DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG

DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG
Bab 44. Kebebasan Gerald


__ADS_3

Tiga tahun kemudian.


Saat ini Gilang telah mulai remaja. Kecerdasan anak itu tidak usah diragukan lagi. Tahun ini dia akan memasuki Sekolah Menengah Pertama.


Adik perempuan Gilang juga sedang lucunya. Bocah cilik itu telah masuk sekolah taman bermain. Wajahnya cantik, perpaduan Bima dan Agatha. Gilang sangat menyayangi adiknya itu.


Sama halnya Gilang, adiknya yang diberi nama Aurell juga tidak kalah pintar dari sang kakak. Di usia yang belum genap tiga tahun, bocah cilik itu telah bisa membaca dan berhitung.


Kegiatan rutin mereka di pagi hari yang tidak boleh terlewati adalah sarapan bersama. Begitu juga dengan hari ini. Semua sedang berkumpul di meja makan.


"Ayah, apa benar besok Papa Gerald telah bebas dari hukumannya?" tanya Gilang.


Bima memandangi Gilang dengan tersenyum. Dia memang sering becandai anak sambungnya itu. Membuat Gilang uringan, adalah kesukaannya.


"Ayah, siapa Papa Gerald?" tanya Aurell dengan cadel khas anak kecil.


Agatha tersenyum dengan putri kecilnya itu. Sang bidadari selalu saja ingin tahu apa yang menjadi omongan dari orang sekitarnya.


"Papa Gerald itu Papanya Bang Gilang," ujar Agatha menjelaskan.

__ADS_1


"Bukankah ayah adalah Papanya Bang Gilang?" tanya Aurel lagi.


"Bang Gilang itu istimewa. Memiliki dua ayah."


"Aku juga mau memiliki ayah dua," ucap Aurell dengan bibir manyunnya.


Bima, Agatha dan Gilang serempak memandangi wajah Gilang. Mereka saling pandang mendengar ucapannya Aurell.


Gilang yang duduk di samping Aurell memegang tangan adiknya itu. Menarik napas dan tersenyum simpul.


"Adik juga bisa memanggil Papa Gerald seperti abang. Adik juga bisa menganggap Papa Gerald sebagai Papa. Jadi kita berdua memiliki dua ayah," ucap Gilang.


"Tentu saja boleh, Dik!"


Agatha tersenyum mendengar ucapan Gilang. Bahagia karena putranya telah mulai dekat dengan Papa kandungnya. Agatha sudah benar ikhlas menerima semua yang terjadi dengannya.


Wanita itu sudah tahu kepribadian Gerald yang sebenarnya. Teringat saat mereka masih berstatus suami istri. Gerald tidak pernah juga kasar dengan Agatha.


"Yah, kalau memang Papa bebas besok, boleh aku menjemputnya?" tanya Gilang.

__ADS_1


"Tentu saja boleh. Besok kita jemput bersama," ucap Bima.


Gilang langsung memeluk Bima dan mengecup kedua pipi ayah sambungnya itu. Gilang bersyukur memiliki ayah sambung sebaik pria itu.


***


Sore hari, Gilang yang duduk di kursi depan mobil bersama Bima tampak berseri wajahnya. Dia bahagia akhirnya Papanya bisa menghirup udara bebas.


Sejak Gerald masuk penjara, hubungannya dengan Gerald semakin membaik. Melihat kesungguhan hati Gerald yang ingin menebus semua kesalahan yang pernah dia lakukan, membuat hati Gilang luluh dan mulai melupakan dendamnya pada sang Papa.


Setengah jam perjalanan sampailah mereka berdua di rumah tahanan itu. Gilang tampak gugup ketika turun dari mobil. Usia Gilang yang baru menginjak 11 tahun tapi tingginya melebihi teman seusianya yang lain.


Gilang memeluk lengan Bima saat berjalan masuk ke rumah tahanan. Ayah sambungnya itu membawa remaja pria itu menuju satu ruangan. Saat dalam ruangan itu Gilang melihat Gerald yang sedang bersujud mengucapkan syukur.


"Papa ...," panggil Gilang. Air mata tampak menganak sungai dipelupuk matanya. Dia terharu melihat Papa kandungnya itu yang telah jauh berubah.


"Gilang ...," panggil Gerald dan berlari menghampiri putranya.


Gerald tidak mengira jika dia bisa bebas secepat ini. Pria itu ingin menghabiskan waktu bersama Gilang putranya. Dia ingin mengajak Gilang berlibur. Jika saja Agatha belum menikah, pasti dia akan mengajak Agatha sekalian.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2