
🍂🍂🍂🍂🍂
.
.
"Tuan Muda, perkenalkan ini rekan Saya. Namanya Dokter Ema, dia adalah dokter kandungan yang akan memeriksa, Nona Ana." ucap Dokter Rosita begitu mereka sudah sampai ke ruang USG.
Alvaro hanya mengangguk dan bersalaman biasa. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ana.
"Mari Nona biar Saya bantu," ucap si suster bersiap ingin membantu Ana naik ke atas ranjang untuk melakukan pemeriksaan.
"Tidak perlu, biar Saya yang membantunya," cegah Alvaro memilih mengangkat Ana seperti saat dia menempatkan ke kursi roda.
"Varo, biar aku turun sendiri," Ana. menolak karena malu dilihat oleh Dokter Rosita dan rekannya. Belum lagi para suster bahkan ada keluarga suaminya juga.
"Sudah diam saja, aku tidak ingin kau dan calon anak kita kenapa-kenapa." tidak menunggu persetujuan Ana. Pemuda itu langsung saja mengangkat tubuh kecil sang istri ke atas ranjang.
"Dokter, sekarang Anda boleh memeriksa istri Saya," ucap Varo membuat Dokter Rosita yang menemani tersenyum, seraya mengelengkan kepalanya. Lalu dia pun berkata. "Sepertinya es balok yang diceritakan masyarakat tidaklah benar Tuan Muda, karena menurut Saya, selain romantis, Anda juga orang yang memiliki sifat penyayang."
"Agh, Dokter bisa saja," jawab Varo tersenyum melihat istrinya. Didalam hatinya sangat senang Dokter Rosita memuji dirinya di depan Ana, agar sang istri tahu bahwa dia sangat mencintai istrinya itu.
"Baiklah, kita periksa dulu ya, Nona," ucap Dokter Ema, mulai menyuruh perawatan melakukan tugas mereka masing-masing. Setelah di olesi Gel dan didiamkan beberapa menit. Pemeriksaan pun mulai dilakukan.
"Bagaimana, Dok?" bukan Alvaro yang bertanya, melainkan Serli ibunya. Wanita itu juga ikut masuk, begitu pula Nyonya Rosa ibu mertuanya. Wanita tua itupun ikut masuk. Sedangkan Martin ayah Varo menunggu di luar ruangan. Sebab tidak mungkin dia melihat menantunya di periksa.
Sebelum menjawabnya, Dokter Ema tersenyum lebar. "Ini coba kalian lihat Nyonya, dua butir kecil ini adalah calon bayinya." ucap si dokter mengarahkan alat pada monitor komputer yang berada di sebelah tempat Ana diperiksa.
__ADS_1
"Dokter, maksudnya ba--bagaimana?" tanya Serli tergagap. Dia sudah mengerti apa yang dimaksud Dokter Ema. Berbeda dengan Alvaro dan Ana menantunya, kedua pasangan muda tersebut hanya tahu jika Ana hamil.
"Iya, benar Nyonya, menantu Anda hamil anak kembar," Dokter Ema langsung saja menjelaskan, karena dia tahu kalau Serli pasti sudah mengerti apa yang dia maksud.
"Anak kembar!" seru Nyonya Rosa menarik tubuh Serli agar mundur ke belakang. Sifat arogan dia entah pergi kemana, biasanya dia selalu bisa menjaga image sebagai konglomerat.
"Benar Nyonya besar, cucu Anda sedang hamil anak kembar. Coba kalian lihat ini dan yang ini. Keduanya adalah calon bayi." sela si Dokter Rosita tersenyum bahagia. Dia senang melihat Ana yang disayangi oleh Varo, di tambah lagi sekarang telah hamil anak kembar.
"Tidak bisakah lebih didekatkan lagi? Saya ingin melihat lebih jelas." kata wanita tua itu berjalan semakin mendekati Ana dan Varo cucunya, yang saling menggenggam tangan. Mereka tidak bisa berkata-kata mendengar berita bahagia tersebut.
"Baiklah, tapi mau sedekat apapun. Bentuknya tetap masih seperti kacang hijau ya," si dokter pun memperjelas lagi di titik yang dia katakan adalah calon bayi.
"Sayang, kau dengarkan," Varo mencium berulangkali tangan Ana. "Kau tengah hamil anak kembar," ucapnya lagi tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
"Iya, aku mendengarnya," Ana pun tak kalah bahagia dari suaminya. Padahal dari tadi malam gadis itu menangis memikirkan pernikahan mereka, yang dia kira akan segera berakhir.
"Apakah tidak ada obat untuk penguat kandungan?" tanya Nyonya Rosa.
"Obat khusunya tidak ada Nyonya, adapun obat hanya sebagai perantara saja. Semuanya tetap bergantung pada pikiran dan kekuatan tubuh ibu hamilnya itu sendiri,"
"Sayang kau tidak boleh bekerja lagi, kau dengarkan apa yang dokter katakan." merasa ada kesempatan, Varo langsung memutuskan agar Ana tidak usah bekerja.
Apalagi sekarang neneknya sudah mengetahui pernikahan mereka. Tidak ada alasan Varo menyembunyikan status Ana yang merupakan Cleaning Servis nya.
"Bekerja? Dia bekerja di mana?" Nyonya Rosa kembali bertanya. Tadi Martin putranya memang belum menjelaskan status Ana dan siapa gadis itu sebenarnya.
"Ana bekerja di perusahaan, Bu. Nanti saja kita bicarakan, sekarang biarkan Dokter Rosita dan Dokter Ema menyelesaikan tugasnya." Serli menyentuh bahu ibu mertuanya.
__ADS_1
Meskipun Nyonya Rosa tidak pernah menyukainya. Serli tidak pernah dendam dan memaafkan ibu mertuanya begitu saja.
"Iya," jawabnya mengangguk.
"Dokter selesaikan saja pemeriksaan nya," ucap Varo mempersilahkan, karena mereka memang perlu berbicara di ruang keluarga, bukan di tempat umum seperti saat ini.
"Huem," si dokter pun mengangguk dan mulai memberikan penjelasan. Hampir dua puluh menit barulah pemeriksaan selesai. Seharusnya sudah dari tadi selesainya, tapi karena permintaan Varo dan Nyonya Rosa. Si dokter kembali melakukan pemeriksaan ulang.
"Jadi Nona Ana tetap harus melakukan perawatan intensif seperti kata Dokter Rosita, sampai keadaannya benar-benar pulih. Semoga setelah diberi obat penguat kandungan, semuanya akan baik-baik saja." Dokter Ema menaruh kembali alat yang dia gunakan.
"Baiklah, tidak apa-apa, Dok. Terima kasih!" jawab Varo mengangguk mengerti. Lalu dia mengendong kembali Ana dan meletakan di kursi roda seperti tadi.
Meskipun Ana menolak, percuma saja. Sebab suaminya itu tidak akan mendengarnya. Apalagi tahu keadaan Ana yang lemah kandungan, membuat tingkat waspada Varo berkali-kali lipat.
"Dokter Ema, Saya akan mengantar Nona Ana keruang rawatnya," ucap Dokter Rosita tetap mendampingi Ana dan Varo.
"Iya, silahkan Dokter, nanti Anda juga bisa bantu menjelaskan bila Saya lagi tidak ada," tutur Dokter Ema. Setelah itu Varo dan yang lainnya pergi meninggalkan ruang USG.
Setibanya di dalam ruangan tempat Ana di rawat. Dia di baringkan sama seperti tadi. Untuk saat ini Varo benar-benar tegas pada sang istri. Tentunya untuk kebaikan Ana sendiri dan calon anak mereka.
"Tuan Muda, Nyonya, Saya permisi dulu, nanti bila ada apa-apa panggil saja. Saya akan membantu selama Nona Ana dirawat," kata Dokter Rosita yang sudah sejak tadi mendampingi Ana. Meskipun tanpa diminta, tapi dia ingin melakukannya sendiri. Sebab Ana adalah pasien dia juga.
"Dokter, terima kasih! Sejak dulu, dokter selalu membantu Saya," Ana menyentuh tangan Dokter Rosita. Untuk mengucapkan rasa syukurnya karena wanita itu selalu membantu setiap dia sakit.
"Sama-sama, Nona. Apa yang Saya lakukan ini tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan bantuan ayah Nona," jawab si dokter tersenyum. Lalu dia pun pergi dari sana, dan yang tinggal adalah keluarga Varo saja, termasuk Tuan Martin.
"Nenek, duduklah! Untuk saat ini aku tidak ingin membuat masalah yang nantinya bisa membahayakan istri dan anakku." Alvaro menoleh kearah neneknya yang masih berdiri menata Ana. Sedangkan yang di tatap hanya menundukkan kepalanya sambil menggenggam kuat tangan Varo.
__ADS_1
*BERSAMBUNG*...