DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG

DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG
Bab 18. Maukah Om Jadi Ayahku?


__ADS_3

Gilang berlari ke arah Bima yang merentangkan kedua tangannya ke arah Gilang. Agatha ikut senang melihat kedekatan mereka berdua.


Tak selang berapa lama, Agatha melihat Gilang melambaikan tangannya kepadanya dan memintanya untuk segera bergabung.


Hari ini, mereka bertemu di taman bermain. Agatha selalu menemani Gilang ke mana-mana setiap Gilang ada janji temu bersama Bima. Itu pun kalau Bima tidak bisa menjemput Gilang ke rumah. Namun lebih seringnya, Bima datang ke rumah untuk menjemput mereka lalu mereka pergi bersama-sama.


"Bagaimana kabarnya, Mas?" tanya Agatha kepada Bima.


"Alhamdulillah sehat. Kamu apa kabarnya, Agatha?" Bima balik bertanya. Walau sudah 8 tahun lebih mereka saling mengenal, terkadang masih terlihat canggung. Ini semua karena Agatha yang kadang menjaga jarak darinya.


"Alhamdulillah, aku juga sehat Mas. Apa Mas sudah tidak ada praktek hari ini?"


"Kebetulan hari ini aku cuti. Jika aku masih ada praktek tidak mungkin berada di sini, Agatha. Pasien adalah nomor satu bagi seorang dokter." Agatha hanya tersenyum menanggapi ucapan Bima.


Gilang ikut senang melihat kedekatan ibunya dengan Bima. Lelaki itu malah berencana untuk meminta Bima supaya mau menikahi ibunya. Namun Gilang belum akan bicara sekarang, tapi nanti dia pasti akan mengatakannya.


"Om, kita main itu yuk," ajak Gilang sambil menunjuk perosotan yang ada di ujung.


Bima ikut melihat ke arah di mana Gilang menunjuknya. Tanpa pikir panjang, Bima seketika menggendong Gilang dan membawanya ke sana sampai Gilang tertawa terbahak-bahak. Hati Agatha menghangat melihatnya.


Sambil menunggu Gilang yang sedang bermain bersama Bima, Agatha lebih memilih menggelar tikar dan menunggu mereka di sana. Seperti keinginan Gilang semalam kalau putranya itu mau liburan ala-ala piknik seperti yang dia lihat di televisi. Sebisa mungkin, Agatha berusaha mewujudkannya. Apalagi Bima hari ini telah selesai bertugas, jadi mereka bisa punya waktu lebih banyak untuk bermain bersama Gilang.


Semilir angin membuat rambut Agatha bergoyang-goyang seirama, tanpa Agatha ketahui kalau ada seseorang yang memerhatikan dirinya. Terlebih lagi sekarang Agatha memakai kacamata hitam, itu menambah kesan menawan yang dia berikan.


"Ibu, aku haus." Gilang berlari ke arah Agatha dan meminta minum.


Agatha pun mengambil satu botol air mineral dari dalam keranjang lalu dia membukakannya untuk Gilang. Wanita itu juga membantu putranya untuk minum supaya tidak tumpah.


Bima ikut duduk di atas tikar. Lelaki itu juga menerima satu botol air mineral yang diulurkan Agatha kepadanya. Tak lupa, Bima pun mengucapkan kata terima kasih karena Agatha sudah baik kepadanya.

__ADS_1


"Kamu lapar? Kamu mau makan?" tanya Agatha seraya mengusap keringat Gilang di pelipisnya pakai tisue.


Gilang mengangguk, "Aku mau makan nasi gulung," jawabnya.


Agatha pun mengeluarkan bekal makanan yang dia bawa di dalam keranjang rotan. Perempuan itu membuka beberapa kotak lalu dia hidangkan di tengah-tengah.


"Ini Mas, piringnya." Agatha memberikan satu piring plastik beserta sendoknya kepada Bima supaya lelaki itu ikut menikmati masakan yang dia buat.


Makanan yang dibawa Agatha hari ini, ada telur gulung, nasi gulung, nugget, sosis, bakso goreng, lumpia, dan buah-buahan. Selain itu juga ada chiki yang beragam untuk persediaan Gilang supaya tidak minta jajan.


"Ayo diambil, Mas. Jangan sungkan-sungkan." Agatha menawarkan makanannya kepada Bima, dia yakin kalau semua makanan yang dia buat itu enak dan bisa ditelan.


"Iya, ini juga saya mau ambil semua," canda Bima membuat Agatha dan Gilang sama-sama tertawa.


Bima benar-benar mengambil semua makanan di depannya sedikit demi sedikit. Selagi ada kesempatan, maka Bima akan menikmatinya. Kapan lagi dia bisa makan masakan Agatha.


"Bagaimana, Om? Masakan Ibu enak, 'kan?" tanya Gilang di sela-sela makannya.


Agatha sedikit tersipu malu mendengar Bima memuji rasa masakannya. Tidak sia-sia dia hari ini masak dari subuh mula.


"Om Bima mau nggak menikah sama Ibu? Jadi Ayahku?" Dengan santainya Gilang bertanya seperti ini kepada Bima, seakan-akan itu bukanlah sebuah pertanyaan yang berat.


Bima maupun Agatha sama-sama tersedak makanannya. Mereka dibuat kaget oleh perkataan Gilang barusan. Terlebih Agatha, dia malu kepada Bima karena perkataan putranya.


Padahal Agatha tidak pernah mengajari Gilang untuk mengatakan hal seperti itu. Entah Gilang belajar dari mana, tapi Agatha yakin kalau dia tidak pernah mengajari Gilang buat bilang kepada Bima tentang pernikahan.


"Kamu minta Om buat menjadi ayah kamu?" tanya Bima setelah dia berhasil mengatur kekagetannya.


"Iya, Om." Gilang mengangguk cepat.

__ADS_1


"Eum, Mas Bima jangan dengarkan apa kata Gilang ya. Dia sedang melantur, mungkin saja Gilang cuma iseng karena selama ini tidak ada sosok Ayah di sampingnya." Agatha berusaha mengembalikan suasana menjadi seperti semula, tapi sudah terlanjur canggung.


Bima malah tertawa, hal itu membuat Agatha semakin malu. Perempuan itu mengira bahwa Bima menertawakan kecerobohannya yang kurang bisa mendidik Gilang menjadi anak yang lebih sopan.


"Maafkan Gilang, Mas," pinta Agatha lagi.


"Saya mau menjadi Ayah kamu, Gilang," kata Bima membuat Agatha kaget bukan main.


Pandangan Bima kini tertuju ke arah Agatha. Wajah cantik yang sedari tadi dia pandangi secara diam-diam dari kejauhan itu sekarang balas menatapnya. Bima melebarkan senyumnya kepada Agatha.


"Saya mau menikahi kamu, Agatha. Kebetulan, saya juga sudah jatuh cinta kepada kamu dari awal saya melihat kamu." Bima sekaligus mengutarakan perasaannya kepada Agatha di sana, baginya ini kesempatan bagus.


"Mas Bima serius?" tanya Agatha di balik rasa gugupnya.


Bima mengangguk, "Saya serius. Kalau kamu mau menjadi istri saya, maka saya akan menikahi kamu dan menjadi Ayah untuk Gilang." Bima berusaha meyakinkan Agatha supaya mau menerima perasaannya.


"Ibu mau ya, menikah sama Om Bima? Biar aku juga punya Ayah." Gilang membujuk ibunya untuk menuruti keinginannya.


Agatha yang memang juga sudah senang melihat kedekatan Bima dan Gilang, dia pun tidak bisa menolak. Agatha rasa, mungkin ini memang sudah takdirnya untuk menjadi istrinya Bima. Lagi pula, kalau dilihat-lihat juga, Bima tulus menyayangi Gilang.


"Saya mau menikah dengan Mas Bima." Agatha mengiyakan dan itu membuat Bima senang.


"Aduh, bagaimana ya ini? Saya tidak ada persiapan, jadi saya tidak bawa cincin lamaran," ucap Bima membuat Agatha tertawa.


"Tidak apa-apa, cincinnya bisa nyusul nanti-nanti saja," balas Agatha.


Gilang senang sekali mendengarnya. Akhirnya Bima akan menjadi ayahnya. Lelaki kecil itu meminta ponselnya kepada Agatha lalu menyalakannya lagi.


"Om Bima harus dengar ini." Gilang memutarkan rekaman suara antara dirinya dan Merlin yang berhasil dia rekam saat berada di rumah Gerald.

__ADS_1


Agatha maupun Bima kaget saat Gilang ternyata memiliki bukti-bukti tersenyum. Bima menyalin rekaman suara tersebut ke ponselnya dan akan menjadikan rekaman itu sebagai bukti untuk melawan Merlin.


...****************...


__ADS_2