
🌾🌾🌾🌾🌾
.
.
Eugh!
Lenguh Ana begitu Varo memberi jejak pada leher jenjangnya yang belum pernah di ukuir sama sekali. Begitu mendengar lenguhan istrinya, Varo langsung mengiring gadis tersebut kearah ranjang. Namun, ia tidak melepaskan ciuman panas mereka. Bibir keduannya saling bertautan. Varo melepas ciumannya pada saat istri kecilnya kekurangan pasok oksigen.
Aaaggk!
"Varo!" lirih Ana saat pautan bibir mereka lepas, karena Varo sendiri yang melepas lebih dulu. Dengan nafas naik turun Varo menempelkan kening mereka berdua.
"Heum! Sayang aku ingin meminta hak ku," ucap pemuda itu dengan suara beratnya. Dia berhenti menikmati bibir ranum istrinya karena ingin meminta persetujuan lebih dulu. Varo tidak ingin mengambil Keperawanan sang istri atas keinginanya sendiri. Sebab dia sangat tahu bahwa istrinya tidak mungkin menolak.
"Apa aku boleh memintanya sekarang?" merengangkan jarak diantara mereka agar dapat melihat wajah sang istri. "Bila dirimu belum siapa, maka tidak apa-apa. Tapi tolong bantu aku untuk mengeluarkannya, karena ini benar-benar menyiksaku sedari tadi." jujur Varo yang memang sudah tidak lagi tahan menahan hasratnya.
"A--a--aku, aku, aku ta--takut, aku takut karena belum pernah melakukannya," jawab Ana dengan suara terbata-bata dan muka merahnya karena merasa malu. Walaupun tidak menyebutkan secara langsung, akan tetapi sudah jelas pembicaraan mereka mengarah pada berhubungan intim.
Mendengar penuturan istrinya. Varo tersenyum. "Aku juga belum pernah melakukannya. Jadi bagaimana? Apakah kau mau mencobanya bersamaku?" Varo kembali bertanya. "Aku berjanji akan melakukanya dengan pelan dan hati-hati, agar dirimu tidak merasakan sakit."
Terdiam beberapa saat, lalu setelahnya Ana pun mengangguk setuju. Meskipun dia masih ragu, akan tetapi dia tidak tega melihat suaminya yang sudah berkabut oleh gairah.
Cup, cup!
Varo memberikan kecupan pada kedua pipi istrinya. Lalu setelah itu dia membawa Ana naik ke atas ranjang sebelum memulai malam pertama mereka. Tidak ada taburan kelopak mawar ataupun sebagainya. Bagi Varo semua itu tidak penting. Toh nanti juga akan dirusak.
Aaaggk!
Ana kembali melenguh saat Varo kembali melakukan pemanasan sebelum melakukan acara inti. Tanpa mereka sadari jika tubuh keduanya sudah telan j4ng tidak memakai sehelai benang pun.
Varo yang sudah di penuhi gairah terus saja mengikuti naluri hatinya. Meskipun tadinya dia tidak paham cara melakukan pemanasan untuk malam pertama nya. Tapi seiring berjalanya waktu dia bisa sendiri. Begitu pula sebaliknya, Ana juga ikut memberi sentuh-sentuhan kecil yang membuat Varo semakin tidak tahan.
__ADS_1
Eugh... aaahh!
"Sayang! Hentikan!" seru Ana saat Varo menyentuh intinya.
Varo yang mendengar panggilan tersebut bukannya berhenti. Akan tetapi ia dengan sengaja melakukan lebih darisekedar menyentuh. Walaupun masih menggunakan jari tangganya.
Aaaaagghk!
Ana yang sudah tidak tahan akhirnya mengerang nik m4t. Sambil tangganya menekan kepala suaminya yang masih melakukan pemeriksaan jalan yang akan di lalui oleh Kobra nya nanti.
Meskipun awalnya Ana meringis kesakitan ketika satu jari Varo melewati jalan tersebut. Akan tetapi setelah itu hanya suara merdunya yang keluar.
Cup!
Varo kembali keatas lalu mengecup bibir istrinya. Agar Ana kembali berga 1rah, karena gadis itu sudah pelepasan satu kali. Tidak lama, hanya beberapa menit saja. Ana sudah kembali lagi seperti sebelumnya.
Varo yang tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Langsung saja meminta izin dan melakukannya dengan perlahan.
"Sayang, maaf!" ucap Varo melihat istrinya menangis kesakitan meskipun dia baru memulainya. Saat darah segar menetes pada seprai yang berwarna putih. Pemuda itu berhenti karena tidak tega harus melanjutkan tugasnya.
"Tapi... aku tidak ingin menyakiti mu," jawab Varo tidak tega. Akan tetapi meskipun mulutnya berkata seperti itu. Si ular Kobra nya masih berada di posisi yang sama.
"Tidak, ada bedanya sekarang dan besok, karena aku tetap akan kesakitan."
"Baiklah! Mari kita lanjutkan," kata Varo kembali lagi memasukan si Kobra dengan pelan. Beberapa detik kemudian, mengunakan keberaniannya. Varo pun berhasil membobol jalan yang bagitu sempit untuk di lalui oleh Kobra nya.
Aaahhhh!
Bukan hanya Ana yang meringis sakit. Tapi juga dirinya. Untuk menghilangkan rasa tersebut. Varo kembali mencium bibir istrinya dan memberikan sentuhan agar mereka bisa sama-sama menik m4ti malam pertama mereka.
Perlahan saat Ana sudah bisa rileks. Varo mulai melanjutkan tugasnya. Lama-lama akhinya Ana tidak meringis lagi. Dia hanya mengeluarkan suara desa h4n s4ja yang terdengar begitu seksi di telingga suaminya.
"Ana... aku mencintaimu!" ucap Varo disela pergerakannya yang terus memaju mundurkan pinggulnya.
__ADS_1
Malam ini di kamar hotel bintang lima. Tempat yang menjadi saksi bersatunya dua insan berbeda kasta. Mereka berdua sama-sama memberikan kepuasan. Tidak ada keterpaksaan yang Varo dan Ana lakukan, karena di dalam hati masing-masing memiliki perasaan saling suka.
Sampai dua jam kemudian. Varo sudah tumbang di atas tubuh istrinya yang juga bergetar setelah berulang kali pelepasan. Rasa nikmat m4t yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Cup!
"Aku mencintaimu, terim kasih sudah memberikan mahkota mu," ucap Varo dengan nafas masih terengah-engah karena dari awal pergumulan tersebut. Dia-lah yang menjadi pemimpin permainan mereka.
Ana hanya mengangkukan kepalanya. Ia masih mendekap tubuh polos sang suami. Berharap agar lelah yang dia rasakan bisa hilang.
Sedangkan Varo sendiri juga masih melakukan hal yang sama. Dia merebahkan kepala di ceruk leher istrinya yang sudah di penuhi oleh kis mark atau jejak percintaan yang ia tinggalkan.
"Aku mau tidur," lirih Ana melepas dekapan tangannya.
"Apa tidak mau mandi lebih dulu?" tanya Varo bangkit dari atas tubuh sang istri. Lalu dia tarik keluar si Kobra yang sudah menyemburkan bisa di dalam rahim istrinya. Entah sengaja atau tidak, Varo tidak ada memakai pengamanan apapun. Jadi belum tahu, hasil pertempuran mereka malam ini akan membuat Ana hamil atau tidak.
Angkk!
Des 4h Varo begitu si Kobra keluar. "Jika kau mau mandi biar aku gendong. Kita mandi bersama." Varo berkata dengan suara lembutnya.
"Tidak! Aku mau tidur," sahut Ana kembali memejamkan matanya.
Cup!
"Maaf, sudah membuatmu kelelahan." kata Varo ada rasa bersalah yang ia rasakan. Lalu dia turun mengambil handuk kecil dan tisu untuk membersihkan lahannya yang sudah di penuhi oleh lahar Kobra yang ia sembur kan.
Bila dia tidak membersihkannya. Mau siapa lagi, karena pemiliknya sudah mendengkur halus. Saat membersihkannya Varo begitu hati-hati karena takut membuat Ana terbangun.
Pemuda itu sampai meringis ngilu melihat bekas perbuatannya. Milik Ana sampai terlihat memerah dan bengkak. Istrinya bukanlah wanita dewasa. Dia baru berumur delapan belas tahun dan memiliki tubuh kecil. Jadi bila dibandingkan dengan Varo tentu berbeda jauh. Pemuda tersebut memiliki tubuh tinggi atlitis dan berotot karena rajin berolahraga.
Setelah menyelesaikan tugas berat tersebut. Varo membawa handuk dan tisu bekasnya masuk ke dalam kamar mandi. Bila tidur dalam keadaan tubuh berkeringat Varo tidak bisa. Maka dari itu dia mandi lebih dulu sebelum tidur.
Lima belas menit kemudian. Dia sudah keluar dalam keadaan segar bugar. Setelah memakai pakaiannya. Ia pun meringsek masuk ke dalam selimut. Menyusul istrinya masuk ke alam mimpi.
__ADS_1
*BERSAMBUNG*...