
πΎπΎπΎπΎπΎπΎ
.
.
"Izora, lepas!" seru Varo mendorong tubuh mantan tunangannya cukup kuat. Pemuda itu bangkit dari sofa sambil menyapu mulutnya mengunakan tisu.
"Apabila tidak bisa menjaga perilaku mu, maka silahkan kau keluar dari sini." Varo menatap Izora penuh amarah. "Ternyata berlama-lama tinggal diluar negeri membuatmu kehilangan rasa malu," hardiknya lagi.
"Varo! Berani-rani nya kau mengatakan kalau aku tidak memiliki rasa malu. Bukannya dulu kita sering berciuman. Kenapa baru hari ini kau berkata seperti itu," seru wanita tersebut tidak terima dengan ucapan Varo.
"Ck, itu dulu Izora. Kita sebagai pasangan kekasih, tapi sekarang kita bukan siapa-siapa lagi. Jadi jangan rendahkan dirimu hanya karena mengharapkan aku menerima mu lagi." decak Varo sambil menasehati.
"Varo... aku mohon!" Izora kembali memeluk Varo dari belakang. "Aku mohon! Tolong beri aku kesempatan kedua," kata wanita tersebut memohon sambil menangis. Sekarang hanya mantan tunangannya itu yang bisa dia harapkan.
"Izora tolong jangan seperti ini, aku tidak bisa bersamamu lagi, karena aku sudah memiliki kekasih." kata Varo melepas tangan Izora dan membalikkan tubuhnya untuk melihat mantan tunangannya.
"Tapi kau masih mencintai aku, 'kan?" tanya Izora memastikan. "Kau pasti hanya menjadikan kekasihmu sebagai pelampiasan karena kecewa pada diriku, Var. Ayo kita kembali, kau putuskan saja kekasihmu. Mari kita melanjutkan rencana kita untuk menikah." ujar nya lagi.
Varo tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku mencintai dirinya Zora, jadi lupakanlah aku. Semua ini bukan salah ku, tapi salah dirimu sendiri yang sudah berulang kali membatalkan pernikahan kita." kata Varo kembali melepas paksa tangan gadis itu. Lalu ia berjalan ke meja kerjanya untuk menelepon seseorang.
π Varo : "Cepat keruangan ku!" hanya sebuah perintah yang entah untuk siapa, karena Izora tidak bisa mendengarnya.
"Var, aku mohon! Ayo kita mulai lagi semuanya dari awal," kata Izora menjatuhkan tubuhnya keatas lantai. ia mulai menangis tersedu-sedu, berharap Varo kasihan pada dirinya.
Namun mantannya itu tidak perduli dan membiarkan Izora menangis.
"Zora, cepat berdiri dan pergilah dari sini! Apapun yang akan kau lakukan percuma saja, karena aku tidak akan kembali bersamamu lagi." titah Varo yang tidak berajak dari meja kerjanya.
Tidak lama setelah itu Sekertaris Arsad datang, karena tadi Varo menelepon dirinya.
__ADS_1
Ceklek!
"Tuan Muda, ada ap---"
Sekertaris Arsad tidak melanjutkan lagi ucapan nya setelah melihat ada gadis cantik yang duduk bersimpuh di atas lantai. Dia adalah Izora, walaupun Sekertaris Arsad hanya melihat dari belakang, ia sudah tahu karena sangat mengenal mantan tunangan bosnya.
"Ada apa Tuan Muda?" tanyanya berjalan mendekati sofa.
"Tolong bawa Izora pergi dari sini," jawab Varo mulai membuka laptopnya untuk bekerja.
"Tidak, aku tidak mau pergi dari sini. Jika bukan bersamamu." tolak Izora berdiri dan kembali mendekati Varo.
"Zora! Tolong jangan mempersulit diriku," seru Varo mulai kesal, karena Izora malah menutup laptopnya begitu saja.
"Aku sudah bilang kan, tidak akan pergi dari sini. Jika bukan bersamamu." teriak Izora sambil kembali menangis dan menjatuhkan tubuhnya di bawah kaki Varo. Wanita tersebut menyentuh kaki Varo dan kembali memohon.
"Varo, aku mohon! Aku tahu dirimu masih mencintaiku," Izora tidak ingin menyerah akhirnya terus menangis.
"Zora, Zora! Kau kenapa?" Varo menepuk-nepuk pelan pipi Izora yang terlihat pucat.
"Apakah Saya perlu memangil dokter, Tuan Muda?" tanya Sekertaris Arsad yang ikut mendekat.
"Tida perlu, kita bawa dia kerumah sakit saja. Sepertinya dia tidak pingsan karena menangis. Aku baru sadar kalau wajahnya sangat pucat." cegah Varo berdiri sambil menggendong Izora.
"Ayo ikut aku, kita langsung ke rumah sakit. Nanti setelah sampai di sana, baru kita hubungi keluarganya." ajak Varo yang melupakan bahwa tadi dirinya meminta Ana untuk datang ke ruangannya membawa kopi.
Saat melewati meja Sekertaris perusahaan pun, Varo tidak melihat kearah meja. Jadinya tidak mengerti bahwa istrinya tadi sudah datang dan menitipkan kopi untuknya, lalu pergi lagi karena melihat Varo lagi berciuman bersama mantan tunangannya.
"Tuan Muda, maaf tadi---"
"Nanti saja, sekarang kami akan berangkat ke rumah sakit." sela Varo terus berjalan membopong tubuh Izora.
__ADS_1
Siang itu berita kembalinya tunangan Presdir Ravindra pun langsung tersebar luas, karena kebetulan sekali begitu banyak karyawan yang melihat Varo mengendong Izora keluar dari perusahaan. Isu-isu yang tidak benar mulai bermunculan.
Mereka hanya melihat mentahnya saja, tanpa mencari tahu kenapa wanita tersebut sampai digendong. Kebanyakan yang membuat gosip tersebut adalah para wanita yang tidak menyukai kedekatan Ana dan bos mereka.
"Ha... ha.... sekali sampah, sampai kapanpun akan tetap menjadi sampah!" ucap seorang wanita dengan suara yang cukup nyaring, agar Ana bisa mendengar nya.
"Iya, kau benar. Duh kasihan sekali ya, aku takutnya dia sudah dipakai, lalu dicampakkan begitu saja." sahut gadis satunya lagi.
Meskipun mereka tidak mengatakan secara gemblang. Tapi Ana tahu jika orang yang dimaksud adalah dirinya. Saat ini adalah jam pulang kerja, jadi mereka sedang menganti pakainya masing-masing.
"Sudah jelas lah, lagian apa ada laki-laki mau dekat dengan wanita miskin. Bila tidak ingin tubuhnya saja." cibir wanita yang kira-kira sudah berumur dua puluh delapan tahun.
Tidak tahan mendengar ucapan yang penuh sindiran yang membuatnya sakit hati. Ana pun keluar dari ruangan tersebut.
Untuk saat ini Ana harus bersabar, karena berharap jika nanti setibanya di rumah Varo sudah ada dan akan menjelaskan apa sebenarnya yang telah terjadi.
"Cih, rasakan!" ujar mereka diiringi tawa yang masih bisa didengar oleh Ana.
"Varo, aku harap semua yang aku lihat dan dengar ini tidaklah benar. Kau sudah berjanji kan, akan selalu setia kepadaku."
Gumam Ana sambil berjalan keluar dari perusahaan tersebut. Entah mengapa sore ini langkah kakinya begitu berat. Seakan-akan tidak bisa untuk berjalan lagi.
Selama dalam perjalanan pulang menuju rumah milik suaminya. Ana hanya melamun. Sampai-sampai ia tidak sadar bahwa mobil yang dikendarai oleh sopir pribadinya sudah tiba di depan rumah mewah yang berlantai dua.
Semenjak pindah ke rumah baru Varo. Gadis itu memang pulang perginya mengunakan mobil yang dibeli oleh Varo khusus untuk sang istri. Tapi dia menaiki mobil tersebut saat di pingir jalan raya saja, agar tidak ada yang curiga. Lagian mana ada seorang Cleaning Servis. Memiliki mobil mewah beserta sopirnya.
"Nona, kita sudah sampai." ucap si sopir untuk ke-tiga kalinya. Dia sudah berdiri di luar sambil memegang pintu mobil. Agar nona mudanya keluar dengan nyaman.
"Agh, iya. Terima kasih!" ucap Ana tersadar dari lamunannya. Begitu keluar Ana langsung melihat kearah garasi mobil, mana tahu Varo sudah pulang ke sana lebih dulu untuk menjelaskan pada istrinya. Namun, sayangnya mobil yang diharapkan tidak ada.
*BERSAMBUNG*...
__ADS_1