Cleaning Servis Milik CEO

Cleaning Servis Milik CEO
Tidak ingin ada rahasia.


__ADS_3

🌾🌾🌾🌾🌾


.


.


"Varo, apa kau tidak mau mengenalkan aku dengan kekasihmu?" tanya Eca dengan ramahnya. Sedikitpun tidak terlihat kalau dia sengaja mengikuti Varo dan Ana dari Restoran.


"Eum... Cara, kenalkan dia Ana is---"


"Hai juga, kenalkan namaku Ana. Aku kekasih Varo," sela Ana mengulurkan tangannya pada Eca. Mana mungkin Ana membiarkan Varo membocorkan pernikahan mereka.


"Wah, ternyata kau gadis yang ramah, tadinya aku kira kau sama seperti para mantan Varo." Eca tak kalah ramah dari Ana, setelah mereka bersalaman Ana mengajak Eca bergabung bersama mereka.


"Memangnya aku tidak menganggu kalian berdua?" tanya gadis itu dengan wajah dibuat sok polos.


"Tentu saja tidak, kau kan teman Varo. Berarti temanku juga," kata Ana yang tidak tahu jika gadis tersebut adalah mantan pacar suaminya.


"Aku bukan---"


"Sayang ayo duduk, tidak baik untuk kesehatan mu bila terlalu lama berdiri." Varo menyela ucapan Eca, karena tidak ingin Ana merasa tidak nyaman bila mengetahui Eca adalah mantan kekasihnya.


"Baiklah!" Ana menurut dan ikut duduk bersama suaminya.


"Apa Ana memiliki penyakit? Kenapa tidak boleh berdiri terlalu lama?" Eca ikut duduk di bangku seberang pasangan suami istri yang tadinya ingin menghabiskan waktu berdua saja. Wanita itu begitu tidak punya malunya, meskipun Varo sudah bersikap dingin tetap saja dia masih bersikap seolah biasa saja.


"Aku---"


"Ana baik-baik saja, aku yang takut dia kenapa-kenapa, bila berdiri terus." Varo kembali lagi menyela. Entah mengapa dari awal bertemu dengan Eca beberapa hari lalu Varo malas walaupun hanya sekedar berbalas pesan.

__ADS_1


Bagi Varo, Eca hanyalah mantan kekasih saat dia masih belum mengetahui apa itu cinta yang sebenarnya. Jangankan dengan Eca, bersama Izora saja Varo tidak mau mengingatnya lagi.


"Oh, aku kira dia sakit! Yang benar saja lelaki tampan seperti dirimu harus mempunyai pacar penyakitan," Eca tersenyum mengejek. Meskipun Ana tidak memiliki penyakit, tapi dari perkataannya bisa membuat Ana tidak nyaman.


"Eca! Jaga ucapan mu, meskipun Ana memiliki penyakit. Aku tidak akan perduli, karena dia adalah wanita yang aku cintai." sentak Varo yang sudah menggenggam tangan sang istri.


Pemuda itu tahu jika Eca sengaja mendekati mereka karena ingin menganggu istrinya.


"Agh, Maaf! Aku tidak bermaksud apa-apa. Tapi---"


"Sepertinya mau turun hujan, kami mau pulang sekarang. Sampai jumpa lagi," tidak ingin berlama-lama di sana. Varo langsung menarik tangan istrinya untuk meninggalkan Eca sendirian.


"Mau hujan? Ini tidak mau hujan, cuacanya malah sangat cerah, ada banyak bintang yang bertaburan. Jadi aku rasa tidak akan hujan." cegah wanita itu memegang lengan Varo.


"Cuaca di atas langit memang tidak akan hujan. Tapi bila kami berlama-lama di sini, aku takut ada badai tiba-tiba," kata Varo dengan sorot mata tajam. Dari tatapan tersebut seperti mengatakan lepaskan tangan ku, atau akan aku patahkan jari tangan mu,.


Sementara itu di dalam mobil, Ana menggenggam tangan suaminya. Gadis itu menatap Varo penuh pertanyaan. Ana polos masalah percintaan, tapi tidak bodoh dengan hal yang terjadi di sekelilingnya. Melihat sikap dingin sang suami pada Eca, wanita yang mengaku sebagai sahabat suaminya. Ana yakin, pasti ada sesuatu diantara mereka berdua. Apalagi dari cara bicara Eca, wanita itu tidak menyukainya.


"Sebenarnya ada apa? Huem! Tolong beritahu aku?" ucap Ana dengan suara lembutnya.


"Tidak ada apa-apa, nanti setelah kita sampai di hotel aku akan menceritakan sesuatu padamu." jawab Varo ikut menggenggam tangan sang istri dan dikecup nya. "Kita pulang sekarang ya," pemuda itu melepas tangan mereka karena dia ingin memasang sabuk pengaman pada istrinya.


Setelah mendapatkan persetujuan dari sang istri. Varo langsung menyalakan mesin mobil dan mulai menjalankan kendaraan tersebut menuju hotel tempat mereka menginap.


Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya larut dengan pikirannya masing-masing. Terdengar berulang kali Ana menghembuskan nafas ke udara. Baru mengetahui Ana sebagai kekasih Varo saja. Eca sudah menunjukkan ketidak sukaannya. Apalagi bila mengetahui kalau Ana dan Varo telah menikah, dan entah seperti apa lagi tanggapan orang lain bila sempat pernikahan mereka bocor pada publik.


"Sudah jagan banyak pikiran, semuanya akan baik-baik saja." Varo yang memperhatikan sejak tadi akhirnya berbicara lagi.


"Aku... merasa takut bila---"

__ADS_1


"Tidak perlu takut pada apapun, ada aku yang akan selalu bersamamu." sela Varo tersenyum kecil. Lalu karena mereka sudah tiba di lobby hotel. Varo melepas lagi sabuk pengaman yang terpasang pada tubuh mereka. Dia keluar lebih dulu untuk membuka pintu mobil buat istrinya.


Berhubung mobil mereka sudah ada petugas yang mengurusnya. Varo langsung saja menggandeng tangan Ana masuk ke dalam hotel menuju kamar yang mereka tempati.


"Tunggu sebentar, aku ingin ke kamar mandi." kata Varo saat sudah masuk ke kamar mereka. Ana hanya mengangguk, dia memang butuh penjelasan. Agar tidak ada rahasia dalam hubungan keduanya.


Lima menit kemudian Varo sudah keluar. Ia berjalan mendekati Ana, lalu duduk disamping sang istri. "Ana... sebetulnya Eca adalah salah satu mantan kekasih ku." langsung saja bicara jujur tidak berbelit-belit lagi. "Dia adalah mantan saat aku baru kelas sebelas. Kebetulan saat itu kami satu sekolahan dan hanya berbeda kelas," ucap Varo diam karena ingin mendengar tanggapan istrinya seperti apa.


"Eum, ternyata dugaanku benar," jawab Ana malah tersenyum. Diluar perkiraan Varo, pemuda itu mengira Ana akan marah atau kecewa mendengar jawabannya.


"Jadi kau sudah tahu? Lalu kenapa kau malah tersenyum?" Varo bertanya heran.


"Iya, aku melihat ada kejanggalan saat kalian berdua berbicara. Aku tersenyum karena dirimu sudah berkata jujur." jawab Ana apa adanya.


"Ana, aku tidak mau membohongimu. Tadi aku ingin berkata jujur jika kau adalah istriku, tapi malah dirimu mengaku sebagai kekasihku." Varo langsung menarik tubuh Ana agar ikut berbaring bersamanya.


"Aku tidak ingin orang lain mengetahui pernikahan kita, biarkan seperti ini dulu, sampai masalah mu selesai," Ana balas memeluk suaminya.


"Baiklah, kau benar juga. Aku lupa kalau ada masalah yang belum di selesaikan."


"Bagaimana kalau kita kembalinya besok pagi saja? Aku bosan tidak bekerja dan hanya diam seperti ini." gadis itu sengaja mengangkat kepalanya untuk melihat muka Varo. "Ya, besok saja pulangnya. Lagian jika terus berada di kota ini, bukan tidak mungkin kita akan bertemu Eca lagi," terus merayu agar Varo menyetujui permintaan nya.


"Tanggung, tinggal dua hari lagi. Aku masih ingin menikmati bulan madu kita," jawab Varo tidak langsung menyetujui. Dia ingin melihat, sampai mana istrinya berusaha membujuknya.


"Jika masalah bulan madu, kita bisa melakukannya kapan dan dimana saja. Agar kalau kita kembali, kau bisa menyelesaikan masalah mu."


"Eum... boleh tidak masalah!" Varo tersenyum penuh arti sebelum dia memutar tubuhnya berada di atas tubuh sang istri. "Berhubung kita bisa melakukan bulan madu kapan dan di manapun. Besok pagi kita akan pulang, tapi malam ini mari kita lakukan lagi." ucap Varo mulai memberi kecupan pada kening, kedua mata dan yang terakhir bibir ranum istrinya.


*BERSAMBUNG*...

__ADS_1


__ADS_2