
πΎπΎπΎπΎπΎ
.
.
Setelah menutup pintu mobilnya. Varo berjalan masuk ke perusahaan. Bagitu melihat kedatanganya semua karyawan menyapa dengan hormat. Baik itu laki-laki maupun perempuan. Varo adalah bos yang tidak terlalu sombong. Hanya saja dia jarang berbicara.
"Selamat pagi Tuan Muda." sapa Sekertaris perusahaan. Dia seorang wanita yang sudah berumur dua puluh delapan tahun.
"Iya, selamat pagi juga. Apa Sekertaris Arsad sudah datang?" tanya Varo sebelum masuk kedalam ruangannya.
"Sudah dari dua puluh menit yang lalu, Tuan. Katanya dia lagi memeriksa dokumen buat dibawa ke kota B." jawab si Sekertaris.
"Oh, yasudah! Lanjutkan saja pekerjaan mu." kata Varo langsung masuk kedalam ruangannya.
Tiba di dalam ruangannya. Varo buru-buru mengambil sesuatu didalam laci kerjanya. Setelah itu dia pun keluar lagi dari sana dan menuju ruangan Sekertaris pribadinya.
"Ar, ayo kita berangkat sekarang." ajak Varo pada Arsad yang ternyata juga sudah berdiri dari kursi kerjanya.
"Iya, Tuan. Jepri juga sudah datang. Sekarang dia menunggu kita di dekat mobil Anda." jawab Arsad mengikuti sang bos dari belakang.
"Baguslah, biar kita tidak menunggu lagi." setelah itu Varo dan Sekertaris pribadinya tidak ada yang bicara lagi. Mereka sama-sama diam sampai kedekatan mobil Varo.
"Selamat pagi, Tuan Muda. Maaf Saya terlambat." kata laki-laki bernama Jepri. Dia orang kepercayaan Varo.
"Iya, pagi juga. Tidak apa-apa, Arsad sudah mengatakan kenapa kamu bisa terlambat." jawab Varo berhenti sesaat. Setelah itu dia kembali lagi berbicara. "Ayo masuk, kita berangkat sekarang."
Lalu Sekertaris Arsad pun meng-iyakan karena mereka berdua mengetahui, kalau di dalam mobil tersebut ada nona muda mereka.
Braaak!
Bunyi Varo menutup pintu belakang. Dia dan Ana duduk dibelakang, sedang Arsad dan Jepri duduk di depan.
Cup!
Tersenyum dan mengecup bibir sang istri sekilas. "Maaf, sudah membuat mu menunggu." ucap Varo tanpa rasa bersalah dan malu pada dua pria yang ada dikursi depan.
"Tidak apa-apa, tapi bisakah jaga sikap mu. Jangan asal kecap-kecup saja," tegur Ana merasa malu.
"Tidak, aku tidak bisa! Lagian apa salahnya aku mencium Istriku sendiri." jawab Varo yang malah merengkuh pinggang kecil sang istri agar bersandar pada tubuh tegapnya.
__ADS_1
"Biarkan seperti ini," seru Varo karena Ana ingin duduk biasa tidak perlu saling menempel seperti saat ini.
"Tuan Muda, Saya membeli tiket kalian secara terpisah. Jadi saat ingin chek in nanti, biarkan nona muda berjalan sendiri. Saya akan membatu nona sampai masuk ke dalam pesawat." ungkap Jepri karena dia melihat bos-nya seperti perangko.
Meskipun benar, seharusnya jangan seperti itu juga. Jepri dan Arsad kan masih jomblo.
"Apa, bagaimana mungkin? Perjalanan dari sini ke kota B. Hampir tiga jam lamanya," seru Varo begitu mendengar meraka harus berpisah.
"Soal itu Anda tidak perlu khawatir, karena saat didalam pesawat, kalian tetap duduk berdekatan. Saya sudah mengatur semuanya." jawab Jepri. Dia adalah orang kepercayaan Varo.
"Oh, seperti itu! Tidak apa-apa bila berpisahnya saat melakukan cek-in saja." ujar Varo merasa lega.
Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi. Ana sendiri juga hanya diam karena adanya Arsad dan Jepri membuat dia merasa cangung.
"Kau sudah pernah naik pesawat 'kan?" tanya Varo karena dia lupa menanyakan hal tersebut.
"Heum, sering. Dulu saat ayah dan ibu masih hidup, kami sering pergi liburan." saat menyebut kedua Almarhum orang tuanya. Dapat Varo lihat, jika wajah istrinya langsung berubah muram.
"Maaf, aku tidak bermaksud"---"
Kata Varo merasa bersalah dan tidak melanjutkan lagi ucapannya. Namun, dia langsung menarik tubuh Ana kedalam pelukannya. Ia dekap sambil memberikan kecupan pada pucuk kepala gadis itu.
Ucap Varo didalam hatinya. Ya, tadi pagi saat dia berpamitan pada Martin ayahnya. Beliau sudah menceritakan pada Varo. Bahwa Ana dulunya bukanlah gadis biasa.
"Kita sudah sampai Tuan Muda," ucap Jepri membuat Varo dan Ana membuka mata. Mereka berdua tidak tidur, tapi saling meresapi pelukan masing-masing.
"Baiklah, sayang ayo kita turun." ajak Varo pada sang istri.
"Tapi... bukannya ada yang sedang memata-matai dirimu? Jika kita turun bersama, nanti ada yang melihatnya." tanya Ana yang tadi sempat mendengar pembicaraan Varo, Arsad dan Jepri.
"Soal itu tidak perlu khawatir. Jepri pasti sudah mengurus semuanya. Mereka pasti hanya memeriksa jadwal penerbangan ku saja. Sudah, ayo turun!" ajak pemuda itu untuk kedua kalinya.
"Iya, ayo kita turun." jawab Ana menyetujui.
Setelah tiba di dalam. Jepri membantu nona mudanya. Sedangkan Varo bersama dengan Arsad. Mereka langsung berpisah seolah-olah tidak saling kenal. Padahal memiliki arah dan tujuan yang sama.
Semua itu dilakukan guna berjaga-jaga. Varo tidak takut dengan keselamatannya. Tapi yang dia khawatirkan keselamatan sang istri.
Tiba di dalam pesawat.
Seorang pramugari yang sudah tahu langsung menuntun Ana untuk duduk di bangku sebelah Varo, karena Jepri tidak pergi bersama mereka. Dia hanya mengantar sampai bandara.
__ADS_1
"Kalau kau takut, pejamkan matamu." ucap Varo yang saat ini sudah duduk bersama istri kecilnya.
Ana tidak menjawab, dia hanya menggunakan kepalanya, dan melakukan seperti apa kata Varo.
"Bila mengantuk, maka tidur saja. Perjalanan kita masih lama." ucap Varo lagi sambil mengelus kepala istrinya. Saat ini pesawat yang mereka tumpangi sudah mulai mengudara dari lima belas menit lalu.
"Iya," jawab Ana, yang belum mengantuk. "Setelah tiba nanti, apa kamu akan langsung bekerja?" mendongak keatas karena tubuh Varo jauh lebih tinggi darinya.
"Tidak, besok pagi saja. Hari ini aku hanya ingin bersamamu." Varo tersenyum karena sebetulnya dia sudah menyiapkan kejutan di hotel tempat mereka menginap.
"Memangnya tidak apa-apa?"
Cup!
"Terlalu banyak bertanya, tentu saja tidak apa-apa. Aku bos-nya. Jadi Kamu tidak perlu khawatir akan hal itu." semakin banyak istrinya bertanya. Maka Varo semakin gemas dengan istrinya. Sehingga dia selalu mengecup gadis itu.
"Iya, iya kamu bos-nya." sahut Ana tidak ingin melanjutkan lagi pembicaraan mereka. Lalu tidak lama setelah itu, Ana yang tadinya belum mengantuk sudah tidur dengan nyenyak.
"Sudah tidur," Varo tersenyum. Senyum yang jarang dia perlihatkan pada orang lain.
"Ar, apa semuanya sudah dipersiapkan?" tanya Varo pada Sekertaris pribadinya yang duduk di bangku sebelah dia dan istrinya.
"Sudah Tuan Muda. Saya sudah menyiapkan semuanya sesempurna mungkin." jawabnya karena saat mereka masih berada didalam mobil. Arsad sudah menanyakan pada Manejer hotel bintang lima tempat mereka menginap selama enam hari kedepan.
"Baguslah! Aku tidak tahu, kenapa Ana sampai melupakan ulang tahunnya sendiri." ungkap Varo merasa kasihan.
Saat mengurus buku nikah mereka. Varo baru mengetahui kalau hari ini adalah ulang tahun istrinya. Gadis yang dia nikahi kemarin pagi.
BERSAMBUNG...
.
.
.
Hai, hai... Mak author izin promo novel sahabat Mak lagi, ya. Mohon maaf sebelumnya. Mak jarang update karena lagi sakit. Bukan karena tidak konsisten pada pekerjaan.πππ
Jangan lupa untuk memberikan dukungannya juga. Terima kasih.ππ
__ADS_1