
πΎπΎπΎπΎπΎ
.
.
"Memangnya ada apa, Bu? Apa ibu dan Ayah belum memberitahu nenek kalau Varo akan menikahi Ana?" tanya Varo sudah penasaran, karena tumben sekali untuk bicara saja dia sampai di ajak masuk kedalam kamar orang tuanya.
"Nak, tolong dengarkanlah apa yang ibu katakan. Untuk sementara waktu, kita tidak perlu memberitahu nenek kalau dirimu mau menikahi Ana."Serli menyentuh tangan putranya karena sebelum mulai berbicara. Wanita separuh baya itu pindah tempat duduk di samping sang putra.
"Apa! Tapi--- Mana mungkin seperti ini, mana mungkin kita tidak memberitahu pada nenek," Varo bingung karena masa iya, si neneknya yang bawel tidak diberi tahu.
"Varo, ini semua kita lakukan untuk kebaikan Ana. Calon istrimu gadis yang polos. Bukan tidak mungkin dia akan menjadi sasaran nenekmu untuk memisahkan kalian. Jika ada pilihan, maka Ayah tidak mau harus merahasiakan pernikahan kalian dari dunia halu." sambungan Martin memberi penjelasan pada putra sulung mereka.
"Ayah, ibu. Soal melindungi Ana, kalian berdua tidak perlu khawatir, karena Varo akan menjaganya. Lagian bila nenek tetap menekan ku. Aku akan meninggalkan perusahaan Ravindra Company. Biarkan Artha atau paman yang mengurusnya." seru pemuda itu tidak terima.
Menikah secara diam-diam tidak diumumkan saja Varo sebetulnya merasa keberatan.
Apalagi ini harus merahasiakan pada neneknya juga. Itu berarti yang mengetahui pernikahan tersebut hanyalah kedua orang tua dan adik perempuannya.
"Varo, sayang! Ibu tahu kamu sangat tulus ingin menikahi Ana. Tapi percayalah sayang, semua yang kita lakukan saat ini untuk melindungi dia dan hubungan kalian untuk kedepannya nanti. Bila waktunya sudah memungkinkan, maka kita akan memberitahukan pada semuanya. Bahwa dirimu sudah menikah." wanita paruh baya itu kembali menyentuh tangan putranya.
"Lalu setelah itu apalagi yang harus kita lakukan? Bagaimana mungkin kita bisa merahasiakan pernikahan kami, sedang Varo masih tinggal di rumah ini, Bu." kata Varo merasa pasti ada sesuatu lagi setelah mereka merahasiakan dari keluarga besar Ravindra.
"Kalian harus tinggal terpisah!" sahut Martin menimpali pertanyaan anaknya.
__ADS_1
"Apa? Tinggal terpisah? Aghkk! Ayah jika tinggal terpisah buat apa Varo menikah," Varo mengusap wajahnya kasar.
"Nak, jika memang kamu mencintai Ana. Kalian memang harus tinggal terpisah, agar tidak ada yang mencurigai hubungan kalian berdua." Serli dan Martin sudah tahu seperti apa kejam dan liciknya Rosa neneknya Varo. Makanya mereka menyuruh putranya melakukan pernikahan tersembunyi.
"Huh, Ayah, Ibu. Varo kan sudah bilang, bila nenek macam-macam maka aku akan meninggalkan perusahaan Ravindra Company dan juga rumah ini. Tidak hanya Varo yang akan pergi dari sini. Tapi--- Kita semua. Varo sudah mempersiapkan semuanya, jadi kalian tidak perlu khawatir."
"Itu kita buat untuk rencana kedua, bila nenekmu kembali berulah." jawab Martin juga memiliki rencana seperti itu. Lalu dia kembali lagi melanjutkan perkataannya.
"Varo mengertilah, Nak. Dari dulu sampai saat ini kamu tahu sendiri seperti apa ibumu diperlakukan dirumah ini. Ayah tidak mebawa kalian pindah, bukannya Ayah tidak berani membantah perintah nenek." berhenti sejenak lalu laki-laki paruh baya itu kembali menjelaskan.
Masalah ini memang terlihat biasa saja. Akan tetapi begitu bahaya bila tidak berpikir secara matang, karena hal tersebut menyangkut masalah rumah tangga Varo dan Ana buat kedepannya nanti.
"Namun, Ibumulah yang melarang karena ingat kebaikan Almarhum kakek kalian. Beliau mendukung penuh hubungan kami berdua. Bila kita meninggalkan nenek bersama paman dan bibimu yang serakah itu. Maka kamu pasti tahu apa yang terjadi padanya." lanjut Martin selesai memberi pengertian pada sang putra.
Varo memang hebat dan sudah memiliki perusahaan sendiri yang sudah dibangunnya empat tahun lalu. Perusahaan tersebut hanya Ayah dan ibunya yang mengetahui. Dia sengaja membangun perusahaan sendiri, karena ingin melindungi keluarganya.
"Bukannya Ana setiap hari bekerja bersama mu. Cari cara agar dia selalu berada dalam ruangan mu tanpa ada yang curiga. Kamu paham kan maksud Ayah. Lagian sekali-kali kamu masih bisa pulang kerumahnya. Asalkan bisa mengatur strategi agar orang-orang dirumah ini tidak ada yang curiga."
Martin sedikit tersenyum saat memberi usul tersebut, karena tanpa dia suruh saja. Pasti putra kebanggaannya akan melakukannya.
"Satu lagi, Nak. Pernikahan ini hanya kita yang tahu. Jangan beritahu adikmu juga. Raisa sangat dekat dengan Artha, Ibu takut dia tidak bisa merahasiakan rahasia ini." ucap Serli setelah melihat Varo seperti sudah bisa menerima saran dari mereka.
"Eum, baiklah! Kali ini demi kebaikan Almarhum kakek, Varo mau melakukannya. Namun, bila tidak ada cara lain, mari kita tinggalkan rumah yang tidak pernah memiliki ketengan ini." akhirnya Varo menerima usulan dari ayah dan ibunya.
"Oke, Ayah juga berpikir seperti itu. Sekarang kembalilah ke kamar dan istirahat. Ingat, besok pagi di meja makan jangan berkata apapun masalah mu dengan wanita lain. Kita memiliki alasan kuat memutuskan pertunangan kalian." imbuh Martin setelah hampir satu jam mereka bertiga membahas masalah hubungan putranya.
__ADS_1
"Ya, ya baiklah! Varo memang mau istrirahat. Besok begitu banyak pekerjaan yang harus Varo selesaikan karena hari Senin ada perjalanan bisnis ke kota B." kata pemuda itu sudah berdiri. Akan tetapi, ucapan Martin menghentikan langkahnya saat dia sudah berjalan kearah pintu.
"Kalau begitu mulai besok pagi Ana tidak usah masuk bekerja. Suruh Sekertaris mu membuat alasan, bahwa dia sedang ada acara keluarga, jadi mengambil cuti selama satu Minggu." ucap Martin mendapatkan ide agar sang putra bisa memeliki waktu dengan calon menantunya.
"Kenapa lama sekali? Besok pagi Ana memang sudah tidak bekerja. Varo sudah menyuruhnya untuk libur sampai pernikahan kami selesai." protes lagi karena dia sudah pusing memikirkan akan tinggal terpisah.
"Ck, kau ini tidak mengerti juga apa yang Ayah maksud. Jika dia mengambil cuti selama satu Minggu. Maka kamu bisa membawanya pergi melakukan perjalanan bisnis. Sekalian buat bulan madu kalian."
Buuuugk ...
Tanpa aba-aba. Varo langsung berlari memeluk ayahnya. Dia belum terpikirkan sampai kesana karena Varo hanya tahu pekerjaan saja.
"Ayah, terima kasih! Varo tidak berpikir kesitu. Kalau begitu Varo akan melakukan perjalanan bisnis lebih lama dari biasanya. Tapi--- selama Varo pergi, bisakah Ayah membantu mengurus perusahaan?" setelah dari tadi hanya menekuk wajahnya. Varo akhirnya tersenyum bahagia. Dia sudah tidak sabar untuk menghabiskan waktu bersama calon istrinya.
"Setelah hampir setengah tahun tidak memeluk Ayah. Hari ini mendengar akan bulan madu bersama Ana, kamu langsung memeluk Ayah. Masalah pekerjaan Ayah akan membantumu. Lagian ada Artha juga 'kan," Martin tersenyum mengejek sambil melepaskan pelukan putranya.
Pria paruh baya itu memang sangat dekat dengan kedua anaknya. Makanya dia sangat mengerti perasaan sang putra.
"Ayah seperti tidak pernah muda saja. Sudah ah, Varo mau kembali ke kamar. Ibu, Ayah. Selamat malam! I love you!" seru Varo sebelum meninggalkan kamar orang tuanya dengan hati bahagia.
*BERSAMBUNG* ...
.
.
__ADS_1
Sambil menunggu ceritanya update. Yuk, baca novel sahabat Mak author juga. Terima kasih.πππ