
Dokter Bima, begitu semua orang memanggilnya. Begitu baik dan ramah pada setiap nara pidana yang diobatinya.
Bima langsung masuk ke klinik yang berada di dalam rumah tahanan itu. Dia melihat Gerald yang terbaring lemah. Jarum lnfus terpasang ditanganinya.
"Gerald ...," panggil Dokter Bima. Matanya terbuka walau bibir tak sanggup bicara.
"Apa yang kamu rasakan saat ini? Biar aku bisa periksa dan perkirakan penyakit apa yang sedang kamu derita saat ini," ucap Bima.
Dia mengambil Stetoskop, dan memeriksa Gerald. Setelah mengatakan keluhannya, Bima akhirnya dapat kesimpulan sakit apa yang sedang di derita Gerald.
"Asam lambung kamu lagi naik. Pasti karena telat makan dan banyak pikiran. Aku resepkan obatnya ya. Banyak istirahat. Akan aku suntik obat buat lambungnya." Bima memberi obat suntikan agar Gerald merasa lebih baik.
"Penyebab sekresi asam lambung berlebihan disebabkan oleh stres, pola makan tidak teratur dan dari aspek anatomi dinding lambung yang sudah mengalami kerusakan. Perlu diketahui tingkat stres atau pola makan yang kurang baik adalah faktor utama penyebab asam lambung," ucap Bima selanjutnya.
"Bima ...," panggil Gerald pelan.
"Ya, ada apa? Apa ada keluhan lain?" tanya Bima.
"Apa kabar Gilang? Apa dia tetap latihan? Aku titip Gilang denganmu!" ujar Gerald. Bima tersenyum dan mendekati Gerald.
__ADS_1
"Aku harap kamu percaya denganku. Aku menyayangi Gilang seperti anak kandung sendiri. Dari dia dalam kandungannya Agatha, aku sudah menjaganya."
"Aku kangen banget," ucap Gerald pelan.
"Kalau kamu kangen. Nanti pulang sekolah aku bawa Gilang ke sini. Sebenarnya tempat ini tidak baik buat anak-anak tapi aku akan usahakan bawa Gilang."
"Terima kasih, Bima."
"Aku pamit dulu. Aku izin dengan guru buat bawa Gilang. Siang nanti aku harus pulang. Agatha sedang tidak enak badan."
"Sakit apa, Agatha?" tanya Gerald.
"Bukan sakit sebenarnya, tapi karena lagi hamil muda. Jadi sedikit lemas."
"Terima kasih. Aku pamit."
Bima pergi meninggalkan ruang klinik itu dan memeriksa pasien lainnya. Setelah selesai periksa semuanya, barulah Bima pergi menjemput Gilang.
Pria itu meminta izin Gurunya Gilang untuk membawa bocah itu ke rumah tahanan. Dia tadi telah meminta izin Agatha terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kita kemana, Ayah Bima?" tanya Gilang begitu berada di dalam mobil. Bocah laki-laki itu heran, karena Ayah sambungnya menjemput dan meminta izin sebelum waktunya pulang.
Jalan yang di lalui tidak Gilang kenal. Jelas ini bukan jalan menuju pulang. Anak itu belum pernah melalui jalan-jalan ini.
"Kita akan ke rumah tahanan. Papa Gerald sedang sakit dan ingin bertemu kamu."
"Papa Gerald sakit apa, Ayah?" tanya Gilang. Terdengar suaranya begitu cemas. Tidak bisa dipungkiri sebenci apa pun Gilang dengan Gerald, darahnya tetap berasal dari pria itu. Sehingga pasti ada rasa sayang dan cinta buat pria itu walau di balut dengan rasa kecewa.
"Asam lambung Papa Gerald kambuh. Mungkin karena kangen denganmu. Biasanya sering bertemu. Ini sudah hampir tiga bulan tidak melihat dan mendengar suara kamu," ucap Bima.
Gilang tampak menundukkan kepalanya mendengar ucapan Bima. "Aku juga kangen Papa," ucap Gilang dengan lirih.
Bima mengusap rambut bocah itu. Mobil telah memasuki halaman rumah tahanan. Sebelum masuk, Bima mengisi buku tamu dan meminta izin bertemu Gerald. Walau sebenarnya bisa saja dia masuk tanpa izin. Namun, Bima tidak ingin melanggar aturan yang berlaku.
Bima membawa Gilang menuju ruang Klinik, tempat di mana Gerald di rawat. Gilang melihat Gerald yang dirawat dengan wajah sedih.
"Papa Gerald ...," panggil Gilang.
Gerald menoleh mendengar suara yang begitu dirindukannya itu. Tampak air mata menetes dari sudut mata pria itu.
__ADS_1
"Gilang ... Papa kangen, Nak," ucap Gerald terbata.
...****************...