
Setelah melakukan operasi, bu guru Cinta di bawa ke ruang rawat inap. Gilang dan Gerald yang menunggu dengan gelisah langsung berdiri dari duduknya begitu melihat Gerald.
Kedua ayah dan anak itu menghampiri Bima dan bertanya keadaan Cinta. Di sini Gilang yang sangat merasa bersalah.Karena ingin menolongnya hingga Cinta mengalami kecelakaan.
"Bagaimana keadaan Bu Cinta, Ayah?" tanya Gilang dengan suara gemetar.
"Jangan kuatir, Nak. Ibu Cinta telah melewati masa kritis. Sebentar lagi pasti dianya sadar."
Gilang menarik napas dalam karena merasa lega. Doanya dikabulkan, gurunya masih bisa diselamatkan.
Agatha telah dikabari Bima. Wanita itu menyusul bersama Aurell ke rumah sakit. Dia tidak tenang jika belum melihat langsung keadaan anaknya Gilang.
Satu jam berlalu, akhirnya bu Cinta sadar dari pingsannya. Melihat ada pria yang tidak dikenalnya ada di dekat dirinya membuat Bu Cinta kaget dan sedikit takut.
"Siapa Anda? Kenapa ada di sini?" tanya Bu Cinta. Dia berusaha mengingat apa yang terjadi. Cinta baru ingat jika dia mengalami kecelakaan.
Belum sempat Gerald menjawab, Bu Cinta sudah bersuara kembali. "Apa kamu yang telah menabrakku?" tanya Bu Cinta.
"Bukan, aku Papanya Gilang. Kamu jangan salah paham."
__ADS_1
Cinta memandangi wajah Gerald dengan seksama. Dia mengenal Bima sebagai ayah Gilang, tapi ini wajahnya berbeda. Cinta pikir Gerald pasti berbohong. Namun, kenapa dia ada di kamar ini.
"Jangan mencoba menipuku. Kamu jelas berbohong. Aku kenal siapa ayahnya Gilang. Bukan kamu, tapi Pak Bima!" ucap Cinta.
Mendengar ucapan guru Cinta, ada rasa nyeri di dada Gerald. Bukankah dia yang seharusnya dikenal sebagai ayahnya Gilang bukan Bima.
Namun, Gerald tidak boleh menuntut. Saat ini saja dia telah bersyukur karena Gilang sudah bisa menerima dirinya.
Belum sempat Gerald menjawab, suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya. Setelah mempersilakan masuk, Gerald melihat Gilang yang masuk bersama Agatha dan anaknya yang kedua.
Agatha melangkah mendekati ranjang tempat Bu Cinta terbaring. Dia langsung memeluk Cinta.
"Terima kasih, Bu. Telah menyelamatkan nyawa Gilang dan Ibu harus terluka cukup parah begini. Rasa terima kasih saja memang tidak cukup."
Agatha menguraikan pelukannya pada Cinta. Memandangi wajah Cinta cukup lama. Dia tidak tahu harus bicara apa.
"Dari lubuk hati saya, saya berterima kasih, dan menghargai semua yang telah Bu Guru lakukan. Kemurahan hati ibu telah memberi saya harapan baru.Aku merasa berutang banyak padamu. Lain kali jika kamu membutuhkan bantuan, aku pasti akan bantu."
Agatha menggenggam tangan bu Cinta mencoba memberikan kekuatan pada wanita itu. Agatha mendengar dari putranya jika Bu Cinta baru saja kehilangan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Dalam diam Gerald memperhatikan interaksi antara Agatha dan Cinta. Meraka tampak mengobrol sangat akrab seperti teman lama.
Sesekali pandanganmya tertuju pada Gilang yang sedang menemani Aurell bermain. Gerald tersenyum dengan terpaksa.
"Jika saja aku tidak berpisah dari Agatha, mungkin aku telah hidup bahagia bersama anak-anak dan istriku itu," gumam Gerald dengan diri sendiri.
Agatha menarik kursi yang berada di samping tempat tidur dan duduk manis. Dia masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Agatha tidak tahu apa yang akan terjadi jika saja Bu Guru Cinta tidak menolongnya.
Ponsel Gerald berdering, dia melihat ada nama orang kepercayaannya yang ditugaskan mencari siapa pemilik kendaraan bermotor yang menabrak Bu Cinta.
Gerald menerima panggilan itu dan mendengarkan semua laporan dari orang suruhannya. Sekitar lima menit mengobrol, Gerald mengakhiri obrolan di telepon itu.
"Jadi ini semua kerjaan kamu. Aku tidak akan bisa menerima ini. Kamu harus menerima ganjarannya," gumam Gerald pada dirinya sendiri.
Gerald mendekati Agatha dan pamit karena ada keperluan mendadak. Dia ingin menyelesaikan masalah ini dulu.
"Agatha, aku titip Bu Cinta sebentar. Ada masalah yang harus aku selesaikan."
"Iya, Mas. Pergilah. Semoga semuanya bisa di selesaikan," ucap Agatha.
__ADS_1
Gerald meninggalkan ruangan itu dengan langkah yang sangat tergesa. Wajahnya tampak memerah menahan amarah.
...****************...