DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG

DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG
Bab 33. Positif


__ADS_3

Tiga bulan telah berlalu. Tidak terasa telah lima bulan pernikahan Agatha dan Bima. Pagi ini Dokter Bima akan praktek ke rumah tahanan di mana Gerald berada.


Bima masuk ke kamar dan melihat Agatha masih bergulung dengan selimut. Tidak biasa istrinya itu masih tidur. Bima baru saja kembali dari mengantar Gilang ke sekolah.


Pagi-pagi biasanya Agatha akan membuatkan sarapan buat Gilang. Namun, pagi ini dia tidak ada membuat sarapan karena masih tidur. Bima tidak tega membangunkan dan membuatkan sarapan buat Gilang. Hanya roti tawar di beri olesan selai strawberi.


"Sayang, apa kamu sakit?" tanya Bima. Dia memegang dahi istrinya, tapi tidak terasa hangat.


Agatha membuka matanya dan tersenyum melihat Bima yang sedang berlutut di samping ranjang sambil memandangi wajahnya.


"Kenapa belum bangun. Apa ada yang sakit?" tanya Bima. Pria itu mengecup dahi Agatha.


"Nggak tahu, Mas. Satu minggu ini aku penginnya tidur terus. Malas banget. Makan juga. Pengennya yang pedas aja. Mual, kepala pusing," ucap Agatha.


"Kamu serius, Sayang?" tanya Bima dengan tersenyum.


"Benar, Mas. Kenapa Mas tersenyum? Kelihatan senang banget aku kayak gini?" tanya Agatha dengan wajah cemberut.

__ADS_1


"Tentu saja aku senang. Aku yakin ini tandanya sebentar lagi Gilang akan memiliki adik."


Agatha bangun dan memandangi wajah Bima, suaminya dengan serius. Dia tidak pernah berpikir jika itu tanda kehamilan. Saat hamil anak pertamanya Gilang, Agatha tidak merasakan apa-apa.


Apakah karena Gilang, putranya itu sadar jika ibunya sedang dalam tahanan. Sehingga tidak membuat ibunya kesusahan. Sejak dalam kandungan Gilang selalu anteng tidak rewel. Agatha tidak merasakan apa-apa selain rasa sedih karena dipenjarakan atas suatu perbuatan yang tidak pernah dia lakukan.


"Mas periksa ya agar pasti!" ucap Bima. Agatha menganggukkan kepalanya setuju.


Bima mengecup kedua pipi istrinya. Dia yakin istrinya hamil karena Agatha bulan ini belum menstruasi. Setiap Bima minta jatah dia selalu saja bersedia dan tidak pernah ada halangan.


Bima teringat ada menyimpan tespek. Suami Agatha itu pergi ke ruang kerja dan mengambilnya.


"Iya, Mas."


Agatha masuk ke kamar mandi dan menggunakan tespek yang diberikan suaminya. Dia kaget dan bahagia karena perkiraan suaminya benar. Agatha keluar dengan wajah tersenyum semringah.


Agatha tidak melihat ada Bima di kamar. Dia keluar dan melihat suaminya sedang menyiapkan sarapan. Di rumah memang ada pekerja yang membantu Agatha. Namun, masalah makan, Bima selalu menyiapkan sendiri dan atau Agatha yang menyiapkan langsung.

__ADS_1


Agatha memeluk pinggang suaminya itu dari belakang. Menyandarkan kepalanya di punggung Bima.


"Sayang, kamu benar. Aku positif," ucap Agatha. Bima membalikkan badan dan tersenyum dengan istrinya itu. Mengecup bibir istrinya lembut.


"Aku sudah tahu saat periksa kamu tadi. Cuma agar kamu yakin, aku minta gunakan tespek."


"Tapi kenapa beda dengan kehamilan aku pertama, Mas. Dulu saat hamil Gilang aku tidak merasakan apa-apa. Sekarang maunya tidur dan malas banget."


"Karena saat ini anak kamu tahu, ada aku suami kamu yang selalu siap membantu dan memanjakan kamu," ucap Bima.


Agatha tersenyum mendengar ucapan manis suaminya. Dia merasa wanita paling beruntung karena memiliki suami seperti Bima.


"Setelah sarapan, aku langsung pergi kerja. Tadi ada yang menghubungi, katanya Gerald sedang sakit. Aku mau lihat keadaan dia."


"Iya, Mas. Semoga tidak apa-apa. Gilang pasti akan sedih jika mendengar Gerald sakit. Bagaimana pun darahnya Gerald ada di Gilang. Pasti akan ada ikatan batin antara keduanya."


"Iya, Sayang. Sekarang sarapanlah!"

__ADS_1


Bima mengajak Agatha sarapan. Setelah memastikan istrinya sarapan dan minum vitamin yang dia berikan, barulah Bima berangkat kerja.


...****************...


__ADS_2