Cleaning Servis Milik CEO

Cleaning Servis Milik CEO
Di tunggu istri.


__ADS_3

🌺🌺🌺🌺🌺


.


.


"Aku pergi dulu, ya." Varo mengelus pipi istrinya yang sudah ia pindahkan lagi ke atas ranjang. "Nanti aku akan sekalian mencari obat untuk lukanya, Maafkan aku, sudah membuatmu kesakitan." ucapnya lagi karena tidak disangka-sangka kalau perbuatannya membuat sang istri tidak bisa berjalan.


Padahal saat dia membersihkan dengan tisu dan handuk tadi malam, tidak membengkak. Hanya terlihat memerah karena kepunyaan istrinya memang kecil.


"Sudah tidak apa-apa," Ana tersenyum melihat wajah bersalah suaminya. " Sekarang pergilah, aku tidak apa-apa di tinggal sendirian."


"Huem, Cup! Aku pergi dulu," kata Varo yang tidak memiliki pilihan selain meninggalkan istrinya. Ana pun hanya menganguk, karena dia juga ingin kembali tidur.


Dengan berat hati Varo meninggalkan kamar mereka. Lalu dia kunci kamarnya dari luar untuk menjaga keselamatan sang istri dari orang-orang suruhan pamannya dan Ayah Izora.


"Selamat pagi Tuan Muda," sapa Sekertaris Arsad dengan hormat. Sekertaris muda itu sudah menunggu sejak setengah jam yang lalu.


"Pagi juga! Apa kau sudah sarapan?" tannya Varo berhenti di tempatnya berdiri.


"Sudah, Tuan. Sekarang kita bisa langsung berangkat." Sekertaris Arsad berjalan disamping tuan mudanya menuju mobil mereka.


Selama dalam perjalanan Varo hanya diam sambil memeriksa ponselnya. Begitu banyak pangilan dan pesan dari sang nenek. Baliau menanyakan kenapa Varo tidak ada menelepon dirinya.


"Huh!" Varo menghela nafas berat. Setelah membaca salah satu pesan tersebut. Dia benar-benar tidak habis pikir kenapa neneknya begitu berambisi ingin dia dan Izora menikah.


"Ar, setelah kita pulang dari sini berhenti di apotik dulu, ya." ucap Varo memecahkan keheningan diantara mereka berdua.

__ADS_1


"Baik Tuan," jawab Arsad yang sudah membelokan kendaraannya ke sebuah perusahaan tekstil yang terbesar di kota B.


Setelah mematikan mesin mobilnya. Sekertaris Arsad keluar lebih dulu karena ingin membuka pintu mobil untuk si tuan muda. Lalu setelahnya mereka berjalan kearah lobby perusahaan.


"Selamat datang Tuan Varo!" sambut pria paruh baya dan dua orang rekannya. Dia adalah direktur dari perusahaan tersebut. Lalu hal yang sama dia ucapkan juga pada Sekertaris Arsad.


"Selamat datang Sekertaris Arsad. Mari kita masuk," ajak beliau mempersilahkan dengan hormat. Varo merupakan orang penting bagi perusahaan mereka, maka dari itu mereka menyambutnya dengan sangat baik.


"Iya, terima kasih, Tuan Saki." jawab Arsad, karena Varo hanya mengangguk sambil berjabat tanggan. Apabila lagi bersama para rekan bisnisnya Varo memang sanggat jarang berbicara.


Lalu mereka pun berjalan mengikuti pria paruh baya yang bernama Saki itu masuk ke dalam lift khusus bagi petinggi perusahaan dan tamu-tamu penting seperti Varo.


Mereka langsung menuju ke lantai tiga puluh tujuh tempat Meeting diadakan. Meskipun terlihat tenang, tapi pikiran Varo mengkhawatirkan keadaan istrinya yang dia tinggalkan sendirian.


"Mari Tuan Muda Varo," setelah keluar dari lift, Saki kembali lagi membawa Varo masuk ke dalam ruangan yang tidak kalah besarnya seperti ruang Meeting di Perusahaan Revindara Company.


"Selamat datang, Tuan Varo." kedatangan Varo ternyata sangat di sambut baik. Melihat dia masuk ke dalam ruangan Meeting semua petinggi langsung berdiri dan menyalami Varo secara bergantian.


"Tentu, tentu! Rapatnya kita mulai sekarang," Saki langsung memerintahkan kepada Sekertaris pribadinya untuk memulai rapat.


Lalu Sekertaris Saki pun mulai menyalakan komputernya dan juga in fokus agar semuanya melihat dengan jelas. Satu persatu kerjasama mereka pun mulai di bahas. Bila mana Varo tidak setuju maka mereka mencari pemecahan ulang. Sebab Varo bukanlah pengusaha yang hanya memikirkan keuntungan saja. Maka dari itu Tuan Ravindar menyerahkan perusahaan keluarga mereka pada sang cucu bukan pada anak-anaknya sendiri.


Padahal selain Martin ayah Varo. Beliau masih memiliki dua orang anak lainnya lagi.


"Coba Anda jelaskan lagi dengan detail, kenapa di bagian A bisa mengeluarkan dana sebesar itu?" kata Varo setelah Sekertaris Saki selesai memberi penjelasan.


"Ini karena di daerah pembangunannya ada banyak rumah yang kita ganti rugi, Tuan." jelasnya dengan wajah takut. Varo tidak hannya sekerdar bertanya biasa. Akan tetapi dari sorot matanya terlihat sedang marah.

__ADS_1


"Saya ingin laporan keseluruhannya. Kirimkan pada Sekertaris pribadi Saya dalam waktu dua hari. Bila tidak, maka perusahaan kami tidak akan ikut dalam tander kali ini." ucap Varo seperti sebuah perintah bukan lagi permintaan.


"Tapi Tuan Varo, Kami semua sudah mengeja ulang Dana tersebut memang diperkirakan sebanyak itu." Tuan Saki yang diam sejak tadi angkat bicara juga.


"Maaf Tuan Saki. Saya tidak pernah masih memperkirakan, segalanya harus benar-benar matang." pungkas Varo tersenyum di ujung bibirnya. "Kita sudah menjalin kerja cukup lama. Jadi Saya tidak perlu menjelaskannya lagi," Varo kembali berkata karena semua orang yang berjumlah lima belas orang tidak ada yang berani angkat bicara.


"Silahkan kalian lanjutkan, bila tetap memakai proposal yang dibuat oleh Sekertaris Anda. Saya tidak akan menghalangi, tapi bila semuanya tidak sesuai dengan rencana. Maka Perusahaan Ravindra angkat tangan." tegas Varo yang baru saja Sekertaris Saki menjelaskan dia sudah tahu begitu banyak penipuan di dalam ucapanya. Bagi pengusaha yang lain mungkin merasa bahwa itu semua adalah keputusan yang sangat baik. Namun, berbeda bagi Presdir Ravindra.


Gara-gara Varo menentang keras, di dalam ruangan yang tadinya sunyi langsung mendadak ramai. Semuanya saling bicara dan berdiskusi kembali. Saat mereka semuanya lagi sibuk. Varo berdiri di ikuti oleh Sekertaris Arsad.


"Kalian diskusikan saja kembali. Meeting hari ini cukup sampai disini karena Saya tidak suka bila menagani pekerjaan hanya setengah-setengah." ucap Varo sambil berlalu keluar. Marah! sangatlah marah karena merasa dipermainkan. Padahal mereka semua cara kerja Varo seperti apa.


Di dalam mobil. Varo langsung melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya. Bila tidak memikir sang istri yang lagi menunggu kedatangan dirinya. Mungkin pemuda tersebut tidak akan melepaskan begitu saja rapat hari ini.


"Apa kita jadi ke Apotik nya, Tuan Muda?" jika bukan Sekertaris pribadi yang sudah biasa melihat tuannya marah. Maka tidak akan berani buat menegurnya.


"Iya jadi," jawab Varo singkat. Untuk saat ini dia tidak mau membahas pekerjaan lagi. "Brengsek! Huh! " Varo yang tidak tahan akhirnya mengumpat kasar.


Beberapa menit kemudian.


"Kita sudah sampai Tuan Muda," ucap Sekertaris Arsad mematikan mesin mobilnya. "Bagaimana jika Saya saja yang membeli barang yang Anda cari?" kembali bertanya dan menawarkan dirinya.


"Apa? Tidak, tidak!" cegah Varo cepat. Mana mungkin ia membiarkan Sekertaris pribadinya membeli obat untuk Ana. "Kau tunggu disini, aku akan membelinya sendiri." tidak menunggu jawaban dari Arsad. Varo sudah turun sendiri.


Saat dia berjalan ada seseorang yang menabrak tubuhnya.


Bruuuuk!

__ADS_1


"Ma--maaf! Varo!" seru gadis itu saat melihat siapa orang yang ia tabrak.


*BERSAMBUNG*...


__ADS_2