Cleaning Servis Milik CEO

Cleaning Servis Milik CEO
Untuk ketiga kalinya.


__ADS_3

🌾🌾🌾🌾🌾


.


.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu,dari Ana, membuat Varo membelakangi gadis tersebut dan memasukan kedua tangan sendiri kedalam saku celananya.


"Tolong jangan terlalu baik pada Saya. Antara kita hanya memiliki hubungan perkejaan. Saya tidak ingin orang-orang salah paham karena kedekatan kita" melihat sang CEO hanya diam, Ana kembali lagi berbicara. Walau bagaimanapun dia harus bisa menjaga jarak diantara mereka.


Namun, bila seperti ini terus-menerus, bagaimana mungkin dia bisa menjauh, baru empat hari bekerja dengan Varo saja. Pria itu sudah datang kerumah dan memasakkan bubur untuknya.


Begitu Ana sudah diam, barulah Varo berbalik menghadap gadis itu dan berkata. "Ana ... Aku, aku! Aku ing---"


Ttttdddd ...


"Maaf, aku akan mengangkat telepon sebentar. Habiskan buburnya, setelah itu kau harus minum obat." ucap Varo keluar dari kamar gadis itu untuk mengangkat pangilan telepon dari tunangannya.


πŸ“± Izora : "Sayang kau ada dimana? Kenapa belum pulang?" begitu sambungannya terhubung. Izora langsung bertanya berbagai pertanyaan.


πŸ“± Varo : "Aku sedang dirumah teman ku. Ada apa?" jawab pemuda itu sambil menormalkan jantungnya yang berdegup kencang setelah Ana bicara seperti itu. Untung saja tunangannya menelepon. Kalau tidak, entah alasan apa yang akan Varo katakan. Sebab dia sendiri tidak tahu mengapa dia bisa baik pada Ana. Padahal mereka baru kenal beberapa hari.


πŸ“± Izora : "Teman mu yang mana? Tadi aku sudah menelepon Rizki dan Arga. Mereka berdua mengatakan belum bertemu dengan dirimu sudah dua hari ini."


πŸ“± Varo : "Sejak kapan kau perduli aku ada dimana dan lagi bersama siapa?" seru Varo yang sekarang sedang duduk di kursi ruang tamu.


πŸ“± Izora : "Varo ... Aku bertanya karena disuruh oleh nenekmu. Beliau mengkhawatirkan dirimu karena belum pulang sampai sekarang." Izora menelepon Varo, memang karena disuruh oleh nenek Rosa. Jika tidak disuruh dia memang jarang bertanya, karena Izora tahu Varo hanya mencintainya dan tidak akan pernah mengkhianati hubungan mereka.


πŸ“± Varo : "Ck, aku sudah menduga kalau jawan mu seperti itu. Sudahlah! Jika tidak ada yang mau dikatakan lagi, aku akan mematikan sambungannya." benar saja setelah itu Varo langsung mematikan sambungan telepon mereka.


"Huh! Selalu seperti ini. Kapan kau menanyakan aku karena dirimu sendiri bukan karena disuruh nenek." ucap Varo kembali kecewa. Biasanya kapan Izora menelepon pasti karena disuruh oleh neneknya.


Tidak ingin ambil pusing. Varo kembali ke kamar Ana. Begitu dia masuk, ternyata bubur yang dia buat sudah dimakan dan hanya tersisa sedikit.


"Apa obatnya sudah diminum?" tanya Varo dengan suara lembut. Saat ini dia masih berdiri karena merasa canggung dengan pertanyaan yang Ana tanyakan tadi.

__ADS_1


"Eum! Baiklah kalau begitu minum obatnya sekarang. Setelah itu aku akan pulang." tadinya Varo akan menginap untuk menemani Ana. Namun, setelah mendengar pertanyaan gadis tersebut. Membuatnya memutuskan untuk pulang saja.


"Ini!" kata Varo menyodorkan obat dan air putih agar Ana segera meminumnya, karena gadis itu tidak menjawab saat disuruh meminum obat.


"Besok tidak usah masuk kerja. Biar pegawai lain yang akan merapikan ruangan ku. Bila ada apa-apa, atau membutuhkan sesuatu segera hubungi aku. Nomor ponselku sudah aku masukan kedalam HP mu." ucap Varo langsung pergi dari sana dan tidak menunggu jawaban dari Ana.


Tadi saat Ana belum sadar, dia memang telah menyimpan nomor ponselnya. Kebetulan HP gadis itu tidak dikunci.


Tiba didalam mobilnya Varo tidak langsung pergi. Dia hanya duduk sambil menatap kearah jendela kamar Ana.


"Ana, aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu. Aku, aku. Belum bisa menyimpulkan apakah aku menyukaimu atau tidak." ucap Varo memejamkan matanya. Dia sendiri bingung mengapa bisa seperti itu. Ingin mengatakan kalau menyukainya. Tapi Varo mencintai Izora. Lagian mereka berdua baru kenal dan belum ada satu Minggu.


*******


Lima bulan kemudian.


Semenjak malam itu. Hubungan Ana dan Varo masih tetap sama. Yaitu hanya sebagai pegawai dan atasan. Namun, mereka berdua sering pergi jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama, karena keduanya memiliki hubungan sangat dekat.


Tapi meskipun memiliki hubungan dekat, Ana tidak merubah pangilannya, dia masih memangil laki-laki itu dengan sebutan tuan muda. Selama ini Varo juga tidak pernah mengatakan kalau dia menyukai gadis itu. Begitu pula sebaliknya.


Tidak ada orang lain yang mengetahui kalau diluar jam kantor, Ana dan Varo seringkali pergi bersama. Begitu pula Rizki sahabat baik Varo. Dia tidak tahu kalau hubungan gadis yang dia sukai begitu dekat dengan sahabat baiknya. Pemuda itu selalu mendatangi perusahaan Revindra hanya untuk bertemu Ana.


Meskipun kedatangannya selalu diusir oleh Varo. Rizki tetap saja datang walau hanya sebentar. Apabila sudah bertemu Ana, maka dia akan langsung pulang ke perusahaannya sendiri.


Sedangkan Artha. Ana semakin menjauhi pemuda itu, karena sudah dua kali dia diberi peringatan oleh Rabeca ibu kandung Artha. Gara-gara wanita tersebut menemukan foto Ana didalam kamar putranya. Padahal gadis itu tidak salah apa-apa.


Ting ...


Satu buah pesan masuk di ponsel Varo. Begitu melihat nama pengirimnya. Pemuda itu langsung saja membacanya.


πŸ’Œ Izora : " Sayang, Maaf, aku tidak bisa melakukan pernikahan dalam satu bulan kedapan, karena aku baru saja mendapatkan tawaran untuk masuk ketingkat internasional. Jadi tunggu aku selesai, ini tidak akan lama. Hanya dua bulan. Setelah itu aku benar-benar akan kembali dan kita akan melangsungkan pernikahan. Aku sudah memberitahu nenek kita dan mereka berdua menyetujuinya."


"Apa? Setelah waktunya kau rubah semau mu. Sekarang ingin merubahnya lagi. Tidak Izora! Aku lelah dengan sikap mu." ucap Varo menahan rasa kesalnya. Ini adalah untuk yang ketiga kalinya Izora membatalkan pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari.


"Nomor yang anda tujui sedang tidak aktif." berulang kali Varo mencoba menghubungi nomor tunangannya tetap saja yang terdengar hanya suara operator. Kebiasaan Izora, bila ada masalah. Dia akan mematikan HP miliknya agar Varo tidak bisa menghubunginya.

__ADS_1


Tok ...


Tok ...


"Masuk!" titah Varo menyuruh masuk karena tahu yang mengetuk pintu tersebut adalah Ana. Sekitar lima belas menit lalu, dia meminta gadis tersebut membuatkan kopi untuknya.


"Tuan muda kenapa?" tanya Ana yang sudah hapal wajah sang bos apabila memiliki masalah.


"Ana, apa kau sudah memiliki kekasih?" Varo tidak menjawab pertanyaan Ana. Tapi dia malah menanyakan hal lainnya.


Ana mengelengkan kepalanya sambil menjawab. "Tidak, Saya mana punya kekasih. Pacaran juga belum pernah." jawab gadis itu sambil tersenyum, karena dia kira Varo ingin mengejeknya dengan Pak Satpam yang berjaga didepan perusahaan.


Mereka berdua memang seringkali bercanda. Jadi Ana tidak merasa heran dengan pertanyaan Varo.


"Bagus! Nanti setelah pulang bekerja. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat."


*BERSAMBUNG*...


.


.


.


Hai ... Hai semua Raeder Mak tersayang πŸ€— Ini memang sengaja di skip ya, agar ceritanya tidak berjalan ditempat. Setelah ini mungkin akan ada konflik kecil-kecilan. Jadi ikuti terus cerita bbg Varo dan Ana. Namun, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya ya πŸ€—.


Like.


Vote.


Subscribe.


Bintang lima dan hadiah lainnya.


Terima kasih.πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2