
Setelah Gerald berusaha meyakinkan Cinta dengan berbagai argumen akhirnya wanita itu mau menerima asalkan Gilang setuju. Cinta sadar, sebagai ibu sambung dia ingin mendapatkan restu dari anak itu, biar lebih enak kedepannya.
Cinta menginginkan ini pernikahan pertama dan terakhir baginya. Dia juga tidak menginginkan pernikahan yang mewah. Hanya sederhana.
Setelah lamarannya diterima, Gerald meminta Cinta untuk tetap berada di rumah kediamannya buat persiapan pernikahan mereka.
"Tapi aku nggak enak jika masih tinggal di sini. Takut orang berpikiran negatif. Karena kita belum ada ikatan pernikahan," ucap Cinta, mencoba menolak dengan halus.
"Jangan dengarkan kata orang, karna yang menjalani itu kamu bukan orang lain. Anggapan orang terhadap kamu bukanlah kenyataan diri kamu sebenarnya. Jangan rendah diri karena anggapan negatif, jangan tumbang karena cacian dan terbang (sombong) karena pujian. Tetaplah percayalah diri bahwa anda memiliki potensi dahsyat dan berusaha untuk mengoptimalkan potensi anda.Jalankan saja, jangan bergantung dengan kata-kata orang lain, cukup dengarkan dan cukup dipikirkan.Jadi, jangan dengarkan apa kata mereka. Karena apa yang mereka bilang belum tentu benar!" ucapan nasehat dari Gerald.
"Tapi aku harus tetap kembali ke kos. Sudah lama ditinggalkan."
"Besok aku temani, sekalian kamu pulangkan kos itu. Kamu hanya perlu bawa pakaian seperlunya. Nanti, bisa aku beli yang baru!" ucap Gerald.
Setelah puas berbincang dengan Cinta, Gerald pamit ingin bicara dengan Gilang. Kebetulan putranya itu sedang menginap di sini.
Gerald masuk setelah mengetuk pintu kamar. Dia melihat putranya sedang belajar. Gerald menarik bangku dan duduk di samping Gilang.
__ADS_1
Gilang melirik sesekali ke arah Papanya itu. Namun, tetap konsentrasi dengan buku pelajaran. Setengah jam berlalu akhirnya Gilang selesai belajar. Dia menghadap ke arah Gerald.
"Apa ada yang ingin Papa sampaikan?" tanya Gilang. Tidak biasanya Gerald melihat dia belajar.
"Papa ingin mengobrol denganmu."
"Silakan! Apa yang ingin Papa sampaikan?"
Gerald terdiam dengan pertanyaan Gilang. Apa yang akan dia katakan pertama kali. Memulai ucapan itu sangat sulit. Gilang memandangi wajah Papanya dengan tatapan heran. Apa sebenarnya yang akan Papa Gerald katakan.
"Apa yang ingin Papa katakan?" tanya Gilang akhirnya. Tidak biasanya Papa masuk ke kamar dirinya.
"Maksud Papa sifatnya?" Gilang balik bertanya. Gerald hanya menanggapi dan menjawab dengan anggukan kepala. Sebelum menjawab, Gilang memberikan senyuman pada Papanya. Bocah itu sepertinya sudah tahu dengan maksud Papanya.
"Aku tidak bisa mengatakan jika Bu Guru Cinta itu baik atau jahat. Aku juga baru mengenalnya.Namun, yang aku lihat selama ini bu Cinta wanita baik. Perhatian dan keibuan!" ucap Gilang.
"Jadi menurut kamu dia cukup baik. Jika Papa menginginkan dia jadi ibu sambung untukmu, apakah kamu setuju?" tanya Gerald.
__ADS_1
Setelah pertanyaan itu terucap dari bibirnya, Gerald menarik napas buat menghilangkan kegugupan. Entah mengapa begitu sulit mengucapkan kalimat tersebut.
Gerald sebenarnya takut jika reaksi Gilang berbeda dengan yang dia harapkan. Pria itu sudah terlanjur menyukai Cinta. Yang membuat Gerald mau dan ingin menjadikan Cinta sebagai ibu sambungnya Gilang, setelah melihat keakraban anaknya dan bu guru Cinta.
Bagi Gerald saat ini yang menjadi prioritas utamanya adalah Gilang. Dia telah bertekat menebus semua kesalahannya dengan memberikan kebahagiaan yang tiada batas pada putranya itu.
Setelah melihat kebersamaan Gilang dan Bu Guru Cinta yang sangat akrab, pria itu memutuskan buat menikahi Cinta. Mencari wanita lain, belum tentu bisa akrab.
"Papa, yang akan menjalani semuanya. Jika Papa telah merasa nyaman dengan Bu Cinta, aku akan mendukung dan merestui. Ikuti kata hati Papa."
Gerald membawa Gilang ke dalam pelukannya. Masih terlintas dalam pikirannya saat Gilang membencinya. Pria itu tidak pernah menduga jika akhirnya Gilang memaafkan dirinya. Hubungannya dengan Gilang semakin hari semakin membaik.
Gerald sudah bertekad merubah dirinya menjadi ayah yang baik, agar Gilang bangga dengannya.
"Maafkan aku karena tidak bisa seperti Papa teman-temanmu, tapi aku berjanji untuk memberimu segala yang terbaik yang bisa aku berikan selagi aku masih hidup. Setiap orang punya masa lalu nak, jangan permasalahkan masa lalunya. Lihatlah bagaimana dia sekarang karena tak ada manusia sempurna."
Gerald menarik napas, menjeda ucapannya. Setelah itu melanjutkan lagi.
__ADS_1
"Hidup ini memang tidak selalu seperti yang kita harapkan. Kadang ada kekalahan, kadang ada kemenangan. Kadang waktu berjalan begitu terlalu cepat, kadang waktu berjalan terasa sangat lama. Semua itu ada dalam hidup kita, dan kita tidak bisa menghindarinya. Yang harus kita lakukan adalah selalu mencoba melakukan yang terbaik. Apa pun hasilnya, asalkan kita menikmatinya, kita akan merasa bahagia. Sekali lagi maafkan Papa atas waktu yang dulu terbuang percuma. Papa janji akan menebusnya dengan berusaha menjadi yang terbaik!"
...****************...