Cleaning Servis Milik CEO

Cleaning Servis Milik CEO
Restu Dari Nenek.


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂


.


.


"Sayang jangan takut, semuanya akan baik-baik saja. Percayalah padaku, huem!" ucap Varo mengelus kepala istrinya. Saat ini dia masih menemani sang istri yang ingin tidur. Sedangkan Rosa beserta kedua orang tuanya duduk di sofa.


Rosa belum mau pulang sebelum berbicara dengan sang cucu. Alhasil Martin dan Serli istrinya harus menunggunya. Sebab masih ada rasa khawatir yang Martin dan Serli rasakan, melihat seperti apa Rosa ingin menghancurkan pernikahan mereka dulu. Sampai anak-anaknya dewasa Nyonya Rosa Ravindra itu belum juga mau menyerah.


"Tapi... nenekmu melihat ku seperti musuh," kata Ana setengah berbisik. Takut bila nenek dari suaminya mendengar percakapan mereka.


"Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja. Aku lagi menunggu kedatangan Sekertaris Arsad membawa bukti-bukti kejahatan paman dan ayah Izora yang hampir saja menjual perusahan Ravindra," ungkap Alvaro belum menjelaskan pada sang istri, jika sibuknya dia akhir-akhir ini karena menyelesaikan masalah tersebut.


"Eum, semoga semuanya lancar," Ana mengangguk tersenyum. Apa yang mereka berdua lakukan, tentunya tidak luput dari perhatian Rosa.


Wanita tua itu terus memperhatikan Alvaro dan istrinya. Entah apa yang lagi dia pikirkan. Namun, yang jelas ia begitu menyesal karena keserakahannya malah hampir membuat perusahaan Ravindra hancur.


"Bu... coba ibu lihat seperti apa Varo memperlakukan istrinya, tidakkah hati ibu tersentuh melihat betapa tulusnya Varo mencintai Ana." ucap Martin karena diantara mereka bertiga tidak ada yang berbicara.


"Huh! Tahu apa kalian," jawab Nyonya Rosa yang masih tetap sama.


"Bu, mau sampai ka---"


"Sayang!" sela Serli menyentuh pergelangan tangannya agar tidak berdebat dengan ibu mertuanya. "Sudahlah, biarkan Varo yang menyelesaikan semua ini. Kita tunggu dia menemani Ana tidur, mungkin dia tidak mau istrinya banyak pikiran." ucapnya lagi.


"Huem, kau benar sayang." Martin mengangguk setuju. Setelah itu mereka hanya duduk menunggu Varo. Tidak lama, hanya lima belas menit kemudian Alvaro sudah berdiri dan mengotak-atik ponselnya.


📱 Varo : "Sudah dimana? Kenapa lama sekali?" tanya Alvaro yang entah pada siapa.


📱 Varo : "Baiklah, aku tunggu sepuluh menit lagi kau harus sudah tiba di sini." ujarnya yang langsung menutup ponselnya dan berjalan mendekati nenek dan kedua orang tuanya.


"Nek," ucap Alvaro langsung duduk di sisi neneknya, dan dia genggam tangan yang sudah terlihat keriput.


"Apa kau ingin mengejek nenek, karena kau menang?" sindir Nyonya Rosa.


"Aku tidak berkata seperti itu, mungkin nenek sendiri yang berpikiran buruk tentang orang lain." jawab Alvaro masih tetap santai.


Ceklek!


Suara pintu ruangan di buka dari luar. Ternyata yang datang adalah Sekertaris Arsad. Di tangannya ada beberapa dokumen yang langsung ia serahkan pada Tuan mudanya.


"Ini Tuan," Sekertaris Arsad menyerahkan ke tangan sang bos.

__ADS_1


"Iya terima kasih! Sekarang kau kembali saja ke perusahaan, buat semua wanita yang bergosip kemarin siang mendapatkan sangsi dan satu lagi besok pagi jam sembilan aku ingin mengadakan konferensi pers." titah Varo yang langsung mendapat bantahan dari neneknya.


"Varo... apa yang kau lakukan? Apa kau ingin mengumumkan jika Cleaning Servis itu adalah istri mu?" bentak Nyonya Rosa. Beliau tidak habis pikir dengan cara berpikirnya sang cucu.


"Iya, aku akan mengumumkan bahwa Ana Rehana yang sering mereka hina selama ini adalah istri ku, aku akan membalas perlakuan mereka selama ini,"


"Varo... kau perlihatkan dulu apa saja isi dokumen yang dibawa Sekertaris Arsad. Agar nenek mu bisa paham," kata Martin menengahi antara anak dan ibunya.


"Agh iya, Ayah benar!" Varo akhirnya mulai membuka berkas yang masih ia pegang dan mulai menunjukkan pada sang nenek. "Nek coba lihat ini dulu," ujarnya menunjukan satu lembar kertas yang sudah ditandatangani oleh putra keduanya.


"Aku tidak perlu menjelaskan secara detil, karena aku yakin nenek paham apa maksudnya." kata Varo membuka lembaran kedua. "Ini adalah jumlah saham milik Nenek yang sudah dijual oleh paman." jelasnya berhenti sejenak, lalu Varo kembali membuka lembaran yang baru lagi. "Dan ini adalah penipuan yang dilakukan oleh paman dan ayah Izora. Mereka melakukannya dengan sangat baik, mereka pikir hanya membutuhkan tanda tangan nenek, karena nenek adalah Nyonya Ravindra. Namun, mereka lupa jika aku memiliki kedudukan lebih tinggi di perusahaan Ravindra company. Aku adalah direktur nya. Jadi apapun yang akan terjadi, semua itu harus ada tanda tangan dari ku dan ayah."


"Ta--tapi... ba-bagaimana mungkin paman mu melakukan ini," Rosa tergagap setelah dia lihat ternyata hampir tujuh puluh persen saham Ravindra company sudah menjadi milik Alvaro cucunya.


"Apa yang tidak mungkin, semuanya tentu saja karena uang. Itu semua karena nenek selalu memujanya, sebab istri paman adalah menantu idaman nenek. Sedangkan ibuku selalu nenek musuhi. Hanya karena ibu terlahir menjadi gadis dari keluarganya cuma sebagai guru, bukan pengusaha." jawab Varo yang sudah lama menahan dirinya agar tidak membalas perbuatan sang nenek yang menghina status ibunya.


"Varo," lirih Serli dengan mata menganak sungai. Dia tidak menyangka jika putra sulungnya akan membela dirinya sampai harus membeli saham Ravindra.


"Iya Bu, hari ini aku ingin membawa kalian keluar dari kediaman Ravindra. Ibu, ayah dan adikku akan pindah ke rumah kita sendiri. Agar nenek tidak bisa menghina ibu dan Ana istri ku." ujar Varo yang langsung membuat neneknya menangis.


"Tidak, kau memang berhasil membeli Ravindra group. Tapi kau tidak boleh membawa keluarga mu pindah dari rumah nenek," ucap Nyonya Serli menggebu-gebu dia marah, malu dan sedih karena tidak rela bila putra sulungnya harus pindah dari kediaman Ravindra.


"Nek, apa yang aku lakukan karena aku tidak ingin nenek menghina keluarga ku, jadi aku ingin ibu bisa menikmati masa tuanya bersama ayah." kata pemuda tersebut tidak bisa dibantahkan lagi. "Lagian apa nenek yakin jika paman tidak akan menyakiti keluarga ku? Tidak Nek, paman pasti akan melakukan sesuatu lagi, dan perlu nenek ketahui, aku tidak memasukkan paman ke penjara karena Artha. Aku tidak ingin dia malu memiliki orang tua yang merupakan napi." papar Varo panjang kali lebar.


"A--apa," mendengar kata penjara, Rosa langsung menutup mulutnya. Tidak habis pikir jika sampai separah itu.


"Ibu... sudahlah, sekarang agar masalahnya aman. Ibu ikuti saja permintaan Varo," ujar Martin tidak ingin ikut campur, sebab apa yang dilakukan putranya adalah hal benar.


"Tapi kau dan... Serli akan pindah dari rumah," lirih beliau tidak bisa membendung kesedihannya. Hari ini setelah mendengar Varo akan membawa anak dan menantunya. Nyonya Rosa baru menyadari jika dia tidak ingin mereka pergi dari rumahnya.


"Buat apa juga orang tuaku tinggal di kediaman Ravindra, jika nenek tidak pernah menganggap ibuku bagian dari keluarga kita," ucap Varo tidak kasih pada air mata sang nenek.


"Varo sudahlah, jangan kau tekan nenek mu, jika dia tidak siap. Biarkan ibu dan ayah tetap tinggal di rumah nenek." ucap Serli membuka suaranya.


"Tapi Bu, nen---"


"Tidak, ibu dan ayah akan tetap tinggal bersama nenek, kami baik-baik saja." selanya tidak tega pada ibu mertuanya.


"Serli," seru Nyonya Rosa berjalan mendekati Serli dan langsung memeluknya sambil menangis. Dia tidak menyangka jika menantu yang dia perlakukan buruk selama ini, masih mau tinggal serumah dengan dirinya.


"Ibu tenanglah!" kata Serli mengelus punggung mertuanya. "Ibu jangan menangis, aku dan Martin tidak akan meninggalkan ibu sendirian,"


"Terima kasih, terima kasih sudah mau tinggal bersama Ibu, tolong maafkan ibu yang selalu menghina mu selama ini,"

__ADS_1


"Hum, sebelum ibu meminta maaf, aku sudah memaafkan ibu," Serli tersenyum melepas pelukan mereka. "Tapi tolong beri restu pada putraku, biarkan dia hidup bersama Ana dan anak-anaknya."


"Iya, baiklah! Ibu merestui hubungan mereka, tapi tolong jangan tinggalkan ibu sendirian," pintanya masih dengan wajah sendu.


"Tentu, tentu kami tidak akan pernah meninggalkan ibu." Serli tersenyum lebar. Hari ini secara tidak langsung, Nyonya Rosa memberi restunya pada hubungan Varo dan juga hubungan mereka.


Meskipun semuanya terkesan karena terpaksa. Tapi tetap saja mertuanya yang angkuh dan sombong sudah kalah.


*


*


Tiga hari kemudian. Ana sudah di bawa pulang dan telah berhenti bekerja di perusahaan. Saat ini ia hanya menjadi Nyonya Ravindra saja. Selama Ana berada di rumah sakit, sertiap hari Nyonya Rosa datang mengunjungi cucu menantunya bersama Serli.


Dia sudah memberikan Restu untuk sang cucu. Walaupun Varo tidak tinggal bersama dengan nya. Tapi pemuda itu masih menganggap dia sebagai nenek. Masih tetap menyayangi nya seperti biasa. Itu saja sudah cukup bagi orang tua sepertinya.


Dua hari lalu, Varo sudah mengadakan konferensi pers di perusahaan. Dia mengumumkan bahwa Ana adalah istri sahnya. Semua yang menyakiti istrinya selama ini, kena sangsi dari Sekertaris Arsad. Untuk pelajaran bagi mereka yang suka membuly orang lain.


"Apa ini?" tanya Ana dengan tangan bergetar menerima berkas yang ada bertuliskan nama perusahaan orang tuanya.


"Ini adalah milik mu, aku sudah membelinya. Tidak hanya perusahaan, tapi juga rumah kedua orang tua mu," jawab Varo tersenyum sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Be-benarkah? Ba-bagaimana kau bisa membelinya?" Ana tergagap sambil menangis membalikan tubuhnya dan memeluk Varo dengan sangat erat. Sungguh bermimpi pun Ana tidak pernah, jika harta peninggalan ayahnya akan kembali padanya lagi.


"Saudara jauh ayah, sengaja menipu mu, dan mengatakan jika ayah memiliki hutang Bank. Padahal semua itu hanya akal-akalan mereka saja."


"Aku sudah menduganya dari awal. Hanya saja aku tidak memiliki kekuatan untuk melawan mereka." ujar Ana masih menangis bahagia.


"Tapi sekarang ada aku yang akan membantumu, aku akan melindungi kalian."


"Varo, terima kasih! Jika bukan karena dirimu, maka aku tidak akan pernah mendapatkan kembali harta peninggalan orang tuaku," Ana menaruh berkas yang ia pegang dan kembali memeluk sang suami.


"Jangan berterima kasih, sudah kewajiban ku membahagiakan mu," Varo langsung mengendong Ana keatas tempat tidur mereka, karena saat ini adalah jam setengah sembilan malam.


Sebetulnya Varo berencana akan memberi kejutan setelah Ana benar-benar sembuh, dan akan membawa istrinya langsung ke rumah mendiang mertuanya. Namun, karena dokter berpesan agar Ana tidak boleh dibawa kemana-mana akhirnya Varo memberi tahu saat ini juga.


TAMAT...


.


.


.

__ADS_1


.


...Assalamualaikum buat Raedr ku semuanya. Terima kasih buat kalian yang sudah mau membaca karya receh Mak Author. Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena cerita Varo dan Ana dengan terpaksa Mak buat TAMAT. Semua ini karena pekerjaan RL sangatlah banyak. Sekali lagi terima kasih 😘😘😘🙏🙏🙏 Sayang dan peluk jauh buat kalian semuanya....


__ADS_2