
Sebelum mama lanjut cerita novelnya, mama ingin mengatakan jika novel ini ikut lomba event anak genius.
Pasti banyak yang bertanya, masa anak umur 8 tahun udah bersikap seperti orang dewasa. Memang begitulah adanya tema anak genius ini. Bahkan ada yang novel tema anak genius, anak berusia lima tahun meretas komputer perusahaan dan membuat robot, jadi mafia dan lain-lain.
Jadi mama harap pengertiannya. Ini hanya cerita Halu dengan tema anak genius. Mohon dukungannya. 🙏🙏🙏
***
Gilang menyantap masakan Ibu-nya dengan lahap. Dia tampak sangat bahagia karena akhirnya bisa hidup bersama dengan Ibunya,walau tanpa kehadiran ayahnya.
Mengingat tentang ayah-nya wajah Gilang langsung berubah. Dia teringat dengan orang yang dimintanya mencari tahu penyebab ibu-nya dipenjarakan.
Orang itu mengatakan Ibu-nya di penjara karena laporan dari ayahnya serta selingkuhan pria itu. Gilang ingin membalas semua sakit hatinya.
Gilang yang usianya masih 8 tahun tapi pikirannya telah sangat dewasa karena IQ yang tinggi. Dia termasuk anak genius.
Malam harinya Gilang izin buat pergi latihan bela diri. Kebetulan sebentar lagi akan ada perlombaan sehingga dia harus berlatih lebih keras lagi.
Saat makan malam, Gilang meminta izin untuk menginap. Dia ingin lebih mengetahui kehidupan rumah tangga Ayahnya.
"Bu, aku izin untuk menginap di rumah pelatihku," ucap Gilang sambil menyantap makanan yang dihidangkan ibunya.
"Kenapa kamu harus menginap, Nak?"
__ADS_1
Agatha bertanya karena tidak tahu kegiatan putranya selama ini. Dia hanya tahu jika putranya seorang anak yang memiliki banyak prestasi. Satu diantaranya Gilang memiliki kepintaran dibidang akademis dan juga bela diri.
Putranya sering menjuarai berbagai event hingga ketingkat nasional. Uang hasil dari ikut perlombaan disimpan ibu panti asuhan. Gilang juga berjualan sepulang sekolah, semua uang di simpan dengan Ibu Panti dan akhirnya dibelikan rumah yang saat ini ditempati Gilang dan Ibu-nya.
"Aku akan mengikuti perlombaan. Agar latihannya lebih fokus aku akan menginap. Lagi pula besok hari minggu. Aku libur, Bu!"
"Terserah kamu saja, Nak. Tapi ingat ya, jangan kecapean latihannya. Ibu tidak ingin kamu sakit."
Gilang berdiri dari duduknya dan mengecup pipinya. Walaupun Gilang termasuk anak genius, tapi manjanya tetap seperti anak seumurannya. Dia mengecup seluruh bagian di wajah wanita yang telah melahirkan dirinya itu.
Gilang naik kepangkuan Ibunya dan terus mengecapnya. Terbayang bagaimana ibunya yang dikurung dalam penjara bukan karena kesalahannya tapi di fitnah selingkuhan ayahnya.
Percayalah, Bu. Aku akan membayar semua yang telah mereka lakukan padamu. Aku nggak akan membiarkan ayah dan seligkuhannya bersenang di atas penderitaanmu.
"Aku sayang, Ibu. Mulai hari ini tidak ada yang bisa menyakiti ibu. Aku tidak akan membiarkan orang-orang menghina Ibu. Aku, Gilang akan melindungi Ibu dari mereka yang ingin membuat Ibu menderita. Sudah cukup waktu 8 tahun Ibu habiskan dengan penuh penderitaan. Aku juga tidak ingin berpisah dari Ibu lagi."
Air mata Agatha tidak bisa dibendung lagi mendengar ucapan dari Putranya. Di peluk tubuh Gilang dan mengecup kedua pipi Gilang.
"Maafkan ibu, Nak. Ibu terpaksa menitipkan kamu di panti. Ibu tidak mau kamu dibesarkan dalam penjara. Walau orang-orang dalam penjara tidak semuanya jahat, tapi lingkungannya tetap tidak baik bagi perkembangan kamu."
"Ini bukan salah ibu. Yang salah mereka yang telah membuat ibu masuk penjara. Aku akan membalas semua perbuatan mereka!"
"Jangan menyimpan dendam, Nak. Tidak baik bagi kesehatan mental. Mungkin inilah jalan hidup Ibu yang telah ditakdirkan dari yang diatas."
__ADS_1
Agatha sengaja mengatakan itu agar anaknya tidak ternodai dengan pikiran untuk balas dendam. Agatha sudah cukup bersyukur anaknya tumbuh sehat dan sempurna.
Apakah Agatha bodoh karena menerima begitu saja semua yang dilakukan suami dan selingkuhannya? Tidak. Agatha bukanlah malaikat yang selalu benar dan menerima semua takdir. Dia hanya manusia biasa.
Di hati Agatha juga tersimpan marah dan dendam. Hanya saja dia tidak ingin anaknya menyimpan dendam,karena masih kecil. Biarlah hari-harinya hanya dilalui dengan kegembiraan.
Gilang mencium tangan Ibunya sebelum berangkat ke rumah kediamannya Gerald buat latihan. Keberuntungan berpihak padanya, tadi Gerald menghubungi dirinya untuk latihan di rumah.
Sampai di rumah Gerald dengan menggunakan ojek, Gilang mengamati rumah itu. Dia harus bisa mencari bukti jika Ibunya hanya di fitnah.
Merlin keluar setelah pembantu mengatakan jika ada tamu seorang bocah berusia 8 tahun. Dia melihat Gilang yang berdiri tegak dengan angkuhnya.
"Mau mencari siapa?" tanya Merlin sambil mengamati wajah Gilang. Wajah Gilang perpaduan antara ayah dan Ibunya. Merlin merasa mengenal anak kecil dihadapkannya.
"Aku Gilang, mau bertemu dengan Om Gerald," ucap Gilang dan mengulurkan tangannya. Merlin menyambutnya.
"Merlin, atau kamu bisa panggil Tante Merlin, istrinya Om Gerald," ujar wanita itu.
Mengetahui Merlin istri, ayahnya. Gilang teringat laporan dari orang suruhannya jika Merlin istrinya Gerald inilah yang menjebloskan Ibunya ke penjara.
Gilang menguatkan genggaman tangannya, hingga Merlin sedikit meringis. Dia kaget anak sekecil Gilang memiliki tenaga yang kuat. Merlin berusaha melepaskan tangannya. Namun, Gilang makin menguatkan genggaman tangannya. Merlin merasa tangannya patah.
...****************...
__ADS_1