DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG

DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG
Bab 40. Orang Tua Gerald.


__ADS_3

Agatha tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Apa Gerald tidak salah bicara. Selama 8 tahun ini pernikahan pria itu dan Merlin hanya siri.


"Kenapa Mas Gerald hanya menikah siri?" tanya Agatha.


Gerald hanya diam saja. Pria itu cuma tersenyum. Dirinya juga tidak mengerti kenapa hanya menikah siri. Awalnya dia menikah saat Agatha baru masuk penjara dan belum ada surat cerai resmi.


Namun, saat akta cerai sudah di tangan, entah mengapa tidak ada juga niat di hati pria itu untuk meresmikan pernikahan mereka.


"Aku nggak tahu, Agatha. Kenapa aku nggak menikah resmi, padahal surat akta sudah ada di tangan dan tidak ada niat buat meresmikan surat nikah itu mungkin karena Tuhan yang tidak merestui," ucap Gerald secara lirih.


"Padahal Mas banyak waktu saat itu. Bukankah Mas juga sangat mencintainya?"


"Agatha, kamu ke sini bukan hanya untuk bicarakan Merlin'kan?" tanya Gerald akhirnya. Dia sangat bahagia melihat kedatangannya Agatha dan Gilang, tidak ingin rusak hanya karena pembahasan tentang Merlin.


"Kembali ke masalah tadi, apakah tidak akan ada keluarga Mas yang menuntut Gilang nantinya?" tanya Agatha.


"Kedua orang tuaku telah meninggal saat kamu baru dua tahun menjalankan hukuman penjara," ucap Gerald pelan.


Teringat saat kedua orang tuanya mengalami kecelakaan setelah kembali dari rumah karena kaget mengetahui dirinya dan Agatha telah bercerai dan istrinya di tahan.


Ayah dan Ibu Gerald sangat menyukai Agatha. Mereka yang menjodohkan Agatha dan Gerald. Kedua orang tua Gerald tinggal di luar negeri sehingga tidak mengetahui perkembangan tentang kehidupan putra dan menantunya.

__ADS_1


"Maaf, Mas. Aku nggak tahu. Apa aku boleh ke kuburan Papa dan mama. Sekali lagi maaf, Mas. Aku tidak bermaksud membuat Mas Gerald menjadi sedih. Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang aku dengar saat ini," ucap Agatha.


Agatha merasa kehilangan kedua mertuanya. Mereka yang menyayangi Agatha dengan tulus ternyata telah tiada. Agatha bertemu mertuanya baru tiga kali.


"Tentu saja boleh. Aku bahkan sangat senang jika kamu mau ziarah ke kubur Mama dan Papaku. Saat sebelum meninggal mereka memang ingin bertemu kamu. Ini semua salahku sehingga akhirnya mereka pergi selamanya."


"Apa aku boleh tahu penyebab Papa dan Mama meninggal?" tanya Agatha.


Gerald lalu mengatakan semua kejadian yang menimpa kedua orang tuanya. Berawal dari kedua orang tuanya yang kaget mengetahui jika dia dan Agatha berpisah.


"Mungkin semua itu juga karma bagiku karena telah berbuat zalim padamu.Tapi aku saat ini benar-benar minta maaf atas apa yang pernah aku lakukan padamu Agatha. Di dalam sini aku menyadari jika aku sangat kejam denganmu. Aku saja yang baru beberapa bulan di sini, merasa telah bertahun-tahun. Apa lagi kamu yang di kurung delapan tahun penjara."


"Sudahlah Mas, semua telah berlalu. Aku juga telah ikhlas atas semua yang aku jalani itu," ujar Agatha.


"Mas, apa ini tidak berlebihan. Jika memang kedua orang tua kamu telah tiada, paling tidak buat kamu pribadi. Apa nanti usaha kamu setelah bebas? Dari mana keuangan Mas nantinya?" tanya Agatha.


"Sumber keuangan aku masih banyak Agatha. Peninggalan kedua orang tuaku. Yang semua aku berikan buat Gilang itu murni dari usahaku, bukan warisan dari orang tua."


"Baiklah Mas, aku akan berusaha memegang amanat kamu dengan baik. Aku dan Gilang harus pamit."


"Semoga di tangan kamu dan Gilang, semua usaha itu lebih maju lagi. Agatha, apa aku boleh meminta sesuatu?"

__ADS_1


"Apa itu, Mas?"


"Boleh nggak sekali dalam dua minggu Gilang datang ke sini?" tanya Gerald.


"Boleh, Mas. Tapi aku hanya akan mengizinkan jika bersama Mas Bima."


"Terima kasih, Agatha."


"Kalau gitu, aku pamit."


Agatha meminta Gilang untuk pamit ke Gerald. Bocah itu mencium tangan Papa-nya.


"Papa Gerald, aku pamit. Jaga kesehatan Papa, jangan telat makan," ucap Gilang.


Gerald memeluk erat tubuh Gilang dan mengecup kedua pipi anaknya. "Kamu juga harus jaga kesehatan. Kamu harus jadi anak yang kuat dan sehat."


"Iya, Pa."


"Sekali lagi, aku ucapkan turut berduka cita atas kepergian Papa dan Mama. Aku tidak tahu kata apa yang cukup dan mampu meringankan beban atas rasa kehilangan yang kamu rasakan. Semoga Tuhan selalu menyertaimu dalam peristiwa yang membawa duka ini. Aku turut sedih serta berduka atas kehilangan yang kamu rasakan. Akan tetapi, selalu ingatlah bahwa Papa dan Mama telah berada di surga saat ini, tempat terbaik bersama Tuhan. Semoga Tuhan selalu menyertai dan menguatkan langkah-langkahmu meskipun tanpa dirinya. Semoga Mas Gerald kuat menjalankan semuanya!"


Setelah mengucapkan itu, Agatha dan Gilang pamit meninggalkan Gerald.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2