DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG

DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG
Bab 35. Aku Juga Kangen, Pa!


__ADS_3

"Gilang ... Papa kangen, Nak," ucap Gerald terbata.


Gerald mencoba bangun dari tidurnya. Melihat itu Bima membantunya. Menyandarkan tubuhnya ke bantal yang ditinggikan Bima.


Gilang mendekati Papa-nya. Duduk di tepi ranjang. Bima lalu mendekati Gilang.


"Ayah ada urusan sebentar. Ayah tinggal kamu di sini dulu. Nanti ayah jemput." Bima berkata sambil mengacak rambut putra tirinya itu.


"Baiklah, Yah. Tapi jangan lupa jemput aku satu jam lagi. Aku takut," ucap Gilang dengan lirih.


"Jagoan masa takut?"


"Aku nggak suka suasana di sini. Mencekam dan membuat aku merinding. Aku jadi teringat bagaimana Ibu menghabiskan waktu bertahun-tahun di dalam rumah tahanan ini."


Gerald yang mendengar obrolan Bima dan Gilang, menundukkan kepalanya. Dia menarik nafas dalam. Teringat semua yang dia lakukan pada Agatha. Akibat laporannya, wanita itu harus menanggung derita atas perbuatan yang tidak pernah dia lakukan.

__ADS_1


Gerald sadar, siapa pun orangnya, pasti akan marah dan dendam jika berada di posisi Agatha. Pria itu sadar jika apa yang dia dapat saat ini belum seberapa dibandingkan penderitaan Agatha. Dalam keadaan hamil di kurung. Saat anaknya lahir harus pula di serahkan ke panti asuhan.


"Semua telah berlalu. Jangan selalu diingat. Ibu kamu wanita yang kuat. Buktinya bisa melalui semua rintangan ini. Kamu sebagai putranya harus lebih kuat dari Ibumu!"


"Iya, Ayah. Hati-hati."


"Oke, Boy. Satu jam lagi ayah jemput."


Bima mengecup kedua pipi Gilang. Tampak sekali keakraban keduanya. Gerald yang melihat semua interaksi keduanya merasakan dadanya nyeri. Seharusnya dia yang berada di sisi Gilang dalam mendampingi putranya tumbuh besar.


Bima meninggalkan ruangan itu setelah pamit dengan Gerald dan menitipkan Gilang. Sebenarnya Bima tidak ada keperluan apa pun. Dia hanya memberikan waktu buat keduanya untuk lebih dekat dan saling terbuka untuk bicara. Bima takut jika kehadiran dirinya di antara Gerald dan Gilang membuat keduanya canggung.


"Aku bawa bubur ayam yang sering kita makan itu," ucap Gilang memecah kesunyian di antara keduanya.


Gerald tersenyum. Teringat saat mereka beberapa kali makan bubur ayam di tempat yang Gilang katakan itu.

__ADS_1


"Kamu sengaja belikan buat Papa?" tanya Gerald dengan senyuman.


"Kata Ayah Bima, Papa tidak mau makan. Siapa tahu bubur ayam ini bisa buat mengganjal perut Papa."


"Terima kasih, Nak. Kamu masih perhatian dengan Papa," ucap Gerald terbata. Dia terharu mengetahui jika putranya itu masih ingat dan perhatian dengannya.


Gerald rindu saat mereka latihan. Pergi turnamen bersama. Pulang dari turnamen merayakan kemenangan dengan pergi makan-makan. Apakah itu semua masih bisa dia dan Gilang lakukan suatu hari nanti. Gerald berharap, saat dia keluar dari tahanan, semua kemarahan dan dendam putranya telah hilang tanpa sisa.


"Papa kangen banget saat kita latihan bersama. Makan berdua dan jalan bareng setelah turnamen," ucap Gerald.


"Aku juga kangen semua itu, Pa," ucap Gilang dengan lirih. Di luar kesalahannya sebagai Papa kandung, Gerald adalah pelatih idolanya. Pria itu adalah orang yang dekat dengannya selain Ayah Bima. kedua pria itu sangat berarti didirinya.


Mendengar ucapan putranya, hati Gerald seakan berbunga. Ternyata di dalam hati Gilang masih tersimpan namanya. Buktinya bocah itu juga kangen.


"Aku suapin, Papa. Biar kenyang."

__ADS_1


Gilang menyuapi Gerald. Pandangan mata pria itu tidak lepas dari memandangi wajah putranya. Rasa bahagia jelas terpancar dari wajahnya. Dalam sekejap bubur ayam yang Gilang beli dan suapin buat Gerald, habis tidak tersisa.


...****************...


__ADS_2