DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG

DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG
Bab 16. Mendatangi Merlin?


__ADS_3

Gilang melihat ibunya sudah berdandan rapi seperti mau pergi. Lelaki itu mengucek matanya yang masih terasa lengket karena baru bangun tidur. Kebetulan, ini hari minggu dan bisa dibilang hari yang paling disukai hampir semua orang. Tak berbeda jauh dengan Gilang.


"Ibu mau ke mana? Pagi-pagi begini sudah dandan rapi kayak mau pergi?" tanya Gilang sambil menguap.


Agatha memukul pelan bibir Gilang karena putranya itu menguap tanpa menutupnya, "Nanti kalau kemasukan lalat, kamu tuh," kata Agatha.


"Ibu mau ke mana?" tanya Gilang lagi karena Agatha tidak menjawab pertanyaan pertamanya.


Agatha menghela napasnya, "Ibu mau pergi sebentar. Ada perlu di luar. Lagi pula, ini sudah siang. Sudah jam sembilan, bukan pagi-pagi lagi."


Gilang hanya nyengir kuda memperlihatkan semua deretan gigi putihnya saat melihat jam dinding ternyata memang sudah jam sembilan. Namun bagi Gilang, itu masih pagi.


"Ibu pergi dulu, kamu di rumah saja. Jangan ke mana-mana. Ibu sudah masak, jadi jangan jajan," pesan Agatha.


Perempuan itu langsung meninggalkan Gilang begitu saja. Sedangkan Gilang hanya mengiyakan lalu menutup pintu dan ke kamar mandi. Gilang takut kalau sampai ada orang gila atau pencuri masuk rumah, jadi lebih aman memang pintunya ditutup saja.


Agatha pergi menggunakan taksi. Hari ini memang Agatha sudah memiliki rencana untuk menemui seseorang. Jadi Agatha tidak akan menunda-nundanya lagi. Dia hafal betul di mana alamat rumah orang yang ingin dia datangi tersebut.


Taksi sudah berhenti, Agatha turun dari taksi usai membayar argo. Tak lupa, dia juga memakai kacamata hitamnya guna menambah kepercayaan dirinya saat menemui orang yang akan dia hampiri sekarang.


Tibalah Agatha di depan sebuah rumah yang bisa dibilang lumayan megah. Agatha segera memencet bel rumah itu dengan harapan kalau sang pemilik rumah akan segera membukakan pintu untuknya.


Jari telunjuk Agatha kembali memencet bel untuk yang ketiga kali. Sekarang dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Jemari kanannya mengetuk-ngetuk lengannya sendiri.


"Awas saja kalau sampai tidak ada orang." Agatha sudah setengah emosi karena dia harus menunggu lama.


Tak lama setelah Agatha menggerutu, pintu pun terbuka. Ada seorang perempuan keluar dari dalam rumah. Perempuan itu tampak terkejut ketika melihat ada Agatha berdiri di depan rumahnya. Sementara Agatha, dia cuma tersenyum sinis seraya melepas kacamata hitamnya.

__ADS_1


Sang pemilik rumah, dia cepat-cepat menutup pintu dan menguncinya dari luar. Agatha sedikit terhuyung ke belakang ketika perempuan penghuni rumah tadi tidak sengaja menyenggol lengannya. Agatha cepat-cepat membersihkan lengannya seolah dia merasa jijik pada senggolan perempuan tadi.


Beberapa saat kemudian pintu kembali dibuka dengan wanita tadi. Setelah menghilangkan rasa kagetnya.


"Kamu mau ngapain ke sini?" tanya perempuan itu lagi.


Agatha tersenyum sinis, "Hallo Merlin," kata Agatha menyapa Merlin. "Setelah aku lihat-lihat, wajahmu begitu suram. Kenapa? Apa karena kamu masih belum bisa punya anak sampai sekarang?" Agatha sengaja menyinggung ini di depan Merlin, karena dia sangat ingin membuat Merlin sakit hati.


Merlin kesal dan marah mendengarnya, "Jangan macam-macam ya kamu!" Merlin mengancam Agatha seraya menunjuk-nunjuk wajah Agatha tapi berhasil disingkirkan oleh Agatha.


"Kamu tidak perlu khawatir, aku ke sini bukan untuk mau mencari laki-laki brengsek itu kok, tapi aku ke sini untuk memperingatkan kamu." Senyuman sinis di wajah Agatha menghilang, berubah menjadi datar.


Merlin menatap curiga ke arah Agatha. Dia masih belum mengerti apa maksud Agatha datang ke sini dan maksud perkataannya barusan. Kedua matanya menyipit, menunggu apa yang kira-kira akan dikatakan oleh Agatha.


"Mau memperingatkan apa kamu? Jangan kamu pikir, aku takut ya sama kamu. Kamu saja dulu tidak bisa mempertahankan rumah tanggamu dan kehilangan suamimu. Lalu apa yang bisa kamu perbuat sekarang? Kamu itu telah di cap sebagai pembunuh" Merlin balik menyolot kepada Agatha.


Walau rasa sakit itu sekarang lebih banyak tergantikan oleh perasaan benci dan ingin membalas dendam.


"Aku peringatkan ke kamu ya perempuan tidak bermoral, aku tidak akan tinggal diam setelah apa yang sudah kamu perbuat kepadaku dulu. Karena kamu, aku jadi dipenjara selama sepuluh tahun. Jadi, aku akan pastikan kalau kamu akan menerima balasannya. Kau akan membayarnya!"


Agatha menarik napas dalam sebelum melanjutkan ucapannya, "Aku telah mengantungi bukti jika tuduhan yang kau berikan padaku adalah suatu kebohongan. Kau harus membayar lebih dari yang aku terima. Tunggu saatnya!"


Agatha balik menunjuk-nunjuk wajah Merlin saat dia mengatakan semuanya. Usai memperingatkan Merlin, Agatha langsung pergi dari sana tanpa menghiraukan apa pun lagi.


Agatha pulang tanpa mampir ke mana-mana. Ada sedikit perasaan lega dalam hatinya usai mengatakan apa yang ingin dia katakan selama bertahun-tahun ini kepada Merlin.


Perempuan itu sudah sampai rumah lagi, dan setibanya di rumah Agatha melihat putranya sedang bermain gim di ponselnya. Gilang menolehkan wajahnya ke arah Agatha, "Loh, Ibu sudah pulang lagi? Mana belanjaannya?" tanya Gilang karena dia mengira Agatha pergi belanja.

__ADS_1


Agatha tidak menjawab, dia hanya duduk di sofa bersama Gilang. Saat mengetahui ada sedikit perubahan di raut wajah ibunya, Gilang jadi takut kalau terjadi apa-apa kepada Agatha.


"Ibu kenapa?" tanya Gilang usai menyudahi main gimnya dan meletakkan ponselnya ke atas meja. Gilang akan sepenuhnya mendengarkan Agatha.


Agatha menatap putranya dalam-dalam, "Ibu ingin balas dendam kepada mereka, Gilang," ucapnya.


Meski Agatha tidak mengatakan kepada siapa ibunya akan membalas dendam, tapi Gilang tahu siapa yang sedang dimaksud ibunya. Gilang mencoba berpikir sebentar sebelum memberi tanggapan atas apa yang dikatakan Agatha.


"Ibu ingin membalaskan rasa sakit hati Ibu atas kejadian masa lalu karena mereka," kata Agatha lagi.


"Ibu habis menemui mereka?" tanya Gilang.


"Lebih tepatnya lagi, Ibu menemui perempuan itu dan Ibu sudah memberi dia peringatan kalau Ibu akan balas dendam ke mereka." Agatha menjelaskan ke mana perginya dia barusan.


Gilang mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia mengerti apa yang dirasakan oleh ibunya, rasa sakit hati itu tidak mudah hilang termakan waktu.


Meski sudah bertahun-tahun berlalu, tapi sesak itu masih saja tersisa dalam dada mereka. Apalagi kalau Agatha ingat, dia melahirkan di dalam penjara karena dipenjarakan oleh mantan suaminya sendiri, rasa sakit itu berubah jadi semakin menggebu-gebu.


"Aku juga merasa sakit hati karena mereka, Bu. Maka dari itu, aku setuju sama usul Ibu untuk balas dendam ke mereka. Aku akan membantu Ibu sebisaku dan semampuku."


Gilang setuju, dia menggenggam tangan Agatha untuk meyakinkan ibunya bahwa mereka akan melakukannya bersama-sama. Agatha memeluk putranya, dia mengusap belakang kepala Gilang. Agatha merasa sedikit bersalah karena sudah membuat Gilang tumbuh tanpa seorang ayah.


Namun, Agatha juga berpikir bahwa itu mungkin memang jalan terbaik bagi mereka. Agatha tidak bisa menduga, apa yang akan terjadi kepada Gilang kalau dulu dia memberi tahu Gerald atas kehamilannya.


...****************...


Selamat siang semuanya. Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini.

__ADS_1



__ADS_2