
Agatha dan Bima masih berdiri di tempat menyaksikan Gerald yang masih terus memeluk Gilang sambil menangis.
Gerald berdiri dan mengacak rambut putranya itu. "Papa berdoa semoga secepatnya waktu mengobati lukamu dan dapat menerima Papa sebagai ayah kandungmu. Papa benar2 tidak tahu jika kamu hadir di rahim Ibumu."
"Itu karena Papa yang tidak pernah ingin tahu keadaan Ibu setelah dipenjarakan. Padahal Ibu masih istri Papa saat baru masuk penjara," ucap Gilang.
"Papa mengaku salah. Semua karena rasa kecewa Papa."
"Kecewa karena Papa mengira Ibu yang mendorong kekasih Papa. Hanya Kekasih! Dan tega penjarakan istri sah. Lebih percaya kekasih dari istri?" tanya Gilang.
Agatha mendekati putranya. Tidak ingin orang tahu mengenai masalah keluarganya. Yang akan membuat nama baik anaknya juga terbawa.
"Sayang, sudahlah Nak. Di sini bukan tempat yang tepat untuk mengatakan semua itu. Lihatlah! Orang-orang pada memperhatikan kamu," ucap Agatha.
Gilang menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dia melangkah menjauhi Gerald. Baru saja Gerald akan melangkahkan kakinya, terdengar suara yang menyebut namanya.
"Saudara Gerald," ucap seseorang.
Semua mata tertuju dan memandang ke arah Gerald. Dua Petugas kepolisian mendekati Gerlad.
__ADS_1
"Saya! Ada apa, Pak?" tanya Gerald.
"Maaf, kami harus membawa Bapak ke kantor polisi," ucap salah seorang dari mereka.
"Ada apa, Pak? Saya salah apa?" tanya Gerald lagi.
"Kami ingin meminta keterangan Bapak, atas ucapan dari Ibu Merlin. Dia mengatakan jika Bapak yang melaporkan Bu Agatha. Jadi kamu inginkan penjelasan dan tanggung jawab dari Bapak!"
"Tapi saya melaporkan Agatha karena Merlin membohongi saya dengan mengatakan jika Agatha yang mendorongnya!"
"Bapak bisa memberikan keterangan di kantor nanti. Kami mohon kerja samanya."
Bima, Agatha dan Gilang memandangi itu dengan wajah kaget. Dia tidak menyangka jika Gerald akhirnya ditangkap juga atas kasus ibunya.
"Saya boleh izin sebentar, Pak? Mau memeluk anak saya."
"Silakan, Pak!" ujar salah seorang polisi.
Gerald berjalan mendekati Gilang yang berdiri di samping Bima. Dia berlutut untuk menyamakan tingginya dengan Gilang. Gerald memegang kedua bahu putranya Gilang.
__ADS_1
"Maafkan Papa karena tidak bisa seperti Papa teman-temanmu, tapi Papa berjanji untuk memberimu segala yang terbaik yang bisa Papa berikan. Setiap orang punya masa lalu, Nak. Jangan permasalahkan masa laluku saja. Lihatlah bagaimana Papa sekarang karena tak ada manusia sempurna. Laki-laki yang tulus mencintaimu adalah seorang Papa, yang tak akan membiarkan dirimu disakiti oleh orang lain termasuk disakiti oleh diriku sendiri. Cinta seorang Papa akan selalu tersembunyi di dalam hatinya dan senyumannya. Kau harus kuat karena kaulah yang akan menjaga ibumu dari orang yang ingin berniat jahat."
Gerald memeluk Gilang. Air matanya tumpah membasahi pipi dan jatuh ke bahu Gilang. Bocah itu membalas pelukan Papa-nya.
Setelah puas memeluk Gilang, pria itu berdiri dari berlututnya. Kembali memeluk Gilang dan mengecup pucuk kepala putranya itu.
"Tetap latihan, jadilah anak yang membanggakan bagi Ibumu. Sekali lagi Papa katakan, Papa Sayang Kamu. Walau pun mungkin semua penyesalan ini terlambat, tapi aku tetap meminta maaf padamu. Maafkan Papa, Nak!"
Gerald melepaskan pelukannya dan berjalan mendekati Agatha. "Agatha, aku tahu kamu pasti akan menjaga Gilang dengan baik. Aku yakin kamu adalah Ibu terbaik buat Gilang. Namun, aku tetap menitipkan Gilang padamu. Terima kasih karena telah membesarkan putra kita dengan baik."
Gerald berjalan meninggalkan gedung itu menuju mobil tahanan. Ketika Gerald mau masuk mobil, Gilang berteriak.
"Hati-hati, Pa. Jaga diri," teriak Gilang.
Gerald membalikan badannya dan kembali berlari ke arah Gilang. Memeluk putranya. Air matanya tumpah kembali.
"Terima kasih, Sayang." Hanya itu yang Gerald ucapkan dan kembali ke mobil tahanan. Gerald melambaikan tangannya dari dalam mobil.
...****************...
__ADS_1