
Setelah sarapan, Gilang pamit dengan Gerald dan Merlin. Wanita itu belum membuka isi chat tadi. Walau pun dia sangat penasaran tapi Merlin masih harus menahannya. Dia tidak mungkin membuka chat di depan suaminya.
"Aku pulang dulu, Om," pamit Gilang. Dia mencium tangan Gerald. Gilang masih menghormati pria itu untuk dapat mengambil hatinya.
Merlin telah masuk ke kamar. Gilang jadi tersenyum bahagia. Dia membayangkan bagaimana reaksi Merlin saat mendengar isi rekaman itu.
Gerald yang melihat bocah itu tersenyum, menjadi heran. Sejak mengenalnya, bocah itu hanya sedikit bicara dan jarang tersenyum. Yang Gerald tahu karena kerasnya kehidupan yang dia jalani. Harus hidup terpisah dengan kedua orang tua dari anak itu baru lahir.
"Sepertinya kamu sedang bahagia?" tanya Gerald akhirnya.
"Aku bahagia karena saat ini telah bisa bersama ibuku lagi."
"Ibumu telah kembali?"
"Iya, dan aku sangat bahagia karena bisa memeluk ibu setiap saat dan kapanpun aku inginkan!"
"Syukurlah kalau begitu. Bagaimana dengan ayahmu? Apa telah ada kabar?" tanya Gerald.
"Aku tidak ingin dan tidak mau tahu tentang ayah. Mau dia di mana, sama siapa atau apa pun itu. Bagiku Ayah telah mati!" Gilang berucap dengan penuh emosi.
Entah mengapa dada Gerald terasa sakit saat anak itu mengatakannya. "Ada apa denganku. Kenapa aku yang merasa sakit saat Gilang mengatakan ayahnya telah mati? Kesalahan apa yang telah dilakukan ayahnya sehingga bocah seumuran dia telah menyimpan dendam begitu besarnya," ucap Gerald dihatinya.
__ADS_1
"Om tidak tahu kesalahan apa yang telah ayah kamu lakukan sehingga begitu marah dengannya. Om cuma mengingatkan padamu, seburuk apa pun pria itu tetap ayahmu. Dia yang telah membuat kamu hadir di muka bumi ini."
Gilang tampak menarik napas dalam. Dia tidak bisa menerima ucapan Gerald. Baginya Gerald tetaplah pria ba*ji*ngan yang telah membuat ibu nya dipenjarakan dan dia harus terpisahkan dengan ibunya selama 8 tahun.
Gerald yang melihat perubahan pada wajah Gilang mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin membuat Gilang marah dan menjauhi dirinya. Pria itu telah terlanjur jatuh cinta dengan bocah itu.
"Kapan-kapan, Om ingin berkenalan dengan ibumu. Om ingin tahu wanita mana yang telah melahirkan putra hebat seperti kamu!"
"Wanita paling hebat dan paling tegar yang pernah aku kenal. Aku rasa ibuku wanita yang paling baik dan paling cantik sedunia. Hanya ayahku saja bodoh sehingga mau meninggalkan ibuku."
"Suatu saat ayahmu pasti menyesal karena telah meninggalkan ibumu," ucap Gerald.
"Pasti! Akan aku buat ayahku menyesali takdirnya karena pernah membuat ibuku menderita."
Gerald ingin mengantar Gilang tapi ditolak bocah itu. Dia janji akan datang latihan nanti malam.
Di kamarnya Merlin syok mendengar isi rekaman itu. Dia teringat saat tadi pagi mengatakan itu pada Gilang.
"Tidak mungkin itu dari Agatha. Dari mana dia tahu nomor ponselku. Ini suaraku tadi pagi. Berarti bocah itu merekamnya. Digunakan untuk mengancamku. Ternyata dia belum kapok juga. Aku tidak bisa meremehkan bocah itu. Dari mana dia tahu tentang Agatha?" gumam Merlin pada diri sendiri.
***
__ADS_1
Sampai di rumahnya, Gilang di sambut Agatha. Wanita itu kuatir karena anaknya baru pulang setelah jam sepuluh pagi ini.
"Sayang, Ibu kuatir banget," ucap Agatha memeluk tubuh anaknya.
Gilang membalas memeluk ibunya dan mengecup pipi wanita yang paling dia cintai itu.
"Ibu jangan kuatir. Aku bisa jaga diri. Aku juga akan menjaga ibu. Apa Ibu lupa jika aku ini jagoan?" tanya Gilang dengan senyuman.
"Maaf ya Sayang, Ibu lupa jika anak ibu ini jagoan."
"Nanti malam aku latihan lagi. Aku ingin juara biar uangnya buat ibu. Nanti ibu bisa belikan apa yang ibu inginkan."
"Terima kasih, Sayang. Ibu malu, masa kamu masih sekecil ini sudah ibu bebani dengan mencari uang. Ibu akan mencari pekerjaan buat kebutuhan kita sehari-hari."
"Jangan, Bu! Aku sudah katakan, jika aku masih banyak memiliki uang tabungan. Ibu jangan kuatir. Ibu doakan saja aku selalu menang."
"Pasti ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk putranya. Apa Ibu boleh melihat kamu latihan?"
"Tentu saja. Ibu bisa ikut aku nanti malam."
Ibu tersenyum menanggapi ucapan anaknya itu. Dia memeluk bahu putranya membawa masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
...****************...