DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG

DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG
Bab 19. Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Agatha tidak mengira bahwa dia akan menikah untuk kedua kalinya. Awalnya Agatha melakukan pernikahan ini hanya untuk memberi kebahagiaan kepada Gilang saja, tetapi ternyata lama-lama Agatha juga mulai menyukai Bima.


Bima yang perhatian, selalu bersikap lembut tapi tegas dan juga Bima yang menyayanginya serta Gilang, membuat hati Agatha terketuk. Wanita beranak satu itu sudah resmi jatuh hati kepada Bima.


Selama beberapa minggu mereka sering menghabiskan waktu berdua untuk mempersiapkan acara pernikahan, selama itu pula mereka gunakan waktu itu sekaligus untuk pendekatan. Agatha jadi semakin tahu bagaimana Bima, begitu pula sebaliknya.


Gilang pun turut antusias dalam mempersiapkan acara pernikahan ibunya. Bima, laki-laki yang dia pilih untuk menjadi ayahnya. Membayangkan dirinya memiliki ayah saja sudah membuat Gilang bahagia.


Lelaki itu tidak sabar melihat ibunya cepat-cepat menikah dengan Dokter yang bertugas di kepolisian yang begitu dekat dengannya.


"Kamu senang?" tanya Agatha kepada Gilang yang tampak bahagia setelah tahu dirinya akan menikah dengan Bima.


Kepala Gilang mengangguk guna mengiyakan pertanyaan ibunya. Saat ini mereka sedang ada di ruang makan dan menyantap makanan buatan Agatha.


"Aku senang karena sebentar lagi akan memiliki ayah. Ibu, bagaimana kalau kita undang mereka?" tanya Gilang meminta persetujuan ibunya.


Kening Agatha sedikit mengerut tapi lama-lama Agatha paham, siapa yang dimaksud Gilang. Agatha menimbang-nimbang usulan yang ditanyakan Gilang. Hingga tanpa menunggu lama, Agatha pun menyetujui apa kata Gilang untuk mengundang Gerald dan Merlin ke acara pernikahannya minggu depan.


Agatha bangun dari duduknya, dia mengambil satu undangan kepada Gilang. Tak lupa, Agatha juga menuliskan nama yang diundang.


"Ini, nanti kamu berikan undangannya dua hari sebelum acara pernikahan Ibu sama Om Bima ya?" pinta Agatha.


"Siap, Bu. Pokoknya Ibu tenang saja, semuanya bakal beres." Gilang memberikan hormat sebentar kepada Agatha, menandakan bahwa dia mengerti apa yang seharusnya dia lakukan.


Agatha gemas kepada Gilang, dia usap-usap puncak kepala Gilang sebagai tanpa sayangnya kepada sang putra. Agatha pun lanjut makan menemani putranya supaya lebih lahap lagi makannya.


Empat hari berlalu setelah perbincangan Gilang bersama Agatha mengenai undangan pernikahannya dengan Bima yang akan dilangsungkan dua hari lagi di kediamannya.

__ADS_1


Sejauh ini, Gerald belum tahu kalau Gilang sedang disibukkan oleh acara persiapan pernikahan ibunya. Hal itu karena dalam satu minggu terakhir ini, Gilang selalu datang ke tempat latihan dengan diantar jemput oleh Bima.


Seperti pesan Agatha kepada Gilang waktu itu, kalau Gilang diminta memberikan surat undangan pernikahan Agatha kepada Gerald.


Gilang mendekati pelatihnya dan mengulurkan undangan tersebut kepada Gerald. "Om, ini ada undangan buat Om." Gilang mengulurkan undangan itu.


"Undangan siapa?" tanya Gerald dengan dahi berkerut.


"Om harus datang ya ke pesta pernikahan Ibu aku. Soalnya Om Gerald sudah aku anggap sebagai orang penting dalam hidupku. Jadi bisa tidak bisa, Om Gerald harus menyempatkan diri untuk datang." Gilang sengaja memberi penekanan di setiap katanya, supaya Gerald paham.


"Ibu kamu mau menikah?" tanya Gerald seraya menerima undangan yang Gilang berikan.


"Iya, Om. Makanya Om Gerald harus datang," jawab Gilang.


"Om nanti pasti akan datang kok." Gerald menganggukkan kepala sembari mengacak-acak rambut Gilang.


"Paling cuma kebetulan sama saja. Lagi pula, di dunia yang namanya Agatha banyak. Bukan cuma dia," gumam Gerald seraya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Gerald hanya ingin melihat alamat lokasinya saja supaya bisa lebih jelas.


Gerald meletakkan undangan tadi ke atas meja tempat latihannya. Tempat latihan yang jarang didatangi oleh Merlin. Lelaki itu berjalan ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian.


***


Hari pernikahan Agatha dan Bima pun tiba. Gilang begitu senang melihat ibunya tampak cantik memakai kebaya berwarna putih dan bersanding bersama Bima. Tadi Bima bilang bahwa sekarang Bima sudah resmi menjadi ayahnya sehingga Gilang boleh memanggil Bima dengan sebutan ayah.



Gilang juga didandani pakai tuxedo untuk anak-anak berwarna hitam, senada dengan tuxedo yang dipakai oleh Bima. Tak lupa, di sakunya juga ada aksesori tambahan dari bunga berwarna putih. Lehernya pun diberi hiasan dasi pita yang menambah kesan lucu sekaligus gagah untuk Gilang. Dia benar-benar senang bisa memakai baju barunya di acara pernikahan Agatha dan Bima sesuai rencananya.

__ADS_1


Tamu undangan terus berdatangan silih berganti. Namun ada satu tamu undangan yang kehadirannya sangat dinantikan oleh Gilang dan Agatha. Mereka berdua sama-sama belum melihat keberadaan Gerald maupun Merlin di sana. Gilang harap, semoga Gerald dan Merlin hanya telat saja.


"Kenapa mereka belum datang?" tanya Agatha kepada putranya, tentunya dia berbisik-bisik supaya tidak ada yang mendengar.


"Kita tunggu saja dulu, Bu. Aku juga sudah memberikan undangannya kepada mereka," jawab Gilang mencoba menenangkan ibunya.


Di perjalanan, Merlin masih belum tahu ke mana dia akan diajak oleh Gerald. Wanita itu hanya tahu kalau mereka akan pergi kondangan untuk menghadiri acara pernikahan temannya Gerald.


Gerald memang sengaja tidak memberi tahu Merlin kalau mereka akan datang ke pernikahan ibunya Gilang. Karena Gerald yakin betul bahwa Merlin tidak akan mau ikut dengannya apabila dia mengatakan yang sebenarnya. Mengingat bahwa Merlin selama ini tidak menyukai Gilang, hal itu membuat Gerald yakin kalau Merlin pasti akan menolak saat diajak.


"Sebenarnya kita itu mau datang ke acara pernikahan teman kamu yang mana sih, Mas?" tanya Merlin yang sangat penasaran karena Gerald tidak mau mengatakan kepada siapa mereka akan pergi.


"Nanti kamu juga tahu," jawab Gerald.


"Jangan-jangan kamu dapat undangan pernikahan dari mantan pacar kamu ya? Makanya kamu nggak mau ngasih tahu aku? Kamu penasaran sama wajahnya sekarang? Iya?" tanya Merlin membuat telinga Gerald panas.


Lelaki itu tidak menjawab pertanyaan Merlin, dia memilih diam dan terus menyetir mobilnya. Gerald yakin kalau dia tidak salah jalan, jadi pasti akan sampai di lokasi pernikahan.


Merlin berdecak kesal karena pertanyaannya tidak dijawab oleh Gerald. Dia sudah sewot kepada suaminya yang terus mengabaikannya tapi Merlin juga tidak bisa kehilangan Gerald begitu saja. Terlebih lagi sekarang kondisinya Merlin sudah susah memiliki anak.


Jadi Merlin takut kalau dia pisah dari Gerald, tidak akan ada laki-laki yang mau menerimanya lagi. Sehingga Merlin akan menahannya sekuat mungkin untuk menghadapi sikap Gerald yang dingin kepadanya.


Mobil yang dikendarai oleh Gerald telah tiba di lokasi. Mereka turun dan berjalan bersama-sama menuju ke tempat di mana pengantin sedang bersanding. Sampai detik ini pun, Gerald maupun Merlin belum sama-sama tahu bahwa yang menikah adalah Agatha.


Dari kejauhan, Agatha dan Gilang sama-sama melihat kedatangan Gerald dan Merlin. Mereka senang karena misi berjalan lancar.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2