolong bantu aku untuk melewati semua masalah ini, karena hanya dirimu yang bisa membuatku merasa tenang." sampai sepuluh menit kemudian. Varo terus saja berbicara sampai matanya terasa mengantuk dan ikut tertidur di samping istrinya.


*


*


Pukul setengah empat sore. Pasangan pengantin baru tersebut baru mengeliat dan membuka mata dengan perlahan.


"Eum! Kenapa berat sekali?" tanya Ana pada dirinya sendiri. "A--a--apakah? Ah, aku, aku pasti tidak salah duga 'kan?" seru Ana membelalakkan matanya, karena baru menyadari jika yang terasa berat adalah kaki suaminya.


BERSAMBUNG...


.


.


.


Sambil menunggu bbg Varo update. Yuk baca karya sahabat Mak author juga. Terima kasih.πŸ™πŸ™

__ADS_1



__ADS_2