Cleaning Servis Milik CEO

Cleaning Servis Milik CEO
Belum resmi dipecat.


__ADS_3

🌾🌾🌾🌾🌾


.


.


Saat Ana sedang membersihkan toilet wanita yang berada di lantai empat. Gadis tersebut mendapat telepon dari bagian HRD, yang memintanya untuk segera datang ke ruangan nya.


"Kira-kira ada apa ya? Persaan aku tidak melakukan kesalahan." Ana bertanya-tanya di dalam hati, karena begitu mendapatkan telepon dia langsung pergi keruangan itu. Ana hanya di beri waktu selama lima menit harus sudah tiba di sana.


"Apa gara-gara masalah tadi pagi? Jadi Tuan muda yang menyuruh memecat ku? Kenapa dia jahat sekali." sambil berjalan menuju tempat tujuan. Ana terus saja menduga-duga sendiri.


Biasanya bila ada yang di panggil mendadak seperti dirinya. Maka orang tersebut telah melakukan kesalahan, dan akan berakhir pada pemecatan tanpa gaji.


Tok...


Tok...


"Masuk!" terdengar suara perintah dari dalam ruangan yang paling di takuti oleh para pegawai kecil seperti mereka.


Cek.... lek...


"Em ... Se--selamat pagi, Pak?" ucap Ana ragu dan gugup.


"Iya, pagi juga. Begini kamu tidak usah berkerja di----"


"Tunggu dulu, Pak! Tolong jangan pecat Saya. Sebelum Saya mengetahui apa kesalahan yang sudah Saya perbuat. Selama ini Saya sudah bekerja dengan baik. Bahkan bapak pasti tahu sendiri Saya orang seperti apa bila sedang jam kerja." sela Ana yang sudah sangat yakin kalau dia akan dipecat.


"Saya mohon, Pak! Kalau boleh, beri Saya satu kali kesempatan. Bila Saya melakukan kesalahan lagi. Maka bapak boleh memecat Saya." ucap Ana memohon. Meskipun hanya bisa memandang Varo dari kejauhan. Setidaknya bila masih bekerja di sana, Ana memiliki kesempatan melihat wajah tampan sang CEO.

__ADS_1


"Bila kamu terus bicara. Maka akan dipecat sekarang juga." kata laki-laki yang sudah berumur sekitar empat puluh tahunan.


"Apa! Jadi Saya belum resmi di pecat?" cicit Ana merasa malu sudah menyela begitu saja saat laki-laki itu bicara.


"Iya, belum! Saya kan belum selesai berbicara. Maksudnya kamu tidak usah bekerja di tempat lain lagi. Tapi di pinta sama Pak Presdir untuk membersihkan ruangannya saja." mengelengkan kepalanya pelan. Untungnya si bapak bagian HRD ini tidak galak, seperti di perusahaan lain.


"A--a--apa? Sa--saya yang membersihkan ruang Presdir?" tanya Ana mengulangi perkataan lelaki tersebut, karena takut salah dengar.


"Hem! Pak Presdir sendiri yang memintanya. Tapi kamu hanya di beri waktu lima belas menit, dari waktu Saya menelepon tadi dan harus sudah berada di sana." menjawab sambil melirik jam pada pergelangan tangannya.


Bila Ana telat, maka yang paling bersalah adalah dirinya sendiri, karena tadi sudah mengatakan hanya dalam waktu lima belas menit, Ana akan tiba di ruangan tuan muda nya.


"Apa! Kenapa bapak tidak bilang dari tadi? Ini waktunya tinggal tujuh menit kurang." jerit Ana kaget karena waktunya sudah mepet. Dari ruangan HRD ke ruangan sang presdir, berjarak delapan lantai. Meskipun menaiki lift tetap saja waktunya tidak cukup bila berjalan seperti biasa.


"Saya belum sempat bic---"


Ting...


Bunyi pintu lift terbuka. Ana langsung saja berlari menuju ruangan CEO Revindra Company. Tidak perduli pandangan para staf dan karyawan melihat aneh kearahnya, yang penting dia tidak di pecat itu saja.


"Permisi, Nona cantik. Apa bapak presdir ada di dalam ruangannya?" tanya Ana dengan nafas ngos-ngosan. Dia berlari karena takut terlambat.


"Iya, beliau ada di dalam. Memangnya ada perlu apa?" tanya wanita tersebut. Dia heran ada masalah apa seorang Clening servis mencari CEO perusahaan.


"Baiklah! Terima kasih! Nanti Saya akan jelaskan."


Braaak...


Ana langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu seperti orang lain, dan mengabaikan pertanyaan sekertaris Varo begitu saja. Namun, begitu dia tiba di dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Aaaakkkh!"


Deg...


Jantung Ana dan Varo berdegup cukup kencang. Keduanya hanya bisa terdiam dan saling pandang, sambil mendengarkan jantung mereka yang bertalu-talu seperti alat musik.


"Kau!" ucap Varo setelah bisa menguasai perasaannya. Namun, dia tidak beranjak dari atas tubuh Ana yang tiba-tiba saja menambrak saat dia hendak berdiri dari sofa. Alhasil mereka berdua terjerambah dengan posisi begitu intim apabila ada yang melihatnya.


"Agh ... Ma--maf! Saya tidak sengaja." Ana berusaha mendorong agar Varo beranjak dari atas tubuhnya.


"Benarkah? Kenapa aku tidak percaya padamu." jawab Varo yang sudah kembali berdiri dan memperbaiki dasinya.


"Saya benar-benar tidak sengaja. Saya kesini karena kata bapak bagian HRD. Anda yang meminta Saya membersihkan ruangan ini." Ana melihat kesekeling nya yang tampak baru saja di bersihkan.


"Hem benar! Tapi ruangannya baru saja di bersihkan." ucap Varo sebelum menjawab pangilan dari luar ruangannya.


"Iya, Masuk!"


"Ada apa, Alea?" tanya Varo setelah melihat sekertaris nya.


"Maaf Tuan muda. Saya tidak bisa mencegahnya agar tidak masuk kedalam ruangan Anda." menundukkan kepalanya karena takut di marahi. Bagaimana mungkin seorang Clening servis di biarkan bertemu CEO.


"Tidak apa-apa. Mulai hari ini dia yang bertugas membersihkan ruangan ini dan juga membuat kan kopi untuk Saya." jelas pria itu agar sekertaris nya tidak melarang Ana masuk kedalam ruangannya.


"Apa? Saya juga bertugas membuat kopi?" ucap Ana merasa kaget dan senang secara bersamaan.


"Alea, tolong kamu jaga di luar. jangan biarkan siapapun masuk ke kesini. Sebelum mendapatkan perintah dari Saya." perintah Varo yang hanya ingin berbicara berdua saja dengan Ana.


"Baik Tuan muda. Saya akan keluar sekarang." sekertaris muda itu pun keluar dari ruang Varo, dan tinggalah mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2