Cleaning Servis Milik CEO

Cleaning Servis Milik CEO
Ana Pingsan.


__ADS_3

🌾🌾🌾🌾🌾


.


.


"Ayo Nona, biar Saya bantu," kata Rani menuntun Ana berjalan menyusuri rumah sakit dengan langkah pelan. Tadi sebelum mereka berangkat ke rumah sakit, si pelayan memutuskan untuk memangil dokter agar datang ke rumah saja. Namun, Ana melarang karena tidak ingin menyusahkan orang lain. Dia tidak sakit parah, dan hanya asam lambungnya saja yang lagi kumat gara-gara seharian kemarin Ana tidak ada makan nasi, karena sebelum Varo menelepon minta di buatkan kopi kemarin siang. Wanita tersebut berniat ingin memesan makanan yang ada di restoran dekat rumah mereka. Namun, saat Ana sudah datang dengan kopi di tangannya. Malah melihat Alvaro lagi bercumbu dengan mantan tunangannya.


"Agh... ia," jawab Ana tersadar dari lamunannya. Dari mulai mereka berangkat dari rumah Ana selalu melamun, sampai beberapa saat lalu ketika dia seperti melihat sosok yang ia kenal.


"Itu tadi bukan Varo, kan? Tidak, tidak! Mana mungkin dia ada di rumah sakit sepagi ini, Varo pasti lagi berada di perusahaan atau juga di perusahaan."


Gumam Ana mengelengkan kepalanya, berharap apa yang ia lihat bukanlah Varo suami yang dia harapkan kepulangannya sejak kemarin sore.


Meskipun tubuhnya sudah sangat lemah, Ana terus saja memaksakan untuk terus melangkah ke ruang Dokter yang sering ia datangi ketika belum menikah dengan Varo. Sejak dulu dia memang memiliki penyakit asam lambung yang sudah kronis.


"Sepertinya mereka sudah balikan, kau lihat kan, sejak kemarin siang Tuan Muda Varo menemani Nona Izora." saat berjalan di koridor rumah sakit, tanpa sengaja Ana dan Rani mendengar obrolan dua orang suster yang berjalan berlawanan arah dengan mereka.


Deg!


"Apa yang mereka maksud Alvaro suamiku? Jika benar, berarti yang aku lihat tadi benar dia? Tapi siapa yang sakit? Sampai-sampai harus di dorong mengunakan kursi roda?"


Ana kembali bergumam di dalam hati, mungkin karena tubuhnya yang sedang tidak sehat, jadinya Ana menjadi begitu sensitif tidak seperti biasanya.


Walaupun dia tadi hanya melihat punggung orang yang lagi mendorong kursi roda tidak jauh dari mereka, tapi Ana sudah sangat hapal pada sang suami. Makanya ia terus bertanya-tanya di dalam hati, karena saat dia ingin menyuruh Rani untuk melihat sosok tersebut, orang yang dimaksud sudah hilang dari pandangan mereka.


"Nona, tolong jangan dengarkan apa kata orang-orang, Tuan Muda Varo tidak mungkin mengkhianati pernikahan Nona," kata Rani yang mengerti perubahan wajah nona mudanya seperti bersedih menahan sesuatu, apalagi setelah mendengar perkataan perawat.

__ADS_1


"Eum... iya, kau benar! Varo ku, tidak mungkin mengkhianati pernikahan kami." jawab Ana tersenyum getir karena setelah mendengar perkataan dua orang perawat tadi, keyakinan hatinya mulai ragu seketika.


"Ayo kita jalan, biar tidak banyak antrean bila masih jam segini." ajak Ana berjalan lebih dulu dan sudah melepaskan tangan Rani yang tadi merangkul tangannya agar tidak terjatuh.


Rani yang mengerti kegelisahan nona mudanya, hanya diam mengikuti dari belakang. Namun, baru saja mereka akan melewati ruang USG, bertepatan sekali dengan pintunya terbuka lebar dan yang keluar dari sana adalah Varo bersama Izora dan ada beberapa orang lagi yang tidak Ana kenal.


Pertemuan yang tidak sengaja itu, tentu saja langsung membuat Ana maupun Varo sama-sama termangu di tempatnya berdiri.


Tes!


Tes!


"A--aku, aku tidak salah lihat dan dengar, dia memang Varo suamiku. Jadi sejak kemarin siang, dia memang menemani kekasihnya? Ya Tuhan... to--tolong kuatkan hatiku, tolong beri aku kekuatan untuk pergi dari sini,"


lirih Ana terbata-bata dengan meneteskan air mata dan bergumam lagi di dalam hatinya. Setelah itu tidak tahu apa lagi yang terjadi, karena tiba-tiba saja kepalanya pusing dan Ana pun pingsan tidak sadarkan diri. Namun sebelum matanya benar-benar tertutup rapat. Gadis itu masih bisa mendengar Varo memanggil namanya berulangkali.


"Ana, sayang! Ayo bangun! Apa yang terjadi padamu?" Varo terus manggil istrinya dengan menepuk pelan pipi sang istri. Dia tidak peduli dengan kehadiran Izora dan juga keluarganya, bahkan di situ juga ada Rosa yang baru datang menjenguk gadis yang selalu ia banggakan untuk menjadi cucu menantunya.


"Suster, suster! Cepat tolong istri Saya," teriak Varo sudah mengangkat tubuh sang istri. Kebetulan sekali pada saat dia berteriak minta tolong, ada perawat yang lagi mendorong Brankar kosong. Jadi Ana langsung dibaringkan diatasnya dan di bawa ke ruang dokter umum untuk di periksa lebih dulu.


"Rani, ayo ikut Saya," ucap Varo pada pelayannya yang ia tugaskan menjaga kala istrinya berada di rumah. Rani hanya mengangguk dengan rasa khawatir yang sama seperti majikannya.


"Varo, Varo, berhenti!" teriak Rosa yang marah pada cucunya.


Sedangkan Izora pun juga ikut berteriak memanggil Varo untuk menanyakan siapa Ana. Walaupun mereka sudah mendengar Varo menyerukan tolong istri saya, tetap saja mereka belum percaya.


"Nenek, benarkah itu istrinya?" tanya Izora menatap kepergian Varo yang setengah berlari mendorongnya ranjang tempat istrinya.

__ADS_1


"Bukan, Varo tidak pernah menikah dengan siapapun," jawab Rosa menyakinkan. Walaupun di dalam hatinya juga ragu. Sebab akhir-akhir ini cucunya sudah banyak berubah dan terkadang tidak pulang juga.


"Tante, jika dilihat dari wajah Varo yang panik, itu memang istrinya. Apa Tante masih ingat dengan foto dari hasil penyelidikan orang-orang kita. Bukannya waktu itu Varo lagi bersama gadis tadi?" ucap papi Izora. Meskipun anaknya sudah hamil anak pria lain dan memiliki penyakit lumayan parah, pria tersebut masih tetap berharap Varo menikah dengan Izora, walau harapan tersebut sangatlah kecil.


*


*


Sementara itu di dalam ruangan tempat Ana di periksa. Varo terus saja mencoba membangunkan sang istri dan menggenggam tangannya penuh penyesalan.


"Dokter, bagaimana? istri Saya sakit apa?" tanya Varo ketika dokter sudah selesai memeriksa keadaan istrinya. Dulu saat pertama kali dia datang ke rumah Ana, gadis itu juga pernah pingsan gara-gara asam lambungnya kambuh dan demam tinggi. Tapi wajah Ana tidak sepucat sekarang, makanya Varo sangat khawatir.


"Huh! Mari kita duduk dulu Tuan Muda, Saya akan menjelaskan keadaan Nona Ana." jawab si dokter yang kebetulan dokter langganan Ana selama ini, bahkan saat kedua orang tuanya masih hidup.


"Ba--baiklah! Ayo," kata Varo tidak memiliki pilihan lain. "Rani, tolong jaga Nona ya, Saya akan berbicara dengan dokter Rosita sebentar." pesannya lagi sebelum meninggalkan istrinya.


Cup!


"Tunggu ya sayang, aku tidak akan lama!" bisik Alvaro setelah mengecup kedua pipi istrinya yang belum juga sadarkan diri. Bahkan tangannya telah di pasang infus karena Ana sangat lemah, ia sudah kehilangan banyak cairan tubuhnya.


BERSAMBUNG...


.


.


__ADS_1



__ADS_2