
🌾🌾🌾🌾🌾
.
.
Tidak terasa, siang sudah berganti sore. Varo sudah membersihkan dirinya dari beberapa menit yang lalu. Sambil memasang jam tangan mahalnya. Pemuda itu keluar dari kamar untuk mencari istri kecilnya yang saat ini lagi didapur memasak makanan untuk mereka berdua.
Sebelum pulang ke kediaman keluarga Ravindra. Varo ingin makan malam bersama istrinya, meskipun makan malamnya lebih awal. Andai dia bisa, malam ini Varo ingin menghabiskan waktu bersama sang istri.
"Sayang!" panggilnya saat melihat Ana yang masih menyiapkannya masakannya diatas meja makan.
Sejak tadi siang. Varo memang sudah mulai memangil Ana dengan sebutan sayang.
"Eum, apa sudah mandi?" tanya gadis itu sambil berjalan kearah wastafel karena hendak mencuci tangannya.
"Sudah!" jawab Varo singkat. Dia berjalan kearah wastafel juga, lalu begitu tiba dibelakang tubuh kecil istrinya. Varo langsung memeluk dari belakang sambil menghirup aroma sampo yang dipakai istrinya.
Cup...,
Varo mencium sekilas pipi Ana dari belakang.
.
"Rasanya aku tidak ingin kita berpisah." ucap Varo. Padahal sedari tadi siang dia selalu bersama sang istri. Tapi hanya berpisah untuk malam ini saja dia sudah berat.
"Pulanglah, bukannya katamu ini demi hubungan kita berdua." jawab Ana masih berdiri di depan wastafel meskipun dia sudah selesai mencuci tangannya sejak tadi.
"Iya, huh! Tapi aku tidak ingin meninggalkan dirimu sendirian." masih mengulangi ucapan yang sama.
Mendengar ucapan suaminya. Ana pun tersenyum seraya melepaskan tangan Varo yang masih memeluk tubuhnya. Lalu setelah itu dia memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan sang suami.
"Aku tidak apa-apa, pulanglah! Besok pagi-pagi kita sudah bersama lagi." katanya sambil tersenyum manis. Senyum yang membuat Varo semakin berat harus berpisah rumah. Padahal mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri.
Cup...,
"Baiklah, karena ini perintah dari Nyonya Varo Ravindra. Maka Saya akan pulang setelah kita selesai makan malam." imbuh pemuda itu yang selalu mengambil kesempatan untuk mencium istrinya. Entah itu dibibir ataupun di pipi.
"Jangan berkata seperti itu. Aku tidak ingin disebut Nyonya. Tapi cukup menjadi istri Varo saja." sebut gadis itu yang malu bila dipanggil sebagai nyonya. Walaupun niat Varo hanya bercanda.
"Kenapa? Kau memang sudah menjadi Nyonya Varo, karena kita berdua sudah menikah."
"Sudah, ah. Ayo makan sekarang. Ingat pesan ibu, sebelum jam makan malam. Dirimu harus sudah tiba dirumah. Agar tidak ada yang curiga." Ana mendorong tubuh Varo agar menjauh darinya. Setelah itu dia duduk di kursi meja makan lebih dulu.
Rumah Ana memang sangat sederhana. Namun, pasilitas didalamnya lengkap seperti rumah-rumah orang kaya lainya. Perbedaannya barang-barang yang ada di rumah itu bukan barang mahal.
Kakek dan nenek Ana adalah seorang guru. Mereka hanya memiliki satu orang anak, bernama Airin yaitu ibu kandung Ana. Jadi kehidupan mereka tidak susah.
"Ayo duduklah, mungkin rasa masakan ku, tidak sama seperti masakan dirumah mu. Tapi ini bisa membuat perut kita kenyang." kata Ana sambil mengisi piring untuk suaminya.
__ADS_1
"Aku rasa masakan mu lebih enak, karena dimasak dengan kasih sayang. Bukan dimasak oleh pembantu" goda Varo menerima piring yang diberikan oleh istrinya.
"Jangan mengoda ku. Ayo makanlah!" kata gadis itu mengisi piring untuk dirinya sendiri.
Ana memang sengaja menghindar disetiap Varo mengodanya, karena takut terlalu dalam mencintai suaminya.
Di lubuk hatinya paling dalam. Ana merasa was-was, setelah dia bergantung dan menyerahkan seluruh hatinya. Varo malah berubah tidak mencintai dirinya lagi. Jadi anggap saja kalau sekarang dia hanya mencoba menjaga hatinya.
Bila pun yang ditakutannya terjadi. Ana tidak jatuh begitu dalam. Berani mengambil keputusan untuk menikah dengan sang bos. Berarti dia sudah siap bila dikecewakan.
Setelah itu mereka berdua pun hanya saling diam sambil menghabiskan makanan nya. Tidak ada pembicaraan lagi, karena Varo sebetulnya juga mengetahui kalau Ana masih menjaga jarak dengannya.
Lima belas menit kemudian mereka sama-sama sudah menghabiskan makanan mereka masing-masing. Lalu Varo berdiri membantu Ana membereskan meja makan dan juga mencuci piring bersama.
Meskipun Ana sudah melarang. Akan tetapi pemuda itu tetap membantu istrinya. Walaupun gara-gara dia ingin membantu. Bukanya cepat selesai, tapi malah menjadi lama.
Sebelumnya Varo mana pernah mencuci piring. Ataupun membantu menyimpan bekas makan, karena semua itu selalu dikerjakan oleh pelayan.
"Sudah selesai!" ucap Varo tersenyum bangga. Sebab menurutnya mencuci piring merupakan pekerjaan yang susah bila di bandingkan dengan memeriksa dokumen perusahaan.
"Terima kasih! Aku tidak menyangka kalau dirimu bisa mencuci piring juga." puji Ana sembari tersenyum.
"Tidak usah berterima kasih, sudah seharusnya seorang suami membantu istrinya. Lain kali kita akan masak bersama." jawab Varo sebelum mengajak Ana kedepan, karena sudah waktunya dia pulang kerumah besar keluarganya.
"Ayo kedepan. Aku harus pulang sekarang." menarik lembut tangan sang istri.
Tiba didepan.
Cup...,
"Aku pulang dulu!" setelah kembali lagi mengecup pipi sang istri. Varo langsung pergi tidak menoleh lagi kearah pintu. Dimana Ana masih berdiri melepas kepergian dirinya.
Tiiin...
Tiiin...
Bunyi klakson mobil yang dibunyikan oleh Varo sambil tangan satunya membalas lambaian tangan istrinya.
"Kenapa aku merasa sakit seperti ini meninggalkan dia sendirian. Padahal besok pagi kami akan bertemu lagi." ucap pemuda itu dengan perasaan tidak menentu.
"Setelah pulang dari kota B. Aku harus cepat-cepat menyelesaikan semuanya. Rasanya aku tidak sanggup bila harus tinggal terpisah seperti ini." sepanjang perjalanan. Varo terus saja berbicara sendiri, karena kesal dengan keadaan yang mengharuskan dia menyembunyikan istrinya sendiri.
Kurang lebih tiga puluh menit. Dia sudah tiba dirumah. Begitu turun dari mobilnya. Varo langsung saja berjalan masuk mencari keluarganya yang dia yakini sudah menunggu dimeja makan.
"Selamat malam semuanya," ucap Varo duduk di kursi yang bisa dia duduki.
Selamat malam juga, Kak."
"Selamat malam juga, Nak." jawab Serli dan yang lainnya. Tapi tidak termasuk paman dan bibinya. Kedua orang itu hanya diam saja.
__ADS_1
"Ayo kita makan malam, kalau mau bicara nanti saja setelah selesai." ajak Rosa yang belum mau bertanya pada cucunya.
Meskipun mulutnya sudah gatal ingin bertanya. Hari ini Varo kemana saja? mengapa ponselnya tidak bisa dihubungi? Tapi demi ketentraman keluarganya. Wanita tua itu mencoba menahan sampai mereka selesai makan malam.
"Kak, Kakak seperti sudah mandi?" tanya Artha saat Varo hendak menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
"Sudah!" jawab Varo singkat.
"Bukanya Kakak baru pulang? Kakak mandi dimana?" Artha yang tidak bisa menahan dirinya kembali lagi bertanya.
"Artha, sudah nanti saja bertanyanya. Kakak mu baru kembali, biarkan dia makan dengan tenang." sela Martin takut ujung-ujungnya mereka tidak selesai makan malam lagi. Seperti biasanya, karena bila dimeja makan sudah ada pertengkaran. Maka Varo akan memilih untuk pergi.
"Iya, Paman. Maaf!" Artha langsung diam dan kembali lagi melanjutkan makannya. Namun, sesekali dia melihat kakak sepupunya yang hanya mengaduk-aduk makanan didalam piringnya saja.
"Sebetulnya apa yang kakak sembunyikan? Kenapa sekarang dia sangat berubah? Biasanya dia selalu menuruti perintah nenek." ucap Artha didalam hatinya.
"Gadis mana yang sedang dekat dengannya? Sehingga memutuskan hubungan dengan Izora. Setahuku, selama ini kakak sangat mencintai mantan tunangannya itu" Artha kembali lagi bergumam didalam hatinya.
"Aku sudah selesai. Kalian lanjutkan saja makan malamnya." kata Varo sudah meletakkan sendok yang dia pegang. Lalu dia berdiri dan mendorong pelan kursi tersebut.
Baru saja Varo akan pergi dari sana. Rosa neneknya memangil. "Varo, Nenek ingin bicara dengan mu. Jadi jangan langsung kekamar, tunggu Nenek di ruang tengah."
"Eum, baiklah!" jawab Varo menuruti perkataan sang nenek. Tidak lama dia menunggu. Rosa sudah menyulus keruang tengah. Mungkin karena takut cucunya menunggu terlalu lama. Jadilah beliau cepat-cepat menyusul.
"Ada apa, Nek?" tanya Varo langsung bertanya begitu neneknya sudah duduk.
"Apa benar besok pagi kamu akan pergi ke kota B?" tanya Rosa yang baru tahu dari Artha.
"Iya, kenapa?"
"Tidak ada, Nenek hanya bertanya saja."
Jawaban neneknya membuat Varo tersenyum kecil. "Nek, Varo tahu nenek ingin mengatakan sesuatu. Jadi tidak perlu berbasa-basi."
"Kau ini!" kata wanita paruh baya itu kesal pada sang cucu.
"Nenek ada teman yang memiliki cucu perempuan. Cucunya sangat cantik. Bila kau mau nenek akan mengatur agar kalian bisa berkenalan lebih dulu."
"Nek, nenek tidak usah repot-repot mencarikan gadis untuk Varo. Aku bisa mencarinya sendiri." meskipun jengkel mendengar perkataan Rosa. Varo masih duduk sambil mendengarkan.
"Varo--- Apa yang nenek lakukan ini demi kebaikanmu. Nenek tidak ingin kau sampai salah memilih pasangan." seru Rosa masih juga memaksa kehendaknya.
"Nenek, jika ingin melihat aku bahagia. Maka berhentilah mencari gadis lain ataupun Izora, karena aku akan mencari pasangan ku sendiri." tegas pemuda itu mulai kesal. Namun, sebelum dia berdiri Varo kembali lagi berkata.
"O'ya, Nek. Varo hampir lupa, selama satu Minggu kedepan. Perusahaan akan diurus oleh Artha dan Ayah, karena Varo perginya selama satu Minggu." lain yang mereka bahas.
Lain pula yang diucapkan oleh Varo. Setelah mengatakan hal itu dia langsung pergi meninggalkan neneknya sendirian, karena keluarga lainya masih berada di meja makan.
"Anak ini! Aku sangat yakin dia pasti sedang dekat dengan seseorang. Tunggu saja Varo. Nenek tidak akan membiarkan kau menikah dengan gadis lain." ucap Rosa yang sudah memiliki rencana lain.
__ADS_1
*BERSAMBUNG*...