Cleaning Servis Milik CEO

Cleaning Servis Milik CEO
Bertemu mantan.


__ADS_3

🌺🌺🌺🌺🌺


.


.


"Varo!" seru gadis yang menabrak Varo berdiri dengan senyum yang mengembang.


"Eca! Kenapa kau ada di sini? Kau Ecalisa, 'kan? " tannya Varo sama kagetnya, sambil melihat kiri dan kanan mereka.


"Aku sudah lama tinggal di kota ini. Seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kau di tempat ini?" balik bertanya setelah menjawab pertanyaan mantan kekasihnya. Ya, gadis tersebut adalah mantan pacar Varo yang sudah putus dari mereka kelas sebelas.


"Aku sedang melakukan perjalanan bisnis," jawab Varo seperlunya.


"Oh, kalau begitu bagaimana kalau kita minum kopi sebentar saja. Sudah lama kita tidak bertemu." ajak gadis tersebut.


"Maaf, aku tidak bisa karena sedang buru-buru." tolak Varo, selain memiliki janji akan cepat kembali. Pemuda itu malas untuk mengobrol dengan mantan kekasihnya.


"Eum... baiklah! Ini, isi nomor ponselmu. Nanti apabila kau memiliki waktu sengang, mari kita minum kopi." meskipun sudah ditolak secara halus. Nyatanya Eca tidak menyerah begitu saja.


"Sini," Varo, mengambil ponsel gadis itu lalu memasukkan nomornya sendiri. Setelah selesai ia memberikan kembali ponsel tersebut pada pemiliknya. "Ini!" ucapnya singkat.


"Oke baiklah, terima kasih! Aku sudah mengirim pesan pada ponselmu. Simpan ya itu nomorku yang baru." kata Eca yang langsung mengirim pesan pada Varo agar pemuda itu menyimpan nomor ponselnya juga.


"Iya!" jawab Varo sama seperti tadi. Entah apa yang membuat dia menjadi sangat irit bicara. Padahal bila sedang bersama sang istri. Varo termasuk laki-laki yang bawel.


"O'ya... apa Kau mau membeli obat juga? " tannya Eca melihat kearah belakang.


"Iya,"


Tttdddd!

__ADS_1


Ttttdddd!


Saat mereka masih mengobrol, ponsel Eca berbunyi. Sehingga memutuskan pembicaraan mereka berdua.


"Sebentar, ya!" kata wanita itu merogoh ponsel yang ada di dalam tas-nya. Varo hanya mengangguk. Justru ia merasa bersukur ada yang menelepon, sehingga mereka tidak perlu bicara terlalu lama.


📱Eca : "Iya Ri?" ucap wanita itu saat mengangkat sambungan telepon di ponselnya.


📱 Eca : "Iya, iya. Aku akan kesana sekarang. Tunggu saja, aku tidak akan lama." lanjutnya lagi yang entah sedang mengobrol dengan siapa. Lalu setelah selesai menelepon, ia menyimpan ponselnya kembali dan menoleh kearah Varo yang berdiri sambil memasukan tangganya kedalam saku celananya.


"Varo... sorry aku harus pergi sekarang, karena ada urusan mendadak. Nanti aku akan menelepon mu," karena buru-buru Eca pergi setelah berkata seperti itu. Sedangkan Varo kembali merasa lega. Dia bukan membenci Eca, hanya saja Varo ingin menjaga jarak dengan wanita manapun. Itu semua dia lakukan karena ada hati yang harus dia jaga.


"Huh!" menghela nafas lega, lalu ia kembali berjalan masuk ke Apotik seperti niat awalnya.


"Selamat datang, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?" sambut seorang pelayan wanita dengan sangat ramah. Melihat ketampanan Varo, siapa yang akan diam saja, satu-satunya gadis yang cuek adalah Ana. Meskipun dia sudah lama menyukai Varo yang notabenya sebagai CEO tempatnya bekerja.


"Iya, saya ingin mencari anti biotik sama salep yang bisa mengobati luka dan bengkak." jawab Varo sambil mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Salep?" ulang si pegawai. Takut bila salah dengar.


"Iya, salep. Apakah ada? Jika tidak ada, Saya akan mencari di tempat lain." ujar Varo tidak sabaran. Selama ini dia mana pernah membeli barang yang seperti itu.


"Ada berbagai macam jenis salep yang kami jual. Anda ingin mencari salep seperti apa?" tannya si pegawai bergantian. "Sebentar Saya ambil beberapa jenisnya dulu. Nanti Anda baca saja, kira-kira mana yang cocok dengan yang Anda cari."


"Iya biar Saya baca dulu," kata Varo setuju. Lagian dia juga tidak tahu bagaimana harus menjelaskan pada pegawai tersebut. Apalagi pada seorang wanita. Tidak mungkin kan, dia mengatakan mencari salep untuk mengobati milik istrinya yang terluka dan membengkak gara-gara Kobra nya terlalu besar.


"Ini Tuan silahkan dilihat salah," pegawai tersebut memberikan lima macam jenis salep sekaligus.


Lalu Varo pun membacanya satu persatu karena tidak mau salah membeli obat yang akan menyakiti istrinya. Agh... istri mendengar kata istri membuat Varo ingin cepet-cepat kembali ke hotel tempat mereka menginap.


"Ini, Saya mau salep yang ini." memberikan salep yang sesuai untuk luka istrinya.

__ADS_1


"Baiklah, mau berapa biji, Tuan?" si pegawai bertanya lagi.


"Lima, Saya mau lima biji. Jika ada yang sejenis itu tolong carikan harganya yang paling mahal." setelah mengatakan itu Varo berjalan mendekati rak yang ada terdapat cemilan ringan. Lalu diambilnya beberapa macam dan dibawa ke meja kasir.


"Terima kasih, Tuan." ucap pegawai tersebut setelah mengembalikan kartu black kard milik Varo karena pemuda itu tidak membayar dengan uang kes. Varo tidak menjawab, tapi dia mengajukan kepalanya saja.


Braak!


Bunyi pintu mobil yang ditutup oleh Varo.


"Apa kita akan langsung pulang Tuan Muda?" tannya Sekertaris Arsad mulai menjalankan kendaraan mereka.


"Iya, Ana sendirian di hotel." jawab Varo kembali lagi memeriksa ponselnya. Ada beberapa nomor baru yang menghubunginya. Salah satunya adalah Eca, mantan kekasihnya tadi.


Selama dalam perjalanan pulang ke hotel. Varo hanya berbalas pesan dengan kedua sahabatnya yang juga sudah menelepon beberapa kali. Jangan lupakan, didalam pembicaraan grup pertemanan antara Varo, Rizki dan Arga. Mereka masih membahas Ana yang hilang tidak ada kabarnya. Terutama Rizki, jika Arga hanya Ikut-ikutan saja karena tahu kalau Rizki sahabat mereka menyukai Ana jadi dia mundur. Sebab dirinya juga sudah memiliki kekasih.


Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di depan lobby hotel. Varo turun lebih dulu untuk menemui istrinya. Sedangkan Sekertaris Arsad masih memberikan kunci mobil pada pengamanan di hotel tersebut.


"Varo!" seru Ana tersenyum bahagia karena dia sudah merasa jenuh tidak memiliki teman. Ingin berjalan-jalan di sekitar hotel dia tidak bisa berjalan dengan normal. Apa kata orang-orang bila melihat gadis sepertinya berjalan yang terlihat aneh.


"Apa kau merasa kesepian?" setelah menutup pintunya kembali. Varo berjalan mendekati ranjang dan langsung memeluk istrinya. "Aku sangat merindukanmu," ucapnya sebelum Ana berkata apa-apa.


"Iya, aku jenuh hanya duduk di sini sendirian." jawab Ana jujur. Biasanya meskipun sudah biasa tinggal sendiri, akan tetapi bila merasa jenuh Ana bisa pergi ke luar untuk menenangkan pikirannya sampai ia merasa kantuk.


"Maafkan aku. Cup! Tadi rapatnya memang agak lama." Varo mengelus pipi sang istri. "O'ya, aku sudah membelikan salep dan obat anti biotik untuk lukanya." pemuda tersebut berdiri lagi kearah sofa. Tadi dia meletakan obat-obat tersebut di atas meja kaca.


"Tunggu aku mandi ya, nanti biar aku olesi." kata Varo berniat untuk mengoles salep pada inti sang istri.


"A--apa! Dirimu yang akan mengoles obatnya?" tannya Ana dengan mata membola keluar.


*BERSAMBUNG*...

__ADS_1


__ADS_2