DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG

DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG
Bab 45. Kecelakaan


__ADS_3

Satu minggu sudah Gerald bebas dari hukumannya. Dia belum aktif lagi diperusahaan. Pria itu masih merenungi tentang perbuatannya yang dahulu. Beruntung saat ini Gilang telah mulai bisa menerima dia kembali.


Gerald ingin menjemput putranya Gilang di sekolah. Namun, dia takut anaknya itu tidak boleh. Akhirnya Gerald bertekad melihatnya dari kejauhan saja.


Disekolahnya, Gilang baru saja keluar dari ruang kelas. Saat akan keluar gerbang, guru keseniannya yang masih sangat muda memanggilnya.


"Ada apa, Bu?" tanya Gilang.


"Apa kamu bersedia ibu tunjuk untuk mewakili sekolah dalam lomba melukis? Ibu lihat lukisanmu sangat bagus," ucap guru yang bernama Cinta itu.


"Boleh, Bu. Tapi aku rasa lukisanku masih kurang bagus. Jika aku kalah, bagaimana Bu?" tanya Gilang. Pemuda itu merasa lukisannya belumlah pantas buat lomba, tapi jika guru dan sekolah mempercayai dirinya, Gilang akan siap untuk maju.


"Menang dan kalah dalam sebuah perlombaan itu biasa, Gilang."


"Baiklah, Bu. Aku bersedia!"


"Terima kasih, Gilang. Kamu sudah ada yang jemput?"

__ADS_1


"Sudah, Bu. Aku pamit dulu."


"Kita keluar bareng saja."


Ibu guru Cinta dan Gilang keluar dari sekolah dengan berbarengan. Saat melihat ada pedagang jajanan yang dia suka ada di seberang jalan, Gilang pamit dengan gurunya untuk menyeberang.


"Bu, aku mau beli jajanan di seberang itu dulu."


"Silakan!" ucap Cinta.


Saat akan menyeberang jalan, ada motor dengan kecepatan tinggi datang dari arah kanan yang akan menabrak Gilang. Ibu Cinta yang kebetulan melihat itu, langsung mendorong tubuh Gilang.


Gerald dan Bima yang melihat itu langsung keluar dari mobilnya dengan tergesa. Melihat putra mereka hanya lecet dan guru yang menolong Gilang, terluka cukup parah.


"Gilang, kamu nggak apa-apa, Nak?" tanya Bima dengan memeluk Gilang. Gerald juga menghampiri putranya.


"Gilang, kamu nggak apa-apa?" tanya Gerald.

__ADS_1


"Ayah, Papa, aku nggak apa-apa. Tolong bawa bu Citra segera. Kasihan. Dia telah menolongku," ucap Gilang dengan terbata. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dia alami. Hampir saja dia menjadi korban jika saja Bu Cinta tidak mendorong tubuhnya.


Bima menghampiri Cinta dan memeriksa denyut nadinya. Setelah itu Bima menekan langsung di bagian yang pendaraha. Bima membuka kemejanya. Membalut luka itu agar darah tidak makin banyak keluar.


Jangan sembarangan menaruh benda di luka yang mengalami pendarahan, seperti mengoleskan oli atau minyak rem. Sebisa mungkin memposisikan bagian yang pendaraan lebih tinggi daripada jantung


Pertahankan balut tekan hingga memperoleh pertolongan medis.


Setelah itu Bima menggendong tubuh Bu Cinta masuk ke mobil. Bima mengendarai mobil menuju rumah sakit diikuti Gerald. Sepanjang perjalanan Gilang tidak berhenti berdoa untuk gurunya. Kepala sekolah dan guru yang lain juga menyusul mobil Bima menuju rumah sakit.


Sampai di rumah sakit, Bima langsung membawa masuk ke ruang operasi. Luka di kaki yang dialami guru Gilang cukup parah. Harus dilakukan penangan serius. Harus di jahit cukup banyak karena lebarnya luka.


Sementara Bima bersama dokter spesialis menangani luka Cinta, tampak Gerald menghubungi seseorang.


Gerald curiga jika ini di sengaja. Ada yang ingin mencelakai Gilang. Gerald tidak akan bisa terima jika itu memang di rencanakan.


"Kamu cari tahu mengenai motor yang berplat nomor ... cari tahu siapa orangnya dan apa motifnya. Emang tidak sengaja atau ada yang memerintahkan dia untuk mencelakai Gilang," ucap Gerald.

__ADS_1


Gerald memang sempat mencatat nomor plat motor itu. Dia melihat langsung kecelakaan itu karena Gerald sedang memperhatikan Gilang.


...****************...


__ADS_2