
Gerald melatih Gilang dengan sungguh-sungguh. Dia ingin anak didiknya ini kembali merebut juara dalam perlombaan nanti. Entah mengapa Gerald seperti melihat dirinya sendiri pada tubuh Gilang.
Sejak dia menjadi pelatih anak itu, Gilang telah mencuri hatinya. Sebenarnya setiap perlombaan yang diikuti Gilang, yang menjadi sponsor utamanya perusahaan Gerald. Dia memberikan hadiah dengan nominal uang tinggi karena yakin jika pasti Gilang yang menjadi pemenangnya.
Gilang sengaja memberikan tendangan yang keras pada Gerald sehingga tubuhnya kepental. Gilang dengan sandiwaranya berpura-pura tidak sengaja.
"Maaf, Om. Aku nggak sengaja!" ucap Gilang sambil membantu Gerald berdiri. Dalam hatinya Gilang sangat senang bisa membalas sakit hati ibunya.
Jika selama ini dia latihan tidak menendang kuat pelatihnya, tapi mulai hari ini dengan dalih latihan dia akan membalas semua sakit hati ibunya, memberikan tendangan mematikan.
Gerald duduk di bangku yang ada di ruang latihan itu sambil memegang dadanya yang terasa panas karena tendangan anak itu.
"Om, masih sakit ya? Biar kita istirahat dulu aja.," Gilang ikutan duduk di kursi yang ada dihadapan Gerald.
"Kita istirahat aja. Cukup latihannya. Kamu mandilah! Apa kamu bawa pakaian ganti?" tanya Gerald.
"Bawa, Om."
"Di sebelah ruang ini ada kamar. Kamu bisa mandi di kamar itu. Sekalian itu kamar untuk kamu istirahat. Setelah mandi, kamu bisa turun. Kita mengobrol sambil menonton di ruang keluarga rumah ini."
__ADS_1
"Baik, Om. Nanti setelah mandi aku menyusul."
Gilang berjalan meninggalkan Gerald di ruang latihan itu seorang diri. Memasuki sebuah kamar yang di dekorasi untuk kamar anak-anak,.Gilang mengitari pandangannya ke seluruh ruangan
"Pasti ini kamar dipersiapkan untuk anak mereka. Tunggu saja Ibu, aku akan membalas semua sakit hatimu!"
Gilang menutup pintu kamar dan melompat, membayangkan apa yang telah dia lakukan tadi dengan ayahnya. Dan itu akan dia lakukan terus setiap latihan. Pembalasan kecil dariku.Ucap Gilang dihatinya.
Setelah mandi Gilang menyusul Gerald, turun ke lantai bawah. Dia melihat Merlin, istri ayahnya duduk bersandar di bahu Gerald. Gilang tersenyum, dia akan membuat wanita itu cemburu batin Gilang.
Dengan berlari kecil Gilang menuju Gerald dan langsung duduk di samping pria itu sambil memeluk tangannya. Gilang menarik tangan Gerald sehingga tubuhnya bergerak dan menjauh dari Merlin.
"Tentu saja kamu ganteng."
"Banyak orang mengira kita ini ayah dan anak. Apa Om marah dan keberatan atas ucapan orang-orang itu?" tanya Gilang lagi.
Merlin jadi memperhatikan wajah kedua orang Itu. Mereka memang mirip. Seperti ayah dan anak, batin Merlin. Dia jadi mulai tidak suka dengan anak itu. Jelas sekali dia sengaja membuat aku marah, batin Merlin lagi.
"Mengapa Om harus keberatan? Om bahkan senang jika banyak yang berpikiran begitu. Bahkan jika kamu mau, kamu bisa menjadi anak angkat Om. Dari pada kamu tinggal di panti asuhan terus," ucap Gerald.
__ADS_1
"Om serius ingin aku jadi anak angkat. Apakah Tante Merlin setuju?" tanya Gilang sambil tersenyum mengejek.
"Kamu setuju'kan jika kita mengangkat Gilang menjadi anak kita?" tanya Gerald.
Merlin hanya diam tanpa tahu harus menjawab apa. Di sisi lain dia memang ingin memiliki anak tapi bukan anak angkat. Merlin sadar jika perhatian Gerald sudah jauh berkurang padanya. Berharap kehadiran anak bisa membuat hubungan mereka kembali harmonis.
"Om, lihat sendiri'kan! Tante pasti keberatan. Buktinya dia tidak menjawab. Tidak apa, Om. Aku juga saat ini telah tinggal dengan ibuku. Kami berdua tinggal di rumah mungil. Suatu hari aku akan mengenalkan Om pada Ibuku. Dia wanita yang sangat cantik dan lemah lembut. Om pasti menyukainya!"
Gilang sengaja berkata begitu untuk membuat Merlin cemburu. Dan usaha bocah itu sepertinya berhasil. Wajah Merlin berubah mendengar ucapan Gilang.
"Apa benar yang Gilang katakan? Kamu keberatan jika kita mengangkat Gilang jadi anak kita?" Gerald mengulang pertanyaannya lagi.
"Aku terserah kamu saja. Tapi kamu dengar sendiri, jika dia telah tinggal bersama ibunya saat ini. Apakah nanti ibunya mengizinkan kita mengangkat Gilang jadi anak kita?" Merlin bertanya balik dengan suara yang kurang senang.
Gilang menjadi tersenyum melihat istri ayahnya itu yang tampak tidak senang dengan kehadirannya.
Aku akan terus membuat kamu sakit hati dengan suamimu. Dan aku juga akan membuat ayahku mulai membencimu. Kalian tidak boleh bahagia di atas penderitaan ibuku.
...****************...
__ADS_1