DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG

DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG
Bab 13. Belum Siap


__ADS_3

Melihat Gerald yang sedang melatih anak-anak itu, tangan Agatha refleks menggenggam tangan Bima yang berdiri di sampingnya.


"Maaf, Sayang. Lain kali saja Ibu melihat kamu latihan. Kepala Ibu mendadak pusing," ucap Agatha.


Gilang melihat wajah ibunya yang memang sangat pucat. Gilang tahu semua itu karena wanita itu yang melihat Gerald ayahnya. Gilang tidak mau memaksakan wanita yang telah melahirkan dirinya itu bertemu Gerald. Biarlah Agatha menyembuhkan lukanya dulu.


"Jika begitu Ibu pulang saja. Lain kali Ibu masih bisa melihat aku latihan," ucap Gilang dengan senyuman untuk meyakinkan Ibunya jika dia baik-baik saja.


"Om, bisa tolong antarkan Ibuku. Jika Om tidak keberatan tolong periksa juga kesehatan Ibuku. Aku akan membayarnya nanti," ujar Gilang.


Bocah kecil yang masih berusia 8 tahun itu memang berpikiran lebih dewasa dari usianya. Mungkin karena kehidupan yang dia jalani selama ini cukup keras dan membuat dia menjadi dewasa sebelum waktunya.


"Tenang saja. Om akan menjaga Ibumu. Kamu latihan saja. Semoga menang lagi."


"Terima kasih, Om. Aku masuk dulu."


Gilang kembali mendekati Ibunya dan berkata, "Ibu pulanglah. Jaga kesehatan Ibu. Harus Ibu ingat, ibu adalah segalanya bagiku. Aku nggak mau terjadi sesuatu dengan Ibu."


Agatha terharu mendengar ucapan putranya itu. Dia mengecup rambut Gilang. Agatha merasa sangat beruntung memiliki putra seperti Gilang. Satu-satunya hal yang paling membahagiakan dari pernikahan dirinya dan Gerald hanyalah kehadiran Gilang.


Agatha melangkah cepat menuju mobil sebelum Gerald melihatnya. Begitu berada dalam mobil, tangis Agatha langsung pecah. Dadanya sesak melihat pria yang telah menghancurkan hidupnya itu.


Bima membawa kepala Agatha ke dadanya. Memeluk wanita itu erat. Memberikan kekuatan. Bima tahu semuanya dari Gilang. Bocah itu tidak pernah menyimpan rahasia apapun dari Bima.

__ADS_1


"Mas, itu tadi pria yang telah penjarakan aku. Dia ayah Gilang," ucap Agatha terbata.


"Menangislah jika itu bisa membuat hatimu lega. Tumpahkan semuanya. Jangan kamu tahan."


"Mas, apa aku salah jika sampai detik ini masih menyimpan dendam pada pria itu. Dia yang membuat aku harus berpisah dari anakku selama 8 tahun. Aku belum bisa ikhlas menerima semua ini. Aku belum bisa memaafkan dirinya, Mas."


"Itu wajar. Sebagai manusia biasa, kita juga punya rasa marah dan dendam. Namun, jangan dendam itu membuat kita menjadi pecundang. Balas semuanya dengan membuktikan jika kita lebih baik dari yang dia pikirkan."


"Mas, terima kasih karena selalu ada saat aku sedih. Aku nggak tahu cara membalas semua kebaikan kamu, Mas."


"Berbahagialah dengan hidupmu, itu cara membalasnya. Melihat senyummu bagiku itu lebih dari balasan apapun."


"Mas ...." Agatha tidak bisa berkata apa-apa dia memeluk erat Bima, pria baik yang dihadirkan Tuhan mengisi hidupnya.


Jam sepuluh malam Gilang pulang dengan menggunakan ojek online. Bocah itu langsung mencari ibunya. Masuk ke kamar dan melihat wanita itu sedang termenung di dekat jendela kamar.


Gilang mendekati ibunya dan memeluk pinggang Agatha dari belakang. Agatha membalikkan badannya menghadap putranya itu.


"Sejak kapan kamu latihan dengan pria itu?" tanya Agatha tanpa basa basi. Agatha mengajak Gilang ke kasur dan duduk ditepi ranjang itu.


"Sudah 4 tahun. Sejak aku berusia 4 tahun, pelatih aku Om Gerald. Dia yang membuat aku bisa seperti ini dan menang banyak perlombaan."


"Gilang, ibu ingin mengatakan sesuatu. Kamu sudah tahu jika Ibu masuk penjara karena tuduhan penganiayaan yang mengakibatkan meninggalnya calon bayi seorang wanita."

__ADS_1


Agatha menjeda ucapannya. Menarik napas agar dia bisa tenang dalam mengatakan semuanya. Agatha harus jujur. Gilang berhak tahu siapa ayahnya.


Gilang dengan tenang menantikan ibunya bicara. Dia tahu pasti wanita itu ingin mengatakan jika Gerald adalah ayahnya.


"Ibu bersumpah jika itu tidak benar. Ibu tidak pernah mendorongnya. Dia jatuh sendiri. Wanita itu adalah kekasih ayahmu. Dia dan ayahmu memenjarakan Ibu." Kembali Agatha menjeda ucapannya. Memandangi wajah putranya.


"Dan kamu tahu, jika pria yang memenjarakan Ibu adalah pelatihmu itu. Dia ayahmu, Nak."


Tangisan Agatha kembali pecah setelah mengatakan itu. Dia masih terbayang saat di tahan, dan Gerald yang melaporkan dirinya. Hatinya masih sakit jika mengingat semua itu.


"Ibu, aku telah tahu semuanya. Aku juga telah bertemu wanita itu. Dia saat ini telah menjadi istri ayah. Ibu jangan kuatir, aku akan membalas semua perbuatan mereka."


Gilang mengatakan semuanya. Mengenai apa yang dia lakukan di rumah Gerald dan dari mana dia tahu segalanya. Agatha tidak percaya jika putranya mampu melakukan semua itu.


"Sayang, hati-hati. Wanita itu sangat licik. Ibu tidak mau jika kamu nanti menjadi korbannya."


"Ibu tenang saja. Aku tidak bodoh. Ibu harus percaya denganku. Bantu aku dengan doamu."


Agatha akhirnya setuju dengan apa yang dilakukan Gilang, asal putranya itu mengatakan semua yang ingin dia lakukan. Agatha juga akan membantu jika dibutuhkan.


Balas dendam memang tidak baik, tapi Agatha hanya ingin membuktikan kebenaran dan membalikkan nama baiknya.


Agatha dan Gilang sepakat tidak akan mengatakan kebenaran siapa mereka pada Gerald sebelum mengantungi bukti kejahatan Merlin. Jika Gerald tahu Gilang anaknya, akan sulit bagi Gilang masuk ke rumah Merlin.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2