
Seperti biasanya Agatha mengantar kepergian Bima ke kantor hingga masuk mobil. Sebelum masuk Agatha memeluk pinggang suaminya itu. Tidak biasanya wanita itu terlihat manja. Bima menjadi heran.
"Sayang, kamu kenapa? Seperti enggan melepas aku pergi. Tidak biasanya memeluk seerat begini?" tanya Bima.
Agatha sesungguhnya merasa bersalah. Dia tidak pernah berbohong sekalipun dengan suaminya itu. Nanti siang wanita itu berencana akan menemui Merlin tanpa izin dari Bima.
Merasa tidak enak hati karena pergi ke sana tanpa Bima tahu, membuat Agatha memeluk suaminya erat. Dia mengecup pipi Bima lagi.
Bima lalu membalas memeluk Agatha, merapatkan tubuhnya. Tidak peduli dengan pandangan penjaga keamanan rumahnya yang memperhatikan mereka. Bima mengecup dahi Agatha.
"Sayang, kamu pengin ya? Kenapa pelukannya tidak mau lepas? Masih ada waktu setengah jam. Kita bisa main cepat," goda Bima.
Agatha langsung mencubit perut suaminya mendengar ucapan pria itu. Dia tahu Bima hanya menggodanya. Mana mungkin suaminya itu bisa bermain cepat. Buat pemanasan saja, suaminya menghabiskan waktu setengah jam. Semua Bima lakukan agar istrinya bisa melakukan hubungan dengan santai. Sebagai dokter kandungan, Bima tahu dimana letak kelemahan wanita yang membuat Agatha akan takluk dan segera mencapai puncak.
"Yakin bisa main cepat?" tanya Agatha, membalas candaan suaminya. Tanpa wanita itu duga, Bima langsung menyambar bibirnya dan ******* bibir itu dengan rakus.
Kepala keamanan yang melihat itu langsung membuang mukanya. Tidak percaya jika majikannya itu bisa berbuat mesum di depan mereka.
__ADS_1
Setelah cukup puas dan melihat Agatha yang sesak, Bima melepaskan pagutan mereka. Wajah istrinya tampak memerah karena malu. Wanita langsung menyembunyikan wajahnya ke dada Bima begitu menyadari apa yang mereka lakukan diperhatikan petugas keamanan di rumah mereka.
"Mas, maluin aja. Ada Pak Didit sedang memperhatikan kita dari tadi."
"Biar aja. Siapa suruh lihat. Masih mau?" tanya Bima.
"Nggak mau ... Mas harus kerja. Bukannya ada operasi hari ini," ucap Agatha mengalihkan perhatian suaminya.
Bima langsung memukul jidatnya. Teringat ada tiga kali operasi yang harus dia tangani hari ini. Pria itu mengecup dahi istrinya dan langsung masuk ke mobil.
Wanita itu menunggu hingga mobil Bima menghilang baru masuk ke rumah. Agatha tersenyum mengingat apa yang Bima lakukan tadi.
***
Agatha menidurkan Aurell dan menitipkan pada pembantu di rumah. Sebenarnya ada rasa kuatir meninggalkan putrinya, tapi dia harus bicara dengan Merlin.
Mobil itu dikendarai sendiri oleh Agatha. Sejak Aurell lahir, wanita itu telah belajar menyetir. Bima juga membelikan mobil yang baru untuk istrinya itu.
__ADS_1
Sampai di rumah tahanan, Agatha langsung mengisi buku tamu. Seorang penjaga tahanan mengenalnya dan memberikan fasilitas buat Agatha agar lebih mudah bertemu Merlin.
Di ruang khusus buat pengunjung mereka bertemu. Merlin memandangi Agatha dengan wajah yang sangat emosi. Semua miliknya saat ini menjadi milik Agatha. Bahkan wanita itu mendapatkan lebih darinya. Semua harta Gerald dan pastinya harta Dokter Bima menjadi miliknya.
Agatha tersenyum dengan miring melihat Merlin. Kemarin dendamnya pada Merlin telah mau dikubur. Namun, mengetahui Merlin mau mencelakai anaknya, dia tidak akan tinggal diam. Siapa saja bisa menyakiti dirinya dan Agatha bisa menahannya, tapi jika itu mengenai anaknya dia tidak akan tinggal diam.
"Selamat Siang, Merlin. Kelihatannya kamu sangat betah berada di sini. Apa kamu sudah tahu bagaimana perasaanku saat tinggal di sini?" tanya Agatha dengan lirih.
"Jangan berbasa-basi, katakan apa yang kau inginkan?" tanya Merlin.
"Aku ingin kamu lebih lama lagi mendekam di sini. Jika perlu selamanya," ucap Agatha dengan penuh penekanan.
Agatha sengaja mengatakan itu agar wanita itu emosi. Dia ingin membuat Merlin merasa sangat tertekan. Agatha telah memikirkan apa saja kata-kata yang akan dikeluarkan untuk membuat sakit hati Merlin.
Merlin mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan Agatha. Jika saja dia sedang berada di luar tahanan pasti sudah mengajak Agatha bergulat.
...****************...
__ADS_1