DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG

DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG
Bab 15. Perasaan apa Ini?


__ADS_3

"Tendang!" seru Gerald memberi aba-aba kepada Gilang yang sedang berlatih taekwondo. Gerald memerhatikan perkembangan Gilang yang sudah jarang latihan. Namun sepertinya Gilang tetap jagoan.


Gilang hanya akan datang sesuka hatinya saja. Semua itu Gilang lakukan untuk menarik ulur perasaan Gerald. Anak kecil itu pandai sekali mempermainkan perasaan.


Saat ini, Gilang sedang berlatih bersama salah satu temannya dan Gilang berhasil mengalahkan lawannya tadi dalam beberapa tendangan saja.


Kini, bocah lelaki itu sedang menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan deru napasnya yang sedikit tersengal akibat beberapa hari lalu tidak latihan walau dia yakin kemampuannya tidak berkurang banyak.


Gerald maju, dia memberi selamat kepada Gilang yang sudah menang. Usai memberi selamat, Gerald meminta Gilang kembali ke tempat duduknya dan Gerald kembali memberikan sedikit latihan untuk mereka sebelum jam pertemuan habis.


Para anak-anak masih latihan tendang menendang yang dicontohkan oleh Gerald. Hingga tak lama, latihan pun dibubarkan dan anak-anak berlarian ke sisi tempat latihan untuk menenggak minumannya atau makan bekal yang dibawakan oleh ibu mereka.


Tidak berbeda jauh dengan Gilang, dia juga mengguyur tenggorokannya pakai air mineral yang dia bawa dari rumah.


Gerald mendatangi Gilang, dia ikut duduk di samping anak kecil itu dan melihat Gilang sedang memakan sosis yang dia bawa. Gilang acuh tak acuh kepada kedatangan Gerald, dia tetap menikmati makanannya.


"Bagus sekali kamu tadi, perkembangannya sudah semakin pesat meski kamu jarang ikut latihan akhir-akhir ini." Gerald memuji Gilang yang berhasil mengalahkan temannya.


Gilang menatap Gerald yang tiba-tiba memujinya. Tidak Gilang duga, bahwa Gerald akan memujinya seperti ini.


"Kamu harus selalu ingat, di dalam sebuah pertandingan itu hanya ada dua kemungkinan. Pemenang dan bukan, kalau kamu mau menjadi pemenang maka kamu harus melumpuhkan lawanmu tanpa belas kasihan, dan apa yang kamu lakukan tadi sudah tepat. Kamu berhasil mengalahkan lawanmu tanpa memandang bahwa dia itu temanmu," ucap Gerald.


Gilang tersenyum seraya mengangguk. Dia mengucapkan terima kasih. Gilang sudah menyelesaikan makannya dan mengemasi barang-barangnya, "Kalau begitu, aku pamit pulang dulu, Sanim." Gilang berdiri lalu bersiap pergi dari rumah Gerald.


Gilang juga sudah mengirimkan pesan kepada Bima untuk menjemputnya dan Bima sedang dalam perjalanan ke sini.


"Gilang, tunggu!" Gerald tiba-tiba meminta Gilang untuk berhenti, membuat anak lelaki itu mau tak mau pun akhirnya membalikkan badannya lagi ke arah Gerald.

__ADS_1


"Ya, ada apa Sanim?" tanya Gilang kepada pelatih taekwondo-nya. Gilang menunggu apa yang sekiranya akan dikatakan oleh Gerald. Sedangkan Gerald sendiri, dia sepertinya masih ragu ingin mengatakannya tetapi Gerald juga tidak bisa menahannya lebih lama.


"Begini, ada yang mau aku bicarakan." Gerald memulai pembicaraan, membuat Gilang menaikkan sebelah alisnya.


Jujur saja, Gilang benar-benar dibuat penasaran oleh perkataan Gerald. Dia masih sabar menunggu hingga akhirnya Gilang mendengar sebuah kata-kata yang membingungkan.


"Aku tidak melarang kamu untuk dekat dengan siapa saja. Itu semua hak kamu, dan kamu yang berhak memutuskan," kata Gerald memulai pembicaraan.


Kening Gilang mengerut, dia masih belum paham ke mana arah pembicaraan Gerald sekarang, "Maksud Sanim, bagaimana ya?" tanya Gilang supaya Gerald lebih memperjelas lagi apa yang dia katakan.


"Maksud aku itu, aku tidak suka melihat kamu dekat-dekat dengan pria tadi. Lebih baik, kamu jaga jarak sama orang itu." Gerald menatap Gilang dalam, berharap kalau apa yang dia katakan ini bisa dimengerti dan diterima Gilang.


Mendengar bahwa Gerald melarangnya untuk dekat-dekat dengan Bima, hal itu memancing kemarahan Gilang. Lelaki kecil itu tidak terima kalau dia dilarang-larang oleh Gerald supaya tidak dekat-dekat dengan Bima.


Perkataan Gerald tadi membuat Gilang terdiam cukup lama. Gilang marah kepada Gerald, dia sudah ingin berteriak di depan Gerald.


"Om harap, kamu bisa mendengarkan apa kata Om kali ini. Om tidak mau kamu kenapa-napa." Gerald menepuk-nepuk bahu Gilang, dia belum tahu kalau Gilang sebenarnya sudah marah kepadanya. "Kalau begitu, kamu hati-hati di jalan ya pulangnya," ucap Gerald. Jika mereka sedang berdua, Gerald memang menyebut dirinya Om.


Gilang menatap marah ke arah Gerald, "Om tidak berhak melarangku dekat dengan siapa saja. Apalagi sama Om Bima. Jadi Om tidak perlu ikut campur dengan urusanku. Lagi pula, Om bukan siapa-siapanya aku. Om bukan ayahku. Om hanya pelatihku, tidak lebih." Dengan lancarnya, Gilang mengatakan itu semua.


Gerald yang tadi membalikkan tubuhnya ke arah Gilang lagi pun sedikit tercengang mendengar perkataan Gilang. Padahal Gerald merasa bahwa hubungan mereka sudah dekat dan Gerald yakin kalau Gilang akan mendengarkan apa katanya. Namun ternyata Gerald salah besar.


"Gilang! Ayo kita pulang!" Sebuah suara terdengar dari luar, tapi sampai ke telinga Gilang. Lelaki kecil itu segera berlari dari sana dan menghampiri Bima yang sudah menjemputnya.


Gerald merasa hatinya terluka mendengar ucapan Gilang barusan. Dia menatap punggung Gilang yang semakin lama semakin hilang tertelan pintu ruang latihan yang tetap terbuka.


"Kenapa dada ini terasa sakit saat Gilang mengatakan aku bukan ayahnya. Padahal apa yang anak itu katakan benar adanya. Aku bukan siapa-siapa baginya. Tapi aku merasa ada sesuatu yang membuat aku terikat dengan bocah itu," gumam Gerald pada diri sendiri.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Gilang?" tanya Bima saat sadar bahwa raut wajah Gilang berbeda.


"Tidak kenapa-napa, Om." Gilang menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana kalau kita beli es krim?" tanya Bima guna membuat suasana hati Gilang jadi senang.


Gilang menatap Bima dengan wajah berbinar-binar, dia menganggukkan kepalanya dan segera naik ke motor bersama Bima.


Bima memang menjemput Gilang dengan menggunakan motor gede-nya. Bocah itu senang jika Bima menjemput dengan motor. Gilang memeluk pinggang Bima erat.


Mereka berdua meninggalkan gedung tempat latihan milik Gerald.


Dari kejauhan, Gerald melihat lagi kedekatan mereka berdua dari balik pintu gedung itu. Perasaan sedih karena merasa kehilangan Gilang pun kembali mengganggu Gerald.


Usai kejadian hari itu, Gilang jadi semakin malas ke tempat latihan. Dia yang tadinya niat untuk berlatih lagi demi memanas-manasi Gerald, sekarang Gilang sama sekali tidak datang ke tempat latihan.


Gilang benar-benar mengabaikan Gerald. Semua ini Gilang lakukan supaya Gerald bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan. Lelaki itu ingin membuat Gerald sakit hati lebih dalam lagi.


"Biar tahu rasa." Gilang melihat layar ponselnya yang sedari tadi terus menampilkan nama Om Gerald. Dari awal Gerald menelepon, Gilang sama sekali tidak berniat buat menerimanya. Karena kesal, Gilang pun mematikan ponselnya dan dia lebih memilih bertemu dengan Bima di tempat yang sudah mereka janjikan semalam.


Tentu saja Gilang akan pergi bersama Agatha. Dia tidak mungkin berangkat sendirian. Namanya juga masih anak kecil, masih sangat membutuhkan walinya.


Sementara Gerald, dia mendesah pelan saat berusaha menelepon Gilang tapi nomornya sudah tidak aktif. Niatnya ingin meminta Gilang menjauhi Bima, malah Gerald sendiri sekarang yang dijauhi oleh Gilang.


Merlin melihat suaminya gelisah, dia mendekati Gerald dan bertanya tapi Gerald hanya berlalu begitu saja tanpa mengindahkan pertanyaan istrinya. Guna menyalurkan rasa rindunya, Gerald jadi menonton video Gilang lagi di ponselnya.


"Kenapa aku ini? Mengapa aku merasa sangat kehilangan begini? Seperti seorang ayah yang merindukan anaknya. Mungkin waktu 4 tahun kebersamaan kami, membuat aku memiliki kedekatan secara emosional dengan bocah itu. Seperti ayah dan anak," ucap Gerald dalam hatinya.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2