
🌾🌾🌾🌾🌾
.
.
Pagi pun tiba.
Dikediaman Ravindra Varo sudah bersiap-siap untuk berangkat melakukan perjalanan bisnis yang bertema bulan madu dia dan Ana.
Hampir semalaman pemuda itu tidak bisa tidur karena memikirkan sang istri. Entah mengapa begitu Ana sudah resmi menjadi istrinya. Varo seakan memiliki tergantungan pada gadis itu.
Tok!
Tok!
"Sayang ini Ibu, Nak." pangil Serli dari balik pintu yang masih tertutup rapat.
Ceklek!
"Ibu, ayo masuk." kata Varo mempersilakan.
"Kamu sedang apa? Bukanya mau berangkat jam tujuh?" tanya Serli seraya duduk dipinggir ranjang putranya.
"Ini lagi memeriksa takut ada dokumen yang tertinggal." jawab Varo memperlihatkan tiga dokumen yang akan dibawa oleh nya.
"Ibu kira tadi ada masalah sehingga tidak jadi berangkat. O'ya ibu ingin menitipkan ini untuk istrimu. Katakan padanya jangan dibuka sebelum kalian sampai di kota B." ucap wanita paruh baya itu memberikan kotak kecil yang sudah dihiasi dengan fita berwarna pink.
"Iya, Bu. Terima kasih!" jawab Varo menerima kotak tersebut lalu dimasukkan kedalam kovernya yang masih terbuka. Begitu pula dengan dokumen yang tadi di periksanya.
"Apa kamu tidak sarapan bersama dulu?" ibu dua anak itu kembali bertanya karena melihat Varo langsung memakai jas kantornya.
"Tidak, Bu. Nanti ujung-ujungnya akan ada pertengkaran lagi. Lagian Varo kasihan pada Ana yang sarapan sendirian." sambil berbicara bersama ibunya. Varo selesai memasang jas dan jam mewahnya.
"Eum, iya kamu benar! Kalian hati-hati, ya. Tolong jaga menantu ibu dengan baik," melihat putranya sudah siap tinggal berangkat. Serli berdiri dari duduknya karena tidak ingin menyia-nyiakan waktu sang putra.
"Ibu juga hati-hati, bersabarlah! Bila nenek tidak berubah juga, maka Varo akan membawa kalian pindah dari sini." ucap Varo memeluk perempuan yang menjadi cinta pertamanya.
"Iya, semoga saja nenek kalian bisa berubah." Serli tersenyum setelah saling melepaskan pelukan mereka.
"Kalau begitu ayo kita keluar, Varo akan berangkat sekarang." kata pemuda itu mengandeng ibunya dan tangan satunya menarik kover kecil tampat pakainya.
__ADS_1
Tiba dilantai bawah. Varo langsung pergi begitu saja. Dia tidak berpamitan pada nenek dan juga keluarga lainnya. Sedangkan pada Martin Ayahnya, tadi pagi-pagi sekali Varo sudah berpamitan.
"Ibu, Varo berangkat!" pamitnya lagi setelah berada di depan pintu keluar.
"Hati-hati, selamat bersenang-senang!" Serli setengah berbisik saat mengucapkannya karena takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.
Varo hanya tersenyum tampan. Lalu diapun melangkah keluar menuju garasi mobil.
Braaak!
Suara pintu yang ditutup cukup kencang. Rencananya nanti, setelah menjemput sang istri. Varo akan mampir ke perusahaan Ravindra untuk menjemput salah seorang kepercayaannya yang akan membawa mobil kembali kerumah, karena mereka berangkat mengunakan pesawat.
Sambil mengendarai mobil. Varo terus tersenyum bahagia. Rasa tidak sabar yang sebentar lagi akan bertemu sang istri.
Dua puluh menit kemudian. Mobil mewahnya sudah berbelok memasuki gang kerumah Ana. Namun, sebelum itu dia sudah melihat kearah sekitar. Takut bila mobilnya di ikuti oleh orang suruhan nenek atau pamannya.
Begitu sampai Varo tidak membunyikan klakson mobil, karena ingin membuat kejutan untuk sang istri. Akan tetapi saat dia tiba didepan pintu. Ana sudah membuka pintu rumah dengan lebar.
"Kau sudah bangun?" Varo menyengir kuda karena niatnya yang ingin membuat kejutan sudah ketahuan.
"Tentu saja aku sudah bangun, ini sudah hampir jam tujuh." jawab Ana sambil masuk kedalam rumahnya lagi.
Namun, baru saja mereka masuk. Varo langsung memeluk tubuhnya dari belakang.
"Ada apa denganmu? Ini Varo atau bukan," canda Ana membiarkan Varo memeluknya.
"Tentu saja aku Varo. Memangnya siapa lagi." tetap memeluk untuk melepaskan rasa rindunya.
"Apa kamu sudah sarapan? Tapi aku hanya memasak nasi goreng." tanya gadis itu melepaskan tangan Varo pada tubuh rampingnya dan tidak melanjutkan lagi candaannya.
"Belum, aku ingin sarapan bersama istriku. O'ya apa nasi gorengnya masih ada? Kalau sudah habis kita sarapan diluar saja?" Varo mengikuti Ana yang berjalan menuju dapur.
"Duduklah, aku juga belum sarapan." tidak menjawabnya, gadis itu langsung saja mengisi piring untuk Varo dan juga dirinya.
Selama sarapan mereka berdua hanya saling diam dan saling pandang. Makanan sederhana terasa nikmat karena Ana memasaknya penuh rasa cinta.
Lima belas menit kemudian.
"Bersiaplah, biar aku yang membereskan ini." cegah Varo saat Ana ingin membawa piring bekas mereka makan ke wastafel.
"Tapi---"
__ADS_1
Cup...,
"Pergilah ganti pakaianmu," Varo tiba-tiba mengecup bibir Ana. Agar gadis itu berhenti berbicara.
Dengan pipi yang merah merona Ana langsung berlari kearah kamarnya.
"Kenapa dia begitu menggemaskan," Gumam Varo tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Lalu diapun mencuci piring bekas mereka sarapan. Setelahnya dia menyusul Ana kedepan.
"Apa sudah siap?" tanya Varo pada Ana yang kebetulan sudah keluar dari kamar dengan koper kecil ditangannya.
"Eum," gumam Ana karena masih merasa malu.
"Baiklah, ayo kita berangkat." ajak Varo mengambil alih koper sang istri. Tiba di mobil dia menyimpan koper tersebut pada begasi mobil. Lalu diapun menyusul sang istri yang sudah masuk lebih dulu.
"Pasang sabuk pengamannya." kata Varo begitu sudah ikut masuk kedalam mobil.
"Sudah," jawab Ana singkat. Sambil sesekali melirik sang suami.
"Ana... setelah kita pulang dari kota B. Kamu pindah ke rumah baru kita saja, ya?" kata Varo sambil melihat kearah sang istri.
"Kenapa? Bukanya kita sudah sepakat kalau aku tinggal di rumahku, menjelang kamu selesai mengurus masalah dengan keluargamu?"
"Tadinya iya, tapi--- Sekarang masalahnya berbeda. Aku mohon." mengengam tangan Ana dengan lembut. Guna menyanyikan.
Tadi saat dalam perjalanan kerumah sang istri. Varo mendapat pesan singkat dari anak buah yang dia tugaskan untuk menyelidiki kejahatan pamannya. Orang tersebut menyampaikan bahwa Ayah Izora dan pamannya sedang menyelidiki gadis yang dekat dengan Varo. Mereka berencana akan menghabisinya.
Itulah alasan Varo ingin membawa sang istri pindah ke rumah pribadinya.
"Nanti kita bicarakan lagi." jawab Ana yang belum bisa mengambil keputusan. Dia bukan tidak mau, tapi belum siap.
"Baiklah, tapi sebelum kita kembali kamu sudah memutuskannya. Bila tidak mau, maka aku yang akan pindah ke rumah mu." sedikit mengancam demi kebaikan mereka bersama.
"Tapi jika aku pindah ke rumah mu. Bagaimana nanti aku bekerja, bukankah tempatnya jauh dari perusahaan?" tanya Ana yang sudah diberitahu kemarin siang.
Varo sudah menceritakan semua tentang keluarganya. Termasuk soal perlakuan Rosa pada Serli sang ibu, yang tidak dia ceritakan adalah tentang keluarga Izora.
"Nanti ada mobil yang akan mengantar jemput mu. Jadi jangan khawatirkan soal jauh atau dekatnya." sambil mengobrol, tidak terasa mereka sudah tiba di perusahaan Ravindra.
"Tunggu disini. Aku mau masuk sebentar," kata Varo melepaskan sabuk pengaman pada tubuhnya.
"Huem, pergilah!" balas gadis itu tersenyum melihat Varo yang juga menatap kearahnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...