Cleaning Servis Milik CEO

Cleaning Servis Milik CEO
Wanita yang dipilih.


__ADS_3

🌾🌾🌾🌾🌾


.


.


Pagi-pagi sekali. Varo sudah berangkat lebih dulu daripada kedua orang tuanya. Agar Rosa neneknya yang cerewet, tidak curiga dengan kepergian mereka bertiga. Disinilah dia sekarang, dirumah Ana wanita yang dia pilih untuk menjadi pendamping hidupnya.


"Bagaimana para saksi? Apakah sah?" tanya Pak Penghulu yang menikahkan mereka. Acara ini hanya dihadiri oleh kedua orang tua Varo dan beberapa orang tetangga disekitar rumah tersebut.


Tidak ada acara penyambutan tamu ataupun sebagainya. Meskipun hati Varo terasa miris harus menikahi Ana dengan cara seperti itu. Namun, dia tetap tidak bisa melakukan apa-apa, karena mereka menikah seperti itu atas permintaan gadis itu sendiri.


"Sah, Sah!" jawab si Pak RT dan saksi yang lainya lagi. Setelah itu, Bapak penghulunya pun sekalian membacakan do'a untuk pasangan Varo dan Ana yang sudah sah menjadi pasangan suami-istri beberapa menit lalu.


"Nak Varo, Saya titip Ana padamu. Tolong jaga dia dengan baik. Dia tidak memiliki siapa-siapa lagi, selain dirimu." ucap seorang pria paruh baya, yang kira-kira umurnya sudah enam puluh tahunan. Beliau adalah tetangga yang paling dekat dengan Ana, karena dia dan kakek gadis itu merupakan sahabat yang sama-sama memiliki propesi sebagai guru.

__ADS_1


"Iya, Kek. Saya berjanji akan menjaganya dengan baik. Untuk saat ini, Ana masih tinggal disini karena dia tidak mau Saya bawa pindah." jawab pemuda itu pada si kakek. Saat ini mereka sedang duduk diruang tamu rumah tersebut. Yaitu si kakek, Varo dan juga Martin.


Tadi setelah pembacaan do'a dan makan bersama. Para penghulu dan tetangga lainnya sudah pulang. Tidak lupa Tuan Martin, ayah Varo memberikan mereka amplop yang berisikan uang sebagai ucapan terima kasih mereka.


Sedangkan Ana sendiri, saat ini lagi berada didalam kamar bersama ibu mertuanya. Entah apa yang mereka berdua bicarakan, sehingga sudah lebih dari sepuluh menit, belum ada yang keluar dari sana. Padahal hanya membantu Ana menganti pakaian pengantinnya saja.


"Mungkin dia belum siap meninggalkan rumah ini. Hanya ini satu-satunya harta yang tersisa. Jadi harap maklumi dia." kata si kakek karena dia tidak tahu pakta apa sebenarnya yang terjadi.


"Terima kasih, Kakek sudah mau menjadi saksi dipernikahan kami. Rencananya, bila Ana sudah mau publik mengetahui pernikahan kami. Maka Saya akan mengadakan resepsi pernikahan yang sebenarnya." papar Varo takut juga kalau peria paruh baya itu mengira dirinya yang tidak mau mengumumkan hubungan mereka.


"Menurut Saya, Ana sudah mengambil keputusan yang tepat. Untuk saat ini biarlah pernikahan kalian tersembunyi. Asalkan hubungan kalian berdua baik-baik saja.' Bukanya begitu Tuan Martin?" ucap kakek tua itu meminta persetujuan dari Martin.


"Kalian tidak perlu khawatir, bila kami sedang ada di rumah. Maka tidak akan membiarkan ada yang mengangu Ana." ucap pria paruh baya tersebut. Selama ini dia dan keluarganya memang selalu menjaga gadis yatim piatu itu walaupun mereka terlihat cuek.


"Terima kasih, Kek. Saya juga sudah tahu kalau selama ini kalian menjaganya, karena istri Saya sudah bercerita." kata Varo yang sudah diceritakan oleh Ana dari beberapa bulan mereka berkenalan.

__ADS_1


Hal yang tidak disangka-sangka mereka berdua bisa menikah. Pertemuan pertama mereka di pagi itu, ternyata sudah membuat Varo jatuh cinta pada gadis yang bekerja sebagai Clening Servis di perusahaannya.


"Agh ... berhubung ini sudah siang. Saya mau pulang dulu, bila ada perlu ataupun yang lainya. Pangil saja kerumah." pamit si kakek. Sebab tidak terasa mereka sudah mengobrol kurang lebih satu jaman.


"Iya, Kek. Sekali lagi terima kasih. Nanti bila Saya ada perlu. Maka akan kerumah Anda." Varo berdiri sambil melakukan salaman lagi. Hal yang sama juga dilakukan oleh Martin.


Setelah kepergian si kakek paruh baya tadi.


"Apa malam ini kau akan menginap di sini?" tanya Martin pada putra sulungnya. Saat ini mereka tinggal berdua, karena Serli dan Ana belum juga keluar dari dalam kamar pengantin.


Kamar pengantin? Ya, kamar pengantin! Meskipun tidak ada acara apapun. Tapi jika kamar dan tempat mereka mengikat janji suci. Dihiasi sangat indah, seperti mana tempat pengantin pada umumnya.


"Huh!" menghela nafas panjang dulu sebelum menjawab pertanyaan ayahnya. "Seharusnya iya! Tapi--- berhubung besok Varo akan membawanya pergi melakukan perjalanan bisnis, sekalian bulan madu. Jadi malam ini Varo akan kembali ke kediaman Ravindra." papar pemuda itu sedikit jengkel.


"Bersabarlah! Sekarang dia sudah menjadi milikmu. Jadi tidak perlu terburu-buru." Martin tersenyum saat menyuruh putranya untuk bersabar

__ADS_1


"Eum, harus!" jawab Varo tidak punya pilihan lain. Apa yang dia lakukan sekarang adalah demi hubungan mereka berdua.


BESAMBUNG ....


__ADS_2