Cleaning Servis Milik CEO

Cleaning Servis Milik CEO
Hubungan Tanpa status.


__ADS_3

🌺🌺🌺🌺🌺


.


.


"Houm! Ini jam berapa?" Varo mengerjabkan matanya pelan, karena sinar matahari pagi masuk menembus celah-celah gorden kamar hotel yang mereka tempati. "Astaga!" serunya kaget dan langsung duduk begitu melihat arah jam dinding.


"Kenapa aku bisa bangun kesiangan seperti ini, sih. Biasanya ja---"


Varo tidak melanjutkan ucapannya. Dia malah menoleh kesamping dan melihat jika ada istri kecilnya yang masih tertidur dengan sangat nyenyak.


Cup!


"Aku lupa jika ini gara-gara keenakan tidur sama istri," setelah mengecup kening istrinya. Varo tersenyum sambil mengelus pelan wajah Ana. "Tidurlah! Aku akan memesan sarapa untuk kita berdua," bisik pemuda itu lagi sebelum ia berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Saat Varo lagi mandi. Ana pun terbangun karena mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi.


"Varo sudah mandi duluan? Aaaaa... kenapa aku bisa kesiangan seperti ini, sih!" ucap Ana berteriak kecil. Tangganya pun menarik selimut untuk membukus tubuh polosnya. Dia ingat jika tadi malam sudah memberikan keperawanannya pada Varo. Maka dari itu dia menarik selimut tersebut karena sadar jika ia telanjang tidak memakai apapun. Setelah pelepasan untuk kesekian kalinya tadi malam Ana igat kalau dirinya langsung tertidur.


Ceklek!


"Sayang, kau sudah bangun!" seru Varo begitu keluar dari kamar mandi. "Syukurlah kalau sudah bangun, satu jam lagi aku akan pergi meninjau proyek yang bekerja sama dengan Perusahaan Ravindra Company. Jika menigalmu sudah bangun aku tenang," berjalan mendekati ranjang.


"Jangan mendekat!" cegah Ana semakin menutupi tumbuhnya. "Varo jangan mendekat, aku malu tidak memakai apa-apa," saat ini bukan hanya tubuh saja yang ditutupi selimut, tapi juga mukanya.


"Kenapa harus malu? Aku sudah melihat dan merasakannya," Varo tersenyum sembari menarik selimut yang menutupi muka sang istri.


"Varo! Pergilah pakai baju mu, aku akan ke kamar mandi." Ana kembali berteriak karena ia tidak bisa lagi menutupi mukanya yang memerah seperti kepiting rebus.


Cup, Cup! "Kenapa harus malu. Aku suamimu, bukan orang lain." ucap Varo malah duduk di samping ranjang dan tangannya terangkat meyibakkan anak rambut sang istri.

__ADS_1


"Sekarang mandi, setelah itu kita sarapan bersama. Huem!" Varo tersenyum melihat leher istrinya sudah dipenuhi oleh jejak percintaan yang ia tinggalkan.


"Jangan pernah merasa malu lagi. Kita adalah suami istri, hal wajar bila melakukan hubungan suami istri." dia kembali berkata karena Ana hanya diam sambil menatap mukanya.


"Tapi... aku malu," gumam Ana yang masih bisa didengar oleh Varo.


"Baiklah, kalau kau malu. Aku akan memakai pakaianku dan tidak akan melihatmu jika mau ke kamar mandi." Varo tersenyum dan turun dari ranjang.


Ana hanya menganguk setuju karena dia memang malu bila Varo melihatnya turun mengunakan selimut.


Aaaggkk!


jerit Ana saat kakinya baru saja menyentuh lantai. Wanita itu langsung terduduk diatas lantai sambil meringis menahan sakit.


"Sayang, Kau kenapa?" seru Varo melempar baju yang sudah dipegangnya kesembarang arah. "Kau kenapa? Apa yang sakit?" pemuda itu langsung merangkul istrinya dan dibaringkan lagi di atas ranjang.


"Apa yang sakit? Kau kenapa?" tannya Varo untuk kesekian kalinya.


"Ak--aku tidak kenapa-napa!" jawab Ana berbohong. Mana mungkin ia mengatakan kalau yang sakit adalah intinya yang sudah diterobos oleh Kobra suaminya tadi malam.


"Varo!" Ana menarik tangan suaminya agar berhenti tidak menelepon Sekertaris pribadinya.


"Heum, apa?" Varo berhenti dan kembali mendekati istrinya. "Mau mandi atau mau sarapan?" tannya Varo dengan suara lembut. Agar Ana mau berkata jujur padanya.


"Yang, yang sakit bekas kita tadi malam," lirih Ana yang sudah berhenti menangis.


"Apa? Oh, astaga! Maafkan aku sayang! Aku benar-benar lupa akan hal itu." Varo yang belum pernah tidur dengan seorang gadis tentu saja tidak tahu jika perbuatannya tadi malam sudah membuat istrinya kesakitan.


"Maafkan aku sudah membuatmu kesakitan," ucap Varo memeluk istrinya karena merasa bersalah. Padahal itu bukanlah kesalahannya karena bila Ana kesakitan adalah hal wajar.


"Tidak, tidak! Ini bukan salah mu. Akunya saja yang cengeng," kata Ana menggelengkan kepalanya. "Aku mau mandi," ucapnya lagi mendong dada bidang suaminya yang masih bertelanjang dada.

__ADS_1


"Iya, biar aku membantu mu." pemuda tersebut kembali berdiri dan membantu istrinya. Tidak hanya membawa ke kamar mandi saja. Akan tetapi dia memandikan juga. Setelah selesai Varo menggendong lagi untuk di bawa ke atas ranjang seperti tadi.


"Tunggu sebentar, ya. Aku akan mengambil pakain mu." ucap Varo tersenyum. Lalu dia mengambil baju untuk istrinya. Perlakuan manis suaminya membuat Ana mereka. buang rasa malunya.


Beberapa menit kemudian Varo sudah selesai membantu istrinya. Setelah itu berulah dia memakai pakaiannya sendiri. "Jam sembilan aku akan pergi bekerja. Tunggu saja di sini, aku tidak akan lama." kata Varo mendekati ranjang.


"Iya, pergilah!" jawab Ana yang tahu jika tujuan mereka datang kesana adalah untuk menemani suaminya melakukan perjalanan bisnis.


Tok!


Tok!


"Siapa?" tanya Ana pada suaminya.


"Itu pegawai yang mengantarkan sarapan kita, biar aku buka dulu pintunya." jawab Varo seraya berdiri.


Ceklek!


"Maaf Tuan, kami hanya ingin mengantarkan pesanan, Anda." ucap seorang pegawai laki-laki. Satu orang rekannya adalah perempuan yang sama seumuran seperti dirinya.


"Iya, ayo silahkan masuk dan tolong taruh di atas meja sofa." Varo membuka lebar pintu tersebut. Dua orang pegawai itupun langsung masuk dan menata berbagai jenis sarapan. Setelah itu mereka pun pamit undur diri.


"Kapan kamu memesannya?" tanya Ana merasa heran. Sebab sedari tadi dia tidak ada melihat suaminya itu memegang ponsel kecuali saat akan menelpon Sekretaris Arsad.


Mendengar pertanyaan sang istri, Varo hanya tersenyum simpul, sebelum menjawabnya. "Tadi saat aku akan menelepon Sekertaris ku," jawab Varo yang sudah siap menggendong istrinya untuk pindah ke atas sofa.


"Tidak usah digendong, aku bisa berjalan sendiri asalkan pelan-pelan tolak Ana yang ingin berjalan sendiri.


" Sudah diam saja biar aku yang menggendong mu," tidak menunggu jawaban istrinya, Varo kembali lagi menggendong Ana ala bridel still." "Diam biar aku yang menyiapkan semuanya pemuda itu pun mengambil piring lalu mengisi beberapa makanan kesukaan sang istr.


Kurang lebih dari tujuh bulan menjalin hubungan tanpa status, sedikit banyaknya Varo sudah mengetahui makanan apa saja yang disukai oleh istrinya.

__ADS_1


"ini makanlah yang banyak." setelah memberikan piring untuk sang istri, Varo pun mengambil satu piring lagi untuk dirinya sendir, bukan dia tidak mau menyuapi Ana, hanya saja Varo tidak memiliki banyak waktu. Jam sembilan dia sudah harus berangkat. Lagian Ana pasti tidak akan mau dia suapi.


*BERSAMBUNG* ...


__ADS_2