Cleaning Servis Milik CEO

Cleaning Servis Milik CEO
Tidak Ada Kekuatan.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂


.


.


"Ayo sayang, ini sedikit lagi." ucap Varo menyuapi istrinya dengan telaten. Ana yang memang tidak makan dari kemarin siang tentu saja menerima setiap suapan dari sang suami. Entah mengapa juga, dia tidak merasakan mual seperti tadi pagi. Saat dia mencoba untuk sarapan sendiri.


"Aku sudah kenyang, kan kata dokter Rosita tidak boleh terlalu banyak juga." jawab Ana menutup mulutnya. Agar Varo berhenti tidak menyuapinya lagi.


Cup!


"Baiklah, sehat-sehat ya ibu hamil ku," kata Varo tersenyum memberikan ciuman lagi dan juga mengelus perut datar istrinya.


"Varo, bagaimana jika nanti nenekmu memaksa agar kita berpisah?" tanya Ana dengan perasaan takut bila hal itu sampai terjadi.


Apalagi saat ini dia dalam keadaan mengandung anak mereka. Calon buah hati yang hadir dari cinta kedua orang tuanya.


"Tenang saja, meskipun nenek memintanya aku tidak akan pernah menuruti, karena aku sudah memiliki cara untuk mengatasi semua masalah ini. Makanya waktu itu aku meminta agar kau memberiku waktu untuk menyelesaikan masalah ini, dan sekarang semuanya sudah berakhir." jawab Alvaro mengelus tangan Ana penuh rasa kasih sayang dan cinta.


"Jangan banyak pikiran, ya, sekarang yang terpenting adalah kesehatan dirimu. Nanti setelah kau keluar dari rumah sakit, aku akan membawamu pergi ke suatu tempat," jelas pemuda itu yang sangat takut bila Ana dan calon anak mereka sampai kenapa-kenapa.


"Ke suatu tempat! Kemana? Kamu membuatku penasaran," seru Ana ikut balas menggenggam tangan suaminya.


"Nanti kau juga akan tahu, yang jelas sebuah kejutan, makanya jangan banyak pikiran yang penting sekarang kau dan anak kita baik-baik saja." saat mereka berdua masih mengobrol pintu ruangan tersebut kembali terbuka setelah dilihat ternyata yang datang adalah perawat yang diutus oleh dokter Rosita membawa Ana ke ruang USG.


"Suster," ucap Ana dan Varo secara bersamaan.

__ADS_1


"Maaf sudah mengganggu Tuan, tapi Saya disuruh oleh Dokter Rosita membawa Nona Ana untuk melakukan pemeriksaan kandungan," jelas si suster muda tersebut, karena dia merasa malu melihat kemesraan pasangan yang ada di hadapannya. Apalagi selama ini dia mengetahui bahwa Presdir Ravindra Company adalah orang yang dingin dan menakutkan.


Namun, semua yang diberitakan tidak sama dengan kenyataannya. Alvaro justru orang yang sangat lembut dan romantis pada pasangannya.


"Iya, baiklah! Apa tidak ada kursi roda?" ucap Alvaro sudah turun dari ranjang dan menyimpan kembali piring bekas menyuapi istrinya


"Ada Tuan Muda, tunggulah sebentar, rekan Saya yang tadi lagi mengambilnya," perawat tersebut hanya tersenyum kecil. Sambil menunggu kedatangan rekan kerjanya, dia membantu Ana untuk duduk dan memperbaiki infus yang masih melekat di tangan Ana.


"Jika berjalanya pelan-pelan sepertinya aku kuat," kata Ana memeluk lengan suaminya yang kembali lagi berdiri dekat sang istri.


"Sudah, tunggu kursi roda saja. Kau tidak boleh kelelahan,"


"Maaf, Saya agak lama," si perawat yang mengambil kursi roda sudah datang. Lalu tidak banyak bicara, Alvaro mengendong sang istri lalu ia dudukan dengan pelan.


"Varo, apa yang kau lakukan, biar aku turun sendiri," seru Ana keget dan malu juga pada perawat yang tersenyum melihat dia diangkat seperti anak kecil.


"Ruangannya yang tadi Anda datangi bersama..."


"Oh, yasudah ayo kita kesana," Alvaro sudah menyela duluan dan berjalan saja mendorong istrinya.


Namun, begitu mereka keluar dari ruangan tersebut. Nyonya Rosa dan keluarganya yang lain sudah berdiri di depan pintu. Mereka tidak di izinkan masuk oleh para pengawal yang berjaga. Jangankan Nyonya Rossa kedua orang tua baru saja juga tidak diizinkan masuk.


"Alvaro apa-apaan ini, kenapa kau memperlakukan keluargamu seperti penjahat?" seru Nyonya Rosa menatap nyalang cucu yang ia banggakan selama ini.


"Aku tidak melakukan apa-apa, yang melarang Nenek masuk adalah para pengawal," jawab Varo berjan maju, untuk melindungi istrinya. Takut tiba-tiba sang nenek melakukan sesuatu pada Ana.


"Kau!" tunjuk beliau mengangkat tangannya. "Gara-gara wanita ini kau berani melawan Nenek?"

__ADS_1


"Aku tidak melawan Nenek, tapi sedang menolong Nenek dari perbuatan yang akan menyakiti orang lain, apalagi yang akan Nenek sakiti adalah istri dan anakku,"


"Apa, A--ana hamil, Nak?" seru Serli berjalan mendekati anak dan menantunya.


"Apa, dia hamil!" tidak hanya orang tua Varo yang merasa kaget, tapi juga neneknya. Niat hati wanita tua itu datang ingin memberi pelajaran pada gadis yang sudah berani merayu cucunya. Padahal semua tuduhan itu tidaklah benar.


"Iya, ini adalah Istriku, Nek. Mau seperti apapun Nenek melarang dan ingin memisahkan kami, seperti apa yang sudah Nenek lakukan pada ayah dan ibu. Aku tidak akan tinggal diam." ucap Alvaro yang sudah memiliki senjata untuk melawan neneknya. Yaitu kunci semuanya ada pada paman Varo sendiri.


Dalam dua Minggu terakhir ini, Sekertaris Arsad juga sudah mendapatkan bukti-bukti kerjasama pamannya bersama ayah Izora, dan itu semua diluar sepengetahuan Nyonya Rosa.


"Varo kau sudah berani menentang Nenekmu? " meskipun Nyonya Rosa sudah diberitahu oleh Martin putra sulungnya, dia masih tetap bertahan dengan sikaf keras kepala dan angkuhnya.


"Nenek sudahlah, aku sudah memaafkan kesalahan kalian pada ayah dan ibu, sekarang biarkan keluargaku hidup dengan damai tanpa mengusik satu sama lain." jawab Varo yang ingin berdamai tidak melanjutkan ke pihak yang berwajib.


"Apa maksudmu? Kau mau mengancam Nenek?"


"Tidak, aku tidak lagi mengancam. Nanti kita lanjutkan lagi, sekarang aku ingin menemani Ana untuk periksa kehamilannya. Jika Nenek ingin melihat calon anakku. Maka ikutlah bersama kami," karena neneknya tidak melakukan sesuatu pada Ana. Pria itupun memilih untuk memeriksa keadaan istrinya lebih dulu.


"Ibu, lebih baik kita mengikuti Varo dan istrinya. Tidak usah ibu melakukan sesuatu lagi, jika tidak ingin membuat cucu ibu marah dan memasukan mereka ke dalam penjara." Martin menyentuh pundak ibunya agar sadar jika apa yang ia anggap benar selama ini adalah sebuah kesalahan besar, karena dia sibuk ingin Varo dan Izora menikah. Perusahaan milik suaminya sudah di jual oleh putra keduanya, bila saja tidak ada Alvaro yang menyelesaikan semua kekacawan itu. Mungkin dari satu Minggu lalu dia akan tinggal di jalanan.


"Ini semua karena kalian yang menyembunyikan semuanya dariku," kata Nyonya Rosa tidak terima bila disalahkan.


Namun, setelah itu dia tetap berjalan mengikuti Alvaro dan Ana ke ruang USG, untuk memeriksa keadaan Ana dan janinnya.


Martin yang melihat kelakuan ibunya hanya bisa tersenyum dan mengelengkan kepala. Dia sangat yakin jika ibunya pasti akan berubah, karena dia sudah tidak memiliki kekuatan untuk melawan Varo cucunya.


*BERSAMBUNG*...

__ADS_1


__ADS_2