
Merlin merasa dirinya menang karena telah membuat Gilang takut. Wanita itu terus saja tersenyum hingga suaminya datang. Dengan bahagia disambutnya kehadiran Gerald.
"Sayang, kamu sudah wangi. Mari sarapan," ucap Merlin memeluk lengan suaminya dan mengajak duduk buat sarapan.
Gerald memandangi istrinya dengan tatapan curiga. Tidak biasanya Merlin bahagia begini. Merlin mengambilkan Gerald nasi uduk yang tadi bibi buatkan di bantu Merlin.
"Ambilkan buat Gilang sekalian!" perintah Gerald. Dengan berat hati wanita itu juga melayani Gilang. Setelah mengambilkan nasi buat Gerald dan Gilang, Merlin duduk di samping Gerald suaminya.
Masih dengan senyuman di bibir yang terus berkembang, Merlin menyantap sarapannya. Dia tidak perlu takut lagi jika Gilang akan mencur perhatian suaminya. Pasti setelah ini anak itu tidak akan pernah mengganggu lagi.
"Om, kata Tante Merlin dia pengin sekali hamil lagi seperti dulu," ucap Gilang disela mereka sarapan.
"Kami sedang program untuk kehamilan," ujar Gerald.
"Jika saja aku tidak keguguran saat itu, pasti anak kita seumuran Gilang saat ini," ucap Merlin dengan wajah dibuat sendu.
Gilang tahu, pasti Merlin ingin ayahnya mengingat kembali tentang perbuatan ibunya. Padahal yang salah Merlin, bukan ibunya. Merlin ingin Gerald membenci Agatha karena menjadi penyebab dia gagal memiliki keturunan.
"Seharusnya Tante itu hati-hati. Kalau hamil jaga diri baik-baik. Itu semua karena kecerobohan Tante sendiri, jadi tidak perlu merasa sedih. Harusnya Tante sadar diri!"
Merlin kaget dengan ucapan bocah itu. Kenapa dia bisa bicara begitu. Merlin takut Gerald akan percaya dan menyelidiki lagi masalah ini.
__ADS_1
"Semua itu bukan mauku dan bukan salahku. Itu semua kesalahan wanita bang*sat yang bernama Agatha. Jika saja dia tidak mendorongku, pasti saat ini anakku dan Gerald telah besar!" ucap Merlin.
Gilang menjadi emosi mendengar ucapan Merlin. Dia tidak terima jika ibunya masih saja terus disalahkan atas perbuatan yang tidak pernah dilakukannya.
"Wanita itu telah membayar perbuatannya. Jadi kamu jangan ungkit itu lagi," ucap Gerald. Dia teringat Agatha. Istrinya yang lemah lembut. Tapi wanita itu hadir saat dirinya telah mencintai wanita lain yaitu Merlin.
Diakui Gerald, mantan istrinya itu sangat baik. Sebagai istri dia termasuk idaman para suami. Sayang, tidak ada cinta dihatinya untuk Agatha.
"Aku belum puas atas hukuman yang dia terima. Seharusnya wanita jahanam itu dipenjarakan seumur hidup. Hukuman penjara 10 tahun terlalu ringan bagi seorang pembunuh seperti Agatha. Apa lagi aku dengar dia mendapat remisi dan telah bebas. Aku akan membayar semua sakit hatiku jika bertemu dia kembali," ucap Merlin.
Gilang megepalkan kedua tangannya menahan amarah. Dia tidak boleh gegabah. Misinya baru dimulai.
"Maaf, Om aku pamit kebelakang sebentar."
Gilang berjalan ke taman belakang rumah Gerald. Memasukan rekaman tadi ke ponselnya. Gilang mengeditnya sehingga terdengar hanya suara pengakuan Merlin mengenai dia yang sengaja memenjarakan Agatha.
Setelah cukup baik dan rapi, anak itu mengirim suara rekaman ke ponsel Merlin dan mengancamnya.
"AKU MEMILIKI BUKTI JIKA AGATHA TIDAK BERSALAH. SEMUA HANYA KEBOHONGAN DARIMU. TUNGGU SAJA PEMBALASAN DARIKU. KAU HARUS MEMBAYAR SEMUA PERBUATANMU. (AGATHA)"
Gilang mengirim pesan itu atas nama ibunya agar Merlin tidak bisa lagi merendahkan ibunya dan menganggap wanita itu lemah.
__ADS_1
Setelah mengirim pesan itu, Gilang kembali ke meja makan. Dia melihat Merlin sedang membaca pesan darinya.
Merlin tidak berani membuka suara rekaman itu, karena ada Gerald di sampingnya. Gilang hanya tersenyum simpul. Mulai hari dia akan membuat hidup Merlin tidak tenang.
...****************...
Untuk menambah Halu kita biar tambah lancar, mama beri bonus visual.
Agatha.
Gilang
Gerald
Merlin
__ADS_1